ADVERTISEMENT

Menerobos Jalur Tengah Lembata yang Kaya

Ket Foto : Jembatan Darurat di Sungai Paubokol, Kecamatan Nubatukan

Catatan Jurnalistik : Gerardus D. Tukan

(Episode 2)

google.com, pub-8821474514474742, DIRECT, f08c47fec0942fa0

LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM-Kamis, 29 Desember 2022, dua hari jelang tahun 2022 pamit. Setelah yakni bahwa cuaca akan baik-baik saja, meskipun di kawasan tujuan perjalanan saya tampak  mendung, namun saya tetap tekad untuk jalan menuju kawasan itu. Kawasan jalur tengah Lembata. Begitu yang umum dikenal oleh orang Lembata. Jalur Lewoleba (Pantai Utara) ke Bakalerek, selanjutnya  ke Udak, dan dapat diteruskan  ke Wulandoni di Panta Selatan.

Loader sedang melebarkan badan jalan ke Uruor

Jaur ini pun  merupakan jalur yang belum pernah saya jelajah. Begitu banyak sanak saudara dan kenalan yang bertutur bahwa ‘jalur tengah’ ini jadi alternatif bagi orang-orang yang berangkat dari kota Lewoleba ke kota Wulandoni, atau sebaliknya, karena lebih dekat, namun masih cukup terbelakang. Teringat juga novel ‘Lembata’ tulisan F Rahardi, terbitan tahun 2008 yang menampilkan tokoh Pedro dan Luciola serta berceritera banyak tentang kawasan subur Udak. Berbagai ceritera itu memacu tekad untuk harus melintasi jalur tersebut. Sebagai orang Lembata, rasanya sedang tertinggal karena belum pernah menjelajah salah satu tiang topang ekonomi Lembata itu.

RelatedPosts

            Di ujung jembatan Waikomo sebelah Barat yang tak jauh dari Terminal bus, ada pertigaan. Jika memilih jalur lurus maka akan melewati Belang (desa Watokobu) lalu ke Boto, Puor dan turun ke kota Wulandoni. Jika memilih jalur belok ke kiri, itu ‘jalur tengah’. Saya memilih belok ke kiri karena itu  tujuan perjalanan saya. Sepeda motor saya pacu  menuju desa Bakalerek untuk selanjutnya membelah “Jalur Tengah” itu.            

Jalan menuju desa Bakalerek, diawali dengan kondisi jalan yang bertabur pasir. Bukan jalan aspal atau pengerasan. Sekitar 300 meter kemudian, jalan tanjakan menuju pegunungan dan merupakan jalan aspal. Dimulailah kondisi badan jalan raya yang berselang antara jalan aspal, jalan beton (rabat) dan jalan asli (belum tersentuh aspal maupun beton/rabat). Di kiri kanan jalan, hutan berbalut pohon jati cukup lebat. Memasuki desa Bakalerek, ada juga pohon kemiri, pisang, kelapa dan jambu mete. Lalu, tanaman kemiri sebagai tanaman niaga sumber utama pendapatan warga itu pun memadati hutan belantara desa Bakalerek hingga ke kawasan desa Paubokol. Kedua desa ini berada dalam wilayah kecamatan Nubatukan, kecamatan yang melingkup Kota Lewoleba ibu kota kabupaten Lembata.

Jaringan Listrik di Jalur Tengah

            Di tepi desa Paubokol dan hendak naik ke kawasan pegunungan yang lebih tinggi, ada lembah.  Di lembah itu ada air sungai yang cukup besar, mengalir menuju ke Lewoleba. Sungai itu yang kemudian dibendung di bendungan Urimitem Waikomo untuk menyirami persawahan di Waikomo Kelurahan Lewoleba Barat, Kota Lewoleba. Sungai itu mengalir memotong ruas jalan Paubokol ke arah pegunungan. Tidak ada jembatan permanen. Tampak ada kembatan darurat yang dibuat oleh warga dari bahan kayu, namun tampak tidak layak untuk diseberangi kendaraan roda 4 maupun roda 2. Maka kendaraan memilih menyeberang di sisi jembatan tersebut, langsung pada area yang dangkal  serta tanpa batu besar yang menghalang.. Menurut penuturan warga bahwa jika terjadi banjir maka tidak bisa diseberangi, dan jalur lalulintas itu pun untuk sementara lumpuh. Memang, hanya satu jalur itu saja. Tak jauh dari lokasi jembatan darurat itu, ada tiang beton berukuran besar di tepi kiri dan kanan jalur sungai. Dari bentuknya, kedua tiang itu sebagai penyanggah jembatan jika dibuat menjadi jembatan permanen.

Namun tampak telah ditinggalkan dan berumur sekitar puluhan tahun. Entah mengapa, jembatan itu tidak dibuat hingga digunakan. Dari lembah tersebut, jalan kembali menanjak. Beberapa segmen dibalut jalan rabat. Rupanya itu segmen-segmen kritis. Selebihnya menjadi jalan berbadan asli, alias belum tersentuh aspal maupun rabat. Dan, ukuran lebar jalan pun seukuran satu unit kendaraan roda 4. Ada bagian ruas jalan yang berupa hamparan tanah liat yang licin. Tampak bekas kendaraan bergulat melewati tanjakan atau menurun pada badan jalan yang licin sehingga  muka jalan bagai porak poranda, dan merambat juga pada tepi kiri dan kanan jalan. Pengendara kendaraan berjuang mencari jalur yang aman untuk dapat lolos dari badan jalan kanan jalan, hutan berbalut pohon jati cukup lebat.

Memasuki desa Bakalerek, ada juga pohon kemiri, pisang, kelapa dan jambu mete. Lalu, tanaman kemiri sebagai tanaman niaga sumber utama pendapatan warga itu pun memadati hutan belantara desa Bakalerek hingga ke kawasan desa Paubokol. Kedua desa ini berada dalam wilayah kecamatan Nubatukan, kecamatan yang melingkup Kota Lewoleba ibu kota kabupaten Lembata.

            Di tepi desa Paubokol dan hendak naik ke kawasan pegunungan yang lebih tinggi, ada lembah.  Di lembah itu ada air sungai yang cukup besar, mengalir menuju ke Lewoleba. Sungai itu yang kemudian dibendung di bendungan Urimitem Waikomo untuk menyirami persawahan di Waikomo Kelurahan Lewoleba Barat, Kota Lewoleba. Sungai itu mengalir memotong ruas jalan Paubokol ke arah pegunungan. Tidak ada jembatan permanen.

Tampak ada kembatan darurat yang dibuat oleh warga dari bahan kayu, namun tampak tidak layak untuk diseberangi kendaraan roda 4 maupun roda dua. Maka kendaraan memilih menyeberang di sisi jembatan tersebut, langsung pada area yang dangkal  serta tanpa batu besar yang menghalang.. Menurut penuturan warga bahwa jika terjadi banjir maka tidak bisa diseberangi, dan jalur lalulintas itu pun untuk sementara lumpuh.

Memang, hanya satu jalur itu saja. Tak jauh dari lokasi jembatan darurat itu, ada tiang beton berukuran besar di tepi kiri dan kanan jalur sungai. Dari bentuknya, kedua tiang itu sebagai penyanggah jembatan jika dibuat menjadi jembatan permanen. Namun tampak telah ditinggalkan dan berumur sekitar puluhan tahun. Entah mengapa, jembatan itu tidak dibuat hingga digunakan.             Dari lembah tersebut, jalan kembali menanjak. Beberapa segmen dibalut jalan rabat. Rupanya itu segmen-segmen kritis. Selebihnya menjadi jalan berbadan asli, alias belum tersentuh aspal maupun rabat. Dan, ukuran lebar jalan pun seukuran satu unit kendaraan roda 4.

Ada bagian ruas jalan yang berupa hamparan tanah liat yang licin. Tampak bekas kendaraan bergulat melewati tanjakan atau menurun pada badan jalan yang licin sehingga  muka jalan bagai porak poranda, dan merambat juga pada tepi kiri dan kanan jalan. Pengendara kendaraan berjuang mencari jalur yang aman untuk dapat lolos dari badan jalan yang licin itu. Jika tidak cekatan dan hafal jalur aman maka resikonya adalah ban kendaraan berputar di tempat atau bahkan kendaraan terbalik.

Hutan di kiri dan kanan jalan hingga radius berkilometer ke arah deretan bukit yang lebih rendah hingga lembah-lembah, dipadati tumbuhan kemiri. Juga tampak tiang listrik di sepanjang tepi jalan dengan kabel yang terpasang baik. Program Indonesia Terang (PIT) 2022 pemerintahan Jokowi tampaknya merambat mencari sarang-sarang pemukiman penduduk.

Ruas jalan melewati punggung bukit. Tampak ada kendaraan berat (loader) yang sedang memperlebar ruas jalan. Muncul rasa gembira sebab pemerintah telah menaruh perhatian ke kawasan ini. Operator loader itu sejenak menghentikan giatnya dan memberikan kesempatan untuk saya lewat. Namun, akibat tumpukan tanah liat yang basah dan belum padat maka sepeda motor yang saya kendarai kandas di tengah jalan. Ban belakang motor berputar di tempat. Tidak bisa maju. Mundur pun sulit. Operator loader dengan tangkas meloncat turun dan membantu. Saya pun dapat keluar dari ‘kurungan’ itu dan melanjutkan perjalanan, setelah tak lupa mengucapkan terima kasih dan selamat Natal kepadanya.

Sekitar 2 km dari loader bekerja itu, di puncak punggung perbukitan, ada gapura, pertanda ada kampung yang dimasuki. Di samping kiri ada kompleks pekuburan umum. Itu desa Belobatang. Hawa pegunungan nan sejuk seperti di Puncak Bogor. Gulungan awan sesekali turun ingin membalut kampung itu namun angin  melintas dan menghempas kawanan awan itu. Kampung terang kembali.

Saya parkir kendaraan di tepi jalan karena ingin melihat tanaman kopi dan  rambutan yang sedang berbuah lebat. Namun yang lebih penting dari itu adalah ingin bertanya kepada seorang ibu yang ada di pekarangan rumahnya itu tentang nama lain dari kampung ini. Sebab, nama desa (Belobatang), kurang familiar. Ada nama lain dari kampung tersebut,  yang tentu telah lebih umum dikenal. Saya menyapa ibu itu dan bertanya. Namun sebelum ibu itu menjawab, terdengar suara laki-laki dari dalam rumah itu yang memanggil nama saya. Saya terkejut. Saya pun berjalan memasuki pekarangan rumah itu, menghampiri laki-laki yang memanggil. Ia pun keluar dari rumahnya.

“Oh Mikel. Mikel Manuk”. Saya menyapa tanpa salah.  Kami pun berjabat tangan akrab. Ibu tersebut ternyata adalah istrinya Mikel, seorang guru SD di desa itu. Begitu Mikel memanggil nama saya, ibu itu pun terkejut karena nama saya bukan sesuatu yang asing di kalangan mereka. Suasana akrab pun segera terjalin.

Saya dipersilahkan duduk.  Mikel dan istrinya pun bergantian memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang intinya tentang mengapa saya bisa tiba-tiba muncul di kampung itu. Mikel sedikit nakal mengarahkan pertanyaan ke urusan politik.

“Teman jalan-jalan ini…dalam rangka e…?” Ledek Mikel dalam logat Lembata. Saya pun maklum dengan pertanyaan itu karena memang ini hendak memasuki 2023 dan menuju 2024. Musim politik Pileg, pilkada, pilpres. Orang-orang berhak bertanya demikian, apalagi melihat orang baru yang lalu lalang keluar masuk kampung.

“Yah, jalan-jalan saja dulu, isi waktu liburan dan ingin lihat kampung-kampung yang belum pernah saya sampai”. Jawab saya lurus.  Namun saya secepat mengarahkan pembicaraan ke nostalgia tahun 1980-an, ketika waktu itu kami sama-sama duduk di bangku SD. Saya di SDK Lamatuka di pegunungan kecamatan Lebatukan, sedangkan Mikel di SDK 1 Lewoleba.

Saat itu saya jadi utusan SDK Lamatuka mengikuti lomba bidang studi di SDK 1 Lewoleba. Kami diterima menginap oleh kawan-kawan yang sedang bersekolah di SDK 1 Lewoleba, dan Mikel menerima saya menginap di rumahnya. Kami berkenalan dan berteman  sejak itu, dan saya masih ingat dia. Demikian pun sebaliknya. Lalu, saya pun menohok ke tujuan utama saya berhenti memarkir kendaraan tadi yakni ingin bertanya tentang nama asli kampung itu. “Ini Uror” Jawab istri Mikel. Lalu, begitu banyak ceritera menarik tentang Uror yang dibentangkan. Saya terkesima (Bersambung)Ket

Related Posts

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *