ADVERTISEMENT
google.com, pub-9566902757249236, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ndambu Masih Terus Dipertahankan Masyarakat Kimaam

PAPUA, WARTA NUSANTARA–  Kepala Kampung Kiworo, Eliandar Emanuel Kanangku mengungkapkan, Ndambu bagi masyarakat di Pulau Kimaam yang meliputi Distrik Kimaam dan Distrik Waan adalah  motivasi atau dorongan bagi setiap orang membuka lahan untuk bekerja menanam umbi-umbian, pisang, kelapa, wati dan lain-lain.

“Memang  Ndambu bagi masyarakat setempat merupakan budaya yang terus dijaga serta dipelihara. Karena merupakan warisan nenek moyang,” ungkap Eliandar, kemarin.

Kegiatan Ndambu, menurutnya, dapat dilakukan ketika ada persoalan dilakukan. “Misalnya saja, saya sudah memiliki isteri, tetapi pergi ganggu isteri orang lain. Ini kan sudah masalah besar dan nantinya keluarga korban, mendambu kami setelah dilakukan pembicaraan,” ujarnya.

google.com, pub-9566902757249236, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Untuk pelaksanaan Ndambu, menurutnya, tidak langsung dilaksanakan. Tetapi diberikan waktu hingga satu tahun. Selama setahun itu, pelaku yang mengganggu isteri orang, diberikan kesempatan menanam sejumlah hasil alam mulai dari kumbili, ubi jalar, kelapa, tebu, pisang, wati dan lain-lain.

“Jadi bersama keluarga besarnya, membuka lahan dan menanam sejumlah potensi alam yang telah disepakati. Jika mereka sudah panen dan hasil mencukupi, akan menyampaikan ke keluarga korban untuk dilakukan Ndambu bersama,” ujarnya.

RelatedPosts

Biasanya, lanjut dia, Ndambu dilakukan di lapangan terbuka. Dimana kedua belah pihak dihadirkan. Selanjutnya hasil alam yang dikumpulkan diperlihatkan. Lalu persoalan sesungguhnya dibicarakan dan diselesaikan. Selanjutnya hasil yang dibawa pelaku, diserahkan semua kepada keluarga korban untuk dibawa pulang ke rumah sekaligus dibagi-bagi.

Salah seorang warga Kampung Woner, Distrik Kimaam, Kornelis Kaduka mengaku pelaksanaan  Ndambu kapan saja dilakukan. Tidak bisa dipastikan  setahun berapa kali berjalan. Intinya adalah ketika ada persoalan, Ndambu akan dilangsungkan.

“Memang ini adalah tradisi masyarakat di Pulau Kimaam yang terus dijaga dan dipertahankan dari waktu ke waktu,” ungkapnya. (WN-kobun)

Related Posts

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *