ADVERTISEMENT

Kotbah Bulan Kitab Suci Nasional 2021 : “Kuatkanlah Hati, Janganlah Takut! “

Bacaan: Yes.35:4-7a; Yak.2:1-5; Mrk. 7:31-37

Oleh : Germanus S. Atawuwur

Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero

google.com, pub-8821474514474742, DIRECT, f08c47fec0942fa0

WARTA-NUSANTARA.COM-Bapa, ibu, saudara, saudari, bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional. Bertepatan dengan Minggu Biasa ke-23 hari ini, Gereja Katolik Indonesia merayakan BKSN dengan tema:” YESUS TEMAN SEPERJALANAN KITA.” Tema ini merupakan tema khusus di tengah pandemi corona virus. Refleksi para uskup seindonesia mengatakan bahwa pandemi Covid-19 bukanlah bencana kesehatan semata, sebab telah melahirkan krisis di hampir semua bidang kehidupan. Berbagai aktivitas masyarakat lumpuh karenanya, baik aktivitas ekonomi, sosial, budaya, maupun keagamaan. Sementara itu, korban jiwa dari hari ke hari terus berjatuhan, dan bisa jadi tetangga, sahabat, saudara, bahkan keluarga kita sendiri termasuk di antara mereka. Benar-benar sekarang ini kita hidup di tengah situasi yang mengguncangkan dan penuh dengan ketidakpastian. Dalam kesulitan seperti inilah, iman kita akan gampang terguncang.

Sejalan dengan situasi pandemi yang dapat saja menguji kwalitas iman kita, saya teringat sajak JEJAK-JEJAK KAKI KRISTUS, yang ditulis oleh Margareth Fishback. Sajak itu dalam bahasa Inggris berjudul:” Footprints,” lalu diindonesiakan menjadi:” Jejak-Jejak Kaki.”

RelatedPosts

“Suatu malam aku bermimpi,
Aku berjalan di tepi pantai dengan Tuhan,
Di bentangan langit gelap, tampak kilasan-kilasan adegan hidupku.
Di tiap adegan, aku melihat dua pasang kaki di pasir
Satu pasang jejak kakiku, yang lain jejak kaki Tuhan.
Ketika adegan terakhir terlintas di depanku,
Aku menengok kembali jejak kaki di pasir.
Di situ hanya ada satu pasang jejak.
Aku mengingat kembali bahwa itu
adalah bagian yang tersulit
dan paling menyedihkan dalam hidupku.
Hal ini mengganggu perasaanku
maka aku bertanya kepada Tuhan:
“Tuhan, Engkau berkata ketika aku
berketetapan mengikuti Engkau,
Engkau akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan.
Namun, ternyata pada masa yang paling sulit dalam hidupku
hanya ada satu pasang jejak.
Aku tidak mengerti mengapa justru
pada saat aku sangat membutuhkan Engkau,
Engkau meninggalkan aku?”
Tuhan berbisik:” Anakku yang Kukasihi,
Aku mencintai kamu
pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun.
Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak,
itu adalah ketika Aku menggendong kamu.”

Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, pandemi yang muncul pada tahun 2019 melahirkan kekacauan, ketakutan, kecemasan, depresi,frustrasi, kebingungan, dan sebagainya. Kehidupan sebelum pandemi yang ditandai dengan aktivitas yang dinamis dan menggairahkan, sekarang menjadi lesu dan tidak menentu. Tidak sedikit orang yang terpaksa beralih pekerjaan karena tempat mereka bekerja sebelumnya ditutup atau karena terkena PHK. Sebagian orang bahkan terpaksa harus menganggur. Apakah nanti setelah pandemi, pekerjaan yang lama dapat kembali? Ataukah mereka akan langsung memperoleh pekerjaan baru? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin belum sempat terpikirkan, sebab untuk sekarang, yang terpenting adalah bertahan hidup di tengah pandemi ini.

Ketika kita menghadapi situasi ini kita mungkin ingat kembali kata-kata Margaretha Fishback dalam saja tadi:” Tuhan, Engkau berkata ketika aku berketetapan mengikuti Engkau, Engkau akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan.Namun, ternyata pada masa yang paling sulit dalam hidupku hanya ada satu pasang jejak. Aku tidak mengerti mengapa justru pada saat aku sangat membutuhkan Engkau,Engkau meninggalkan aku?”

Tuhan tidak meninggalkan kita dengan alasan apapun. Karena itu Dia berbisik:” Anakku yang Kukasihi, Aku mencintai kamu pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun.Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak, itu adalah ketika Aku menggendong kamu.”
Ternyata Tuhan tidak meninggalkan kita sedetikpun dari kehidupan kita. Pada saat sulit dan penuh bahayapun Dia ada. Bahkan Dia menggendong kita, tatkala kita sudah tak berdaya lagi.

Tuhan selalu hadir dalam kehidupan kita, sebagaimana Dia hadir bersama seorang yang tuli dan yang gagap dalam pemberitaan injil hari ini. Ia menyembuhkan orang itu. Setelah menyaksikan penyembuhan itu orang banyak menjadi takjub dan tercengang, lalu berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Situasi kita di tengah pandemi yang belum berakhir ini, ibarat orang tuli dan gagap tadi. Dia sedang berada dalam situasi abnormal yang seolah memenjarakannya. Dan dia butuh penyembuhan. Demikian pun kita. Kita masih terpenjara dalam wabah covid yang berkepanjangan. Kita butuh pembebasan dari Sang Pembebas Sejati. Karena itu kita harus memiliki iman yang kokoh kuat bahwa Yesus tidak meninggalkan kita. Yesus selalu datang menjumpai kita untuk membebaskan kita. Dia bahkan telah menjadi sahabat seperjalanan kita. Kita sedang satu jalan dengan Yesus. Yesus di samping kita, kita di samping Yesus. Karena Dia sedang menemani kita dalam perjalanan kita, termasuk perjalanan di tengah prahara covid-19 ini maka tidak ada alasan untuk kita putus asa. Dia pun telah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi mereka yang kehilangan dan yang menderita.

Karena itu kita yakini kata-kata nabi Yesaya dalam bacaan I:” Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang . Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk putus asa.

Saudara-saudaraku, walau situasi tetap tak nyaman, kita harus tetap berjalan.Namun kita tidak sekedar jalan-jalan. Kita berjalan sambil berbuat baik, sebagaimana yang dicontohkan oleh Yesus dalam injil tadi. Tatkala orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap, Yesus kemudian melakukan sejumlah perbuatan baik: Ia memisahkan orang tuli dan gagap itu dari orang banyak, kemudian memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Sejumlah perbuatan baik inilah yang dilakukan Yesus kepada orang tuli dan gagap itu pada akhirnya menyembuhkan dan membebaskan dia dari belenggu itu.

Jadi perjalanan kita, adalah perjalanan dengan tujuan menyelamatkan dan membebaskan orang lain dari prahara hidupnya. Tujuan yang sejalan dengan kata-kata santu Yakobus dalam bacaan II:” Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai
perbuatan ? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? “
Jadi menurut Yakobus, iman itu baru bisa menyelamatkan kita apabila iman itu dinyatakan dalam perbuatan. Perbuatan yang dilakukan oleh kita adalah hanya perbuatan-perbuatan baik. Bukan perbuatan-perbuatan jahat. Karena hanya perbuatan baik sajalah yang menghantar kita kepada keselamatan jiwa dan badan.


Maka dari itu saudara-saudariku, berkiblat pada sosok Yesus maka misi gereja dewasa ini adalah melayani semua orang melampaui batas-batas status sosial dan suku bangsa. Misi Yesus untuk menegakkan keadilan, pembebasan, dan penyelamatan bagi orang yang miskin, menderita, dan tertindas adalah misi kita juga sebagai pengikut-Nya. Yesus menghendaki para pengikut-Nya agar bersatu untuk membawa kabar baik Kerajaan Allah dan memperhatikan orang yang membutuhkan. Sebagaimana Yesus adalah sahabat bagi orang miskin dan tertindas, demikian pula kita diajak dan ditantang untuk menjadi sahabat bagi mereka yang miskin, yang membutuhkan, dan yang menderita, khususnya mereka yang menderita karena pandemi Covid-19. Bila kita telah laksanakan misi tersebut maka kata-kata nabi Yesaya telah terpenuhi :” Kuatkanlah hati, Lihatlah, Allahmu datang. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”Kotbah Bulan Kitab Suci Nasional 2021

“Kuatkanlah Hati, Janganlah Takut! “
Bacaan: Yes.35:4-7a; Yak.2:1-5; Mrk. 7:31-37

Bapa, ibu, saudara, saudari, bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional. Bertepatan dengan Minggu Biasa ke-23 hari ini, Gereja Katolik Indonesia merayakan BKSN dengan tema:” YESUS TEMAN SEPERJALANAN KITA.” Tema ini merupakan tema khusus di tengah pandemi. Refleksi para uskup seindonesia mengatakan bahwa pandemi Covid-19 bukanlah bencana kesehatan semata, sebab telah melahirkan krisis di hampir semua bidang kehidupan. Berbagai aktivitas masyarakat lumpuh karenanya, baik aktivitas ekonomi, sosial, budaya, maupun keagamaan. Sementara itu, korban jiwa dari hari ke hari terus berjatuhan, dan bisa jadi tetangga, sahabat, saudara, bahkan keluarga kita sendiri termasuk di antara mereka. Benar-benar sekarang ini kita hidup di tengah situasi yang mengguncangkan dan penuh dengan ketidakpastian. Dalam kesulitan seperti inilah, iman kita akan gampang terguncang.

Sejalan dengan situasi pandemi yang dapat saja menguji kwalitas iman kita, saya teringat sajak JEJAK-JEJAK KAKI KRISTUS, yang ditulis oleh Margareth Fishback. Sajak itu dalam bahasa Inggris berjudul:” Footprints,” lalu diindonesiakan menjadi:” Jejak-Jejak Kaki.”

“Suatu malam aku bermimpi,
Aku berjalan di tepi pantai dengan Tuhan,
Di bentangan langit gelap, tampak kilasan-kilasan adegan hidupku.
Di tiap adegan, aku melihat dua pasang kaki di pasir
Satu pasang jejak kakiku, yang lain jejak kaki Tuhan.
Ketika adegan terakhir terlintas di depanku,
Aku menengok kembali jejak kaki di pasir.
Di situ hanya ada satu pasang jejak.
Aku mengingat kembali bahwa itu
adalah bagian yang tersulit
dan paling menyedihkan dalam hidupku.
Hal ini mengganggu perasaanku
maka aku bertanya kepada Tuhan:
“Tuhan, Engkau berkata ketika aku
berketetapan mengikuti Engkau,
Engkau akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan.
Namun, ternyata pada masa yang paling sulit dalam hidupku
hanya ada satu pasang jejak.
Aku tidak mengerti mengapa justru
pada saat aku sangat membutuhkan Engkau,
Engkau meninggalkan aku?”
Tuhan berbisik:” Anakku yang Kukasihi,
Aku mencintai kamu
pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun.
Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak,
itu adalah ketika Aku menggendong kamu.”

Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, pandemi yang muncul pada tahun 2019 melahirkan kekacauan, ketakutan, kecemasan, depresi,frustrasi, kebingungan, dan sebagainya. Kehidupan sebelum pandemi yang ditandai dengan aktivitas yang dinamis dan menggairahkan, sekarang menjadi lesu dan tidak menentu. Tidak sedikit orang yang terpaksa beralih pekerjaan karena tempat mereka bekerja sebelumnya ditutup atau karena terkena PHK. Sebagian orang bahkan terpaksa harus menganggur. Apakah nanti setelah pandemi, pekerjaan yang lama dapat kembali? Ataukah mereka akan langsung memperoleh pekerjaan baru? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin belum sempat terpikirkan, sebab untuk sekarang, yang terpenting adalah bertahan hidup di tengah pandemi ini.

Ketika kita menghadapi situasi ini kita mungkin ingat kembali kata-kata Margaretha Fishback dalam saja tadi:” Tuhan, Engkau berkata ketika aku berketetapan mengikuti Engkau, Engkau akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan.Namun, ternyata pada masa yang paling sulit dalam hidupku hanya ada satu pasang jejak. Aku tidak mengerti mengapa justru pada saat aku sangat membutuhkan Engkau,Engkau meninggalkan aku?”

Tuhan tidak meninggalkan kita dengan alasan apapun. Karena itu Dia berbisik:” Anakku yang Kukasihi, Aku mencintai kamu pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun.Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak, itu adalah ketika Aku menggendong kamu.”
Ternyata Tuhan tidak meninggalkan kita sedetikpun dari kehidupan kita. Pada saat sulit dan penuh bahayapun Dia ada. Bahkan Dia menggendong kita, tatkala kita sudah tak berdaya lagi.

Tuhan selalu hadir dalam kehidupan kita, sebagaimana Dia hadir bersama seorang yang tuli dan yang gagap dalam pemberitaan injil hari ini. Ia menyembuhkan orang itu. Setelah menyaksikan penyembuhan itu orang banyak menjadi takjub dan tercengang, lalu berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Situasi kita di tengah pandemi yang belum berakhir ini, ibarat orang tuli dan gagap tadi. Dia sedang berada dalam situasi abnormal yang seolah memenjarakannya. Dan dia butuh penyembuhan. Demikian pun kita. Kita masih terpenjara dalam wabah covid yang berkepanjangan. Kita butuh pembebasan dari Sang Pembebas Sejati. Karena itu kita harus memiliki iman yang kokoh kuat bahwa Yesus tidak meninggalkan kita. Yesus selalu datang menjumpai kita untuk membebaskan kita. Dia bahkan telah menjadi sahabat seperjalanan kita. Kita sedang satu jalan dengan Yesus. Yesus di samping kita, kita di samping Yesus. Karena Dia sedang menemani kita dalam perjalanan kita, termasuk perjalanan di tengah prahara covid-19 ini maka tidak ada alasan untuk kita putus asa. Dia pun telah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi mereka yang kehilangan dan yang menderita.

Karena itu kita yakini kata-kata nabi Yesaya dalam bacaan I:” Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang . Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk putus asa.

Saudara-saudaraku, walau situasi tetap tak nyaman, kita harus tetap berjalan.Namun kita tidak sekedar jalan-jalan. Kita berjalan sambil berbuat baik, sebagaimana yang dicontohkan oleh Yesus dalam injil tadi. Tatkala orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap, Yesus kemudian melakukan sejumlah perbuatan baik: Ia memisahkan orang tuli dan gagap itu dari orang banyak, kemudian memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Sejumlah perbuatan baik inilah yang dilakukan Yesus kepada orang tuli dan gagap itu pada akhirnya menyembuhkan dan membebaskan dia dari belenggu itu.

Jadi perjalanan kita, adalah perjalanan dengan tujuan menyelamatkan dan membebaskan orang lain dari prahara hidupnya. Tujuan yang sejalan dengan kata-kata santu Yakobus dalam bacaan II:” Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai
perbuatan ? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? “
Jadi menurut Yakobus, iman itu baru bisa menyelamatkan kita apabila iman itu dinyatakan dalam perbuatan. Perbuatan yang dilakukan oleh kita adalah hanya perbuatan-perbuatan baik. Bukan perbuatan-perbuatan jahat. Karena hanya perbuatan baik sajalah yang menghantar kita kepada keselamatan jiwa dan badan.


Maka dari itu saudara-saudariku, berkiblat pada sosok Yesus maka misi gereja dewasa ini adalah melayani semua orang melampaui batas-batas status sosial dan suku bangsa. Misi Yesus untuk menegakkan keadilan, pembebasan, dan penyelamatan bagi orang yang miskin, menderita, dan tertindas adalah misi kita juga sebagai pengikut-Nya. Yesus menghendaki para pengikut-Nya agar bersatu untuk membawa kabar baik Kerajaan Allah dan memperhatikan orang yang membutuhkan. Sebagaimana Yesus adalah sahabat bagi orang miskin dan tertindas, demikian pula kita diajak dan ditantang untuk menjadi sahabat bagi mereka yang miskin, yang membutuhkan, dan yang menderita, khususnya mereka yang menderita karena pandemi Covid-19. Bila kita telah laksanakan misi tersebut maka kata-kata nabi Yesaya telah terpenuhi :” Kuatkanlah hati, Lihatlah, Allahmu datang. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

Related Posts

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *