ADVERTISEMENT

Kotbah Hari Raya Perawan Maria Berdukacita : “IBU, INILAH ANAKMU!”

Bacaan I. Ibr.5:7-9; Injil 3:13-17

Oleh : Germanus S. Ayawuwur

Alumnus STFK Ledalero

google.com, pub-8821474514474742, DIRECT, f08c47fec0942fa0

WARTA-NUSANTARA.COM-Saudara-saudaraku, hari ini kita memperingati Pesta Perawan Maria Berdukacita. Pesta ini memiliki “sejarah panjang” sebagai berikut: Pada tahun 1482, peringatan ini secara resmi dimasukkan dalam Misale Romawi dengan gelar “Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan,” (Our Lady of Compassion) dengan menekankan besarnya cinta kasih Bunda Maria yang diperlihatkannya dalam sengsara bersama Putranya. Kemudian pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memasukkan Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan dalam Penanggalan Romawi, yang jatuh pada hari Jumat sebelum Hari Minggu Palma. Peringatan ini kemudian ditiadakan dengan revisi penanggalan yang diterbitkan dalam Misale Romawi tahun 1969.

Tahun 1668, pada masa Paus Pius X, beliau menetapkan tanggal tanggal 15 September sebagai Peringatan Tujuh Duka Santa Perawan Maria (yang sekarang disederhanakan menjadi Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita). Penekanan utamanya di sini adalah Bunda Maria yang berdiri dengan setia di kaki salib di mana Putranya meregang nyawa; seperti yang disampaikan Injil St. Yohanes hari ini: “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: Ibu, inilah, anakmu!' Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya:Inilah ibumu!’” (Yoh.19:26-27).

RelatedPosts

Gelar “Bunda Dukacita” diberikan kepada Bunda Maria dengan mengacu padaTujuh Dukacita Bunda Maria yang meliputi: Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan. Secara keseluruhan, nubuat Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus jiwa Bunda Maria digenapi dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, Bunda Maria terkadang dilukiskan dengan hatinya terbuka dengan tujuh pedang menembusinya.

Saudara-saudara, selain refleksi Mariologi Bapa-Bapa Gereja di atas, Konsili Vatikan Kedua dalam Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja pun melakukan refleksi kolektifnya sebagai berikut: “…ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya(#58).”

Hal yang sama ditekankan oleh Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, yang memiliki Devosi khusus kepada Maria. Pada tahun 1980 Sri Paus mengingatkan umat beriman, “Bunda Maria yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang mengalami berbagai penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa umat manusia. Ia memahami segala sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. ‘Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah pedang.’

Bunda Maria adalah Bunda Rohani kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami anak-anaknya serta menghibur dalam penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari Yesus yang tergantung di Salib, untuk mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya, Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!”

Saudara-saudari, putra-putri Maria yang terkasih,
Berkenaan dengan Perayaan Suci hari ini, kita mendengar bacaan-bacaan suci yang berkisah tentang penderitaan Yesus. Dalam bacaan I kita mendengar kesaksian penulis tentang Yesus Penyelamat :” Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya.Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.”

Penderitaan Yesus sebagai Pokok Keselamatan yang abadi bagi semua orang mencapai klimaksnya pada kayu salib, hal mana digambarkan oleh Yohanes dalam bacaan injil:” Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Penginjil secara eksplisit menyampaikan kepada kita pada hari ini bahwa Maria hadir begitu dekat dalam penderitaan Putranya. Maria berdiri di bawah kaki salib Yesus. Bahkan Bunda Maria memapah dan memangku jenasah Putra-nya sebelum dibawa ke makam sebagaimana kita lihat dalam Patung Pieta. Ini merupakan momen penting dalam kehidupan Bunda Maria, yang dikenal sebagai Tujuh Kesedihan Maria (Seven Sorrows of Mary) – yang menjadi subyek doa-doa devosional orang katolik.

Saudara-saudaraku terkasih,
Hari ini, dalam lilitan panjang corona virus yang masih mewabah, kita merayakan Pesta Perawan Maria Berdukacita. Maria yang berdukacita itu tentu tidak tinggal diam terhadap penderitaan kita ini. Dia akan menjadikan dirinya sebagai sahabat seperjalanan kita. Karena itu marilah kita serahkan seluruh perjalanan hidup kita kepada bunda, dengan mengulangi kata-kata putranya sendiri:” Ibu, inilah kami anak (anak)mu!”

Related Posts

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *