Yl. 2:12-18; 2Kor. 5:20 – 6:2; Mat. 6:1-6,16-18.
Oleh Germanus S. Atawuwur, Alumnus STFK Ledalero
WARTA-NUSANTARA.COM-Saudara-saudariku yang terkasih, hari ini kita memasuki Hari Rabu Abu. Rabu Abu memiliki tradisi sebagaimana dikutip dari berbagai sumber. Saya menceritakan sedikit Tradisi Rabu Abu – Masa Puasa, sebagai ilustrasi dari permenungan kita hari ini.
Bahwa bukti adanya tradisi mempersiapkan Paskah ditemukan pada sekitar abad ke-3 M. Dalam suratnya kepada Paus Viktor I, St. Ireneus tidak hanya bercerita tentang perbedaan waktu perayaan Paskah, tetapi juga adanya praktik puasa di tengah umat, “Beberapa umat berpikir bahwa mereka harus berpuasa selama satu hari, yang lain selama dua hari, bahkan yang lain selama beberapa hari, sementara yang lain berpuasa selama 40 jam sepanjang siang dan malam.
Berbagai praktik ini tidak berasal pada masa kita, tetapi jauh lebih awal, yaitu masa bapa pendahulu kita [para rasul]”. Rufinus, yang menerjemahkan surat ini ke dalam Bahasa Latin, memberikan tanda baca antara “40” dan “jam” sehingga membuat arti baru, yaitu puasa selama “40 hari, 24 jam sehari”.
Praktik berpuasa selama 40 hari untuk menyambut Paskah baru ditetapkan dalam Konsili Nikea (325) dan Konsili Laodikia (360). Praktik puasa ini dinamakan tessarakoste (Bhs. Yunani) atau quadragesima (Bhs. Latin) yang berarti “40 hari” dan menjadi asal kata “Prapaskah”. Angka “40” sendiri memiliki makna biblis. Nabi Musa berpuasa selama 40 hari dan 40 malam sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai (Kel 34:28). Nabi Elia berjalan selama 40 hari dan 40 malam menuju Gunung Horeb (1 Raj 19:8). Lalu, Tuhan Yesus berpuasa dan berdoa selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun sebelum memulai pelayanannya (Mat 4:2).
Selain tradisi puasa dan pantang, Masa Prapaskah juga ditandai dengan penerimaan abu pada dahi saat Rabu Abu. Abu tersebut berasal dari pembakaran daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma sebelumnya. Penerimaan abu, yang melambangkan ketidak-abadian dan pertobatan, berasal dari tradisi Perjanjian Lama.
“Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu” (Dan 9:3, bdk. Est 4:1, Ayb 42:6, Yun 3:5-6).
Sedangkan praktik pemberian abu dalam Gereja Katolik dimulai oleh seorang imam Anglo-Saxon (Inggris) bernama Aelfric kepada umatnya pada tahun 1000. Lalu, tradisi ini ditetapkan secara universal dalam Gereja pada Sinode Beneventum (1091).
Saudara-saudaraku, berkenaan dengan Masa Puasa, dalam homili Rabu Abu tahun 2019, Paus Fransiskus berpesan, “Doa menyatukan kita dengan Allah; amal kasih, menyatukan kita dengan sesama; puasa, menyatukan kita dengan hati kita yang terdalam”.
Pesan Sri Paus sejalan dengan bacaan injil suci yang kita dengar hari ini. Mateus mengingatkan:” Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.
Selain itu, tentang kewajiban melaksanakan ibadah, Mateus mengingatkan:” Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.”
Terakhir, tentang berpuasa, Mateus menasehati:” Dan apabila kamu berpuasa , janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa.”
Tiga kewajiban ini harus dijalankan dengan sepenuh hati. Tidak boleh menjalankannya seperti orang munafik, yang melakukan kewajiban keagamaannya itu untuk mendapatkan hormat, puji-pujian dan kemuliaan dari manusia. Bila menunaikan kewajiban agama secara munafik maka Yesus sudah katakan:” Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”
Tetapi, apabila kewajiban keagamaan itu dilaksanakan dalam kesunyian mendalam, tiada warta dan pengumuman, tiada mata yang melihatnya, tiada pula mulut yang membicarakan semua itu, maka Tuhan sudah kasih janji:” Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. “
Saudara-saudaraku yang terkasih, pertanyaannya adalah, apa yang akan dibalaskan Tuhan tatkala kita melakukan kewajiban keagamaan itu secara benar dan sungguh hati?
Terhadap pertanyaan ini, santu Paulus menjawabnya:” Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. ” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Jadi, yang dibalaskan Tuhan kepada kita adalah perkenaan-Nya. Tuhan akan mendengarkan kita. Tuhan berkenan untuk menolong kita. Dan pada akhirnya, Tuhan berkenan menyelamatkan kita. Perkenaan Tuhan adalah saat Tuhan menyelamatkan kita. Ia menyelelamatkan kita tidak saja oleh karena perbuatan-perbuatan baik kita: doa, amal dan puasa, tetapi juga oleh karena perkenaan-Nya. Karena perkenaan-Nya-lah kita diselamatkan. Keselamatan itu tidak lain adalah berbalik kepada Tuhan, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”
Saudara-saudariku, memasuki masa puasa, yang ditandai dengan penerimaan abu ini, kita langsung dihadapkan dengan nasehat Mateus untuk melaksanakan tiga kewajiban agama: Beramal, Berdoa dan Berpuasa. Kewajiban ini sebagai satu-kesatuan yang tiada terpisahkan; ibarat tiga batu tungku. Tidak boleh ada yang dilaksanakan sementara yang lainnya diabaikan. Harus dilaksanakan secara seimbang. Bila pada masa puasa ini kita laksanakan kewajiban keagamaan itu secara seimbang dan sungguh-sungguh maka terpenuhilah apa yang dikatakan oleh nabi Yoel, kita telah mendapatkan apa yang disebut:” Puasa yang Kudus.”
Puasa yang kudus, doa yang ikhlas dan bersedekah tanpa pamrih tertentu, adalah jalan menuju penyucian hati, tetapi sekaligus juga sebagai model pengudusan diri untuk mendapatkan keselamatan.
Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. Karena itu, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu.”