ADVERTISEMENT

Menerobos Jalur Pantasan hingga Pantura Lembata

Ket Foto : Tanjung Batu di Desa Tapobali, tampak petak garam-industri garam

Catatan Jurnalistik : Gerardus D. Tukan

(Episode 2, bagian 3-habis).

google.com, pub-8821474514474742, DIRECT, f08c47fec0942fa0

LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COMPermenungan tentang jalur tengah Lembata yang telah saya jelajah  dan tampak mengandung kekayaan luar biasa, namun tiba-tiba terhenti ketika dikejutkan oleh suara seorang perempuan yang memanggil. Saya menghentikan kendaraan dan menoleh ke arah suara itu. Ia melepas kereta sampah dan tersenyum sambil berjalan menghampiri. Saya bingung. Ia mengulurkan tanganya. Saya masih memperlihatkan tatapan bingung padanya.

Serly Prgan, Mahasiswi Unwira Kupang sedang berlibur memberi arah jalan

“Saya Serli pak, itu hari KKN di Kiwangona”. Ucapnya dengan mantap, tanpa ragu, tanpa canggung, penuh akrab, dan penuh keyakinan bahwa saya adalah orang yang dia sudah kenal baik. Serli, mahasiswi Prodi Matematika FKIP UNWIRA Kupang, yang pada bulan Agustus 2022 silam menjadi salah satu mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNWIRA, dan ditempatkan di desa Kiwangona-Adonara, kabupaten Flores Timur. Serli merupakan salah satu dari 764 mahasiswa UNWIRA yang disebar melakukan KKN di 50 titik dalam 10 wilayah kabupaten se-provinsi NTT, ketika itu. Mereka semua mengenal saya karena saya ketua panitia pelaksanaan KKN itu dan berkeliling mengunjungi mereka. Sebaliknya, saya, tidak dapat mengenal mereka semua.

RelatedPosts

Senang rasanya berjumpa dengan salah satu mahasiswa dari kampus yang sama, yang ternyata orang yang berasal dari satu kabupaten. Serli, setelah mendengar saya menceriterakan petualangan, ia pun menganjurkan agar saya melanjutkan perjalanan mengitari tepi pantai, Usul atau anjuran yang menarik, sebab saya belum pernah melintasi tepi pantai hingga sampai di Lewoleba. Jalur yang sering saya tempuh adalah dari pantai Wulandoni (pantai Selatan) ini lalu ke pegunungan menelawati kampung Puor, lalu Boto, kemudian kembali ke Kota Lewoleba di Pantai Utara. Atas anjuran Serli itu, saya pun pamit dan melanjudkan perjalanan.

Gerardus D. Tukan ceria bersama boca Tapobali, Dusun Walet

Sebelum mengitari kawasan tepi pantai, saya  singgah di sebuah bengkel untuk membasahi rantai sepeda motor dengan oli bekas. Ada dua pemuda di situ membantu saya; Matias Mado dan Edi Resiona. Setelah berceritera sejenak dan akrab, kedua  pemuda ini pun  menganjurkan agar saya menyusur jalur jalan tepi pantai. Saya pun berpamitan dengan mereka.

Beberapa meter dari bengkel itu, saya tercengang dengan hamparan permukaan tanah di dalam kawasan pasar Barter Wulandoni. Ada jejeran lingkaran-lingkaran kecil di permukaan tanah dalam kawasan pasar barter itu, yang terbuat dari beton (semen). Di salah satu sisi lingkaran itu ada batu, yang juga di-cor. Saya amati jejeran lingkaran-lingkaran itu, lalu mencoba menerka manfaatnya. Dan, saya sangat yakin bahwa itu dibuat untuk para pedagang duduk dan menjajakan barang-barang jualannya.

Tidak ada orang yang lewat sehingga saya bisa bertanya. Namun dari bentuknya, saya yakin peruntukannya seperti yang saya pikirkan. Dan, saya bangga dengan itu, sebab itu adalah sarana yang baik yang disiapkan oleh pemerintah guna meningkatkan martabat para pedagang serta barang-barang jualannya. Pemerintah telah mengambil langkah luar biasa untuk mengangkat derajad para pedagang tradisonal agar mereka dapat duduk di tempat yang layak, dan barang dagangannya dapat diletakkan di tempat yang baik serta bermartabat.

Tidak jauh dari lokasi pasar barter itu, ada pelabuhan laut Wulandoni. Pelabuhan ini yang kerapr disinggahi kapal TOL Laut. Saya berhenti sejenak dan berdiri mengarahkan pandangan ke pegunungan,  ke kampung Udak dan sekitarnya. ‘Wah, tidak jauh. Harusnya kapal TOL laut dari Wulandoni ini bisa antarpulaukan hasil-hasil bumi dari daerah ini’. Pekerjaan rumah yang harus dulakukan adalah membenah jalan raya dari Wulandoni menuju pegunungan yang subur itu agar kendaraan dapat layak melintas mengangkut hasil bumi. Sebab, jalur jalan raya dari Udak sampai di pantai Wulandoni, belum terlalu baik dan aman.  Saya coba berpikir lepas. Lalu saya arahkan lagi pandangan ke area pelabuhan.

Tampak ada satu kondisi yang kurang elok dan mengganggu pemandangan serta keindahan sarana pelabuhan itu, yakni daun pintu gerbang masuk pelabuhan yang telah koyak terbongkar. Kondisi itu, memberikan kesan bahwa suasana pelabuhan tidak terawat, bahkan memberikan kesan ‘kasar dan keras’. Hal mana tentu bisa menimbulkan ketidaknyamanan orang untuk berada di kawasan itu.

Gerbang Pelabuhan Wulandoni, Daun Pintu Kantor rusak, dibiarkan !

Perjalanan dilanjutkan hingga masuk desa Lamalera B. Lalu ke desa lamalera A. Pepohonan yang membaluti kawasan hutan di kiri dan kanan jalan, didominasi oleh tanaman jambu mete. Dua wilayah desa yang pernah saya singgahi pada waktu-waktu yang lalu, dan hanya sampai di wilayah kedua desa ini. Aura keindahan desa sangat terasa. Perumahan ditata apik meskipun di celah-celah bebatuan dan di permukaan tanah miring. Tidak hanya keindahan, namun aura kecerdasan pun kuat terasa. Orang-orang Lamalera adalah seniman dan banyak orang pintar.

“Tata..ah, dari mana mau ke mana ini?” Suara satu pria yang duduk di atas panggung kayu, persisi di tepi jalan. Saya berhenti. Seorang adik yang tidak asing lagi. Jefri Bataona. Kami pernah bersama di Kupang di era tahun 2005. Dia alumni prodi Bahasa Inggris FKIP UNWIRA dan kini kembali mengabdi di kampung, sebagai guru di SMK Kelautan Lamalera. Jefri mengajak saya ke belakang rumah, berjumpa dengan sanak keluarganya yang lain, selamatan Natal dan minum kopi. “Tata e, alumni UNWIRA ni memang ok. Ini saya rasakan di dunia kerja”. Jefri mengucapkan satu pernyataan ini di celah-celah minum kopi itu. Sebagai ‘orang UNWIRA Kupang’ saya menerima pernyataan ini bukan sebagai kebanggan, namun justru sebagai tantangan dan harapan. Apakah masih bisa mempertahankan pernyataan ini di waktu-waktu mendatang?

Saya pamit dan melanjutkan perjalanan. Tanaman jambu mete masih menjadi yang utama yang memadati kawasan hutan sepanjang perjalanan, hingga memasuki desa Lelata, atau dalam istilah familiar dinamakan kampung Lamabaka. Topografi cukup terjal, namun ruas jalan yang dilalui cukup baik. Sama seperti di kawasan pegunungan, ruas jalan raya ini terbalut 3 rupa. Ada jalan rabat (beton), aspal sedikit dan dominan jalan asli.

Badan jalan pun tidak terlalu lebar. Ada bagian yang menurun cukup terjal, namun cukup aman untuk dilewati. Hanya saja ada beberapa segmen tertentu yang perlu dibenahi agar kendaraan pengangkut hasil bumi dapat melewatinya dengan aman. Sebab, cukup beresiko, karena permukaan tanah yang terjal hingga ke air laut. Sampailah di desa Tapobali. Pintu masuk pertama yaitu sebuah pertigaan dengan satu prasasti bertuliskan ‘Dusun Walet Tapobali”.

Saya teringat akan berbagai kabar bahwa desa Tapobali ada sarang walet dan tambak garam. Saya serong kiri, menurun mengikuti jalan rabat, menuju dusun sarang walet tersebut, yang ternyata bernama dusun Wolowutun. Di dusun ini saya bercengekrama sedikit dengan sejumlah bocah berusia SD kelas 1 sampai 3 yang sedang duduk bermain. Saya bertanya pada mereka, apakah tahu nyanyi lagi Tanah Lembata Helero atau tidak. Mereka menjawab bahwa tahu menyanyikan lagi tersebut.

Saya pun memandu mereka bernyanyi sejenak, membuat suasana dapat cair dan akrab. Kemudian saya bertanya tentang sarang burung walet dan mengajak mereka menghantar ke lokasi sarang walet itu, sekedar untuk melihat-lihat.  ‘Pa guru lapor di sana dulu”. Salah satu dari mereka menyampaikan hal ini sambil mengarahkan ujung telunjuknya ke salah satu rumah, yang di sana ada seorang ibu sedang berdiri mengamati kami.

Ibu itu pun bertanya, dalam bahasa daerah, kepada anak-anak itu. Lalu, anak tadi mengatakan kepada ibu tersbut (sedikit berteriak) yang maknanya adalah bahwa saya ingin melihat sarang walet. Ibu itu pun berujar dalam bahasa daerah, yang kemudian diterjemahkan oleh anak-anak itu kepada saya bahwa sarang walet belum bisa dikunjungi karena ada batu yang jatuh. Saya pun mengucapakn terima kasih pada bocah-bocah itu, lalu kembali menuju pertigaan untuk melanjutkan perjalanan. Hutan Jambu mete tetap yang paling dominan membalut kawasan.

Di pertengahan kawasan desa Tapobali, saya berhenti sejenak dan memandang menukik ke arah pantai. Pemandangan yang sangat indah.  Di dusun Walet, tampak tebing-tebing batu menjulang di tepi pantai, yang merupakan lokasi sarang burung walet. Lalu di atas atap tebing-tebing itulah ada hamparan rata, tempat dusun Wolowutun berada. Lalu, di bagian pantai yang lain, ada tanjung batu. Gelombang laut cukup besar.

Di samping tanjung batu di tepi pantai itu ada petak-petak sawah garam. Bukan alamiah, namun dibuat untuk produksi garam. Memandang gelombang laut yang cukup besar, saya lalu berpikir bahwa mengolah potensi laut setempat untuk perikanan atau bertani rumput laut, sangat sulit. Hal yang lebih baik untuk dilakukan adalah menyedot ait laut ke darat untuk produksi garam, si emas putih. Hamparan tanah yang landai di tepi pantai dapat diolah untuk produkai garam sehingga air laut tetap memberikan hasil.

Perjalanan saya lanjutkan. Ruas jalan tepi pantai itu cukup nyaman untuk dilalui. Gelombang laut berdentum menghantam batu-batu tepi pantai. Pikiran saya tetap pada produksi garam. Saya pun memasuki desa Lusiduawutun, lalu desa Warawatung, yang nama populernya adalah Lewopenutung. Hujan pun turun dan saya menepi sejenak ke satu emperan rumah. Ada satu pemuda di situ. Kami berkenalan. Namanya Ancis Wolin, pelajar SMA Anugerah Kasih Lewoleba yang sedang berlibur. Ancis pun memberikan informasi bahwa saya akan sampai di desa berikutnya bernama desa Idalolong, desa ujung aspal. Yang artinya, jalan aspal dari kota Lewoleba telah sampai di desa Idalolong. “Dari desa Idalolong, pak akan lewat jalan aspal terus sampai di Kota Lewoleba. Setelah desa Idalolong lalu desa Penikenek”. Begitu sejumlah informasi dari Ancis.

Saya lanjutkan perjalanan. Matahari telah tenggelam di ufuk Barat. Suasana mulai remang, ditambah mendung memekatkan suasana. Meskipun tidak melihat alam sekitar lebih jelas, namun pikiran saya tetap pada jambu mete, garam dan hasil alam lain yang harus dioptimalkan. Dari Penikenek hingga Lewoleba, jalur itu pernah saya lewat dan potensi alam yang telah saya lihat untuk patut dikembangkan dan dimaksimalkan adalah garam, ubi kayu, pisang dan  kelapa. Hasil-hasil alam ini telah dimiliki oleh masyarakat.

Peran pemerintah, sebaiknya  adalah membantu promosi, mengarahkan pasar, memfasilitasi mobolisasi, peningkatan kualitas penangana pascapanen, dan menjadikan masyarakat bangga memiliki komoditi itu yang mampu menguasai pasar. Dengan demikian, mereka (masyarakat) akan terlibat sangat aktif membangun daerah ini berdasarkan kekuatan yang telah mereka miliki, dan bukan hal-hal lain yang jauh dari jangkauan mereka***Catatan Jurnalistik

Related Posts

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *