Oleh : Germanus S. Atawuwur, Alumnus STFK Ledalero
Kel. 3:1-8a.13-15; 1 Kor.10:1-6.10-12; Luk. 13:1-9
WARTA-NUSANTARA.COM–Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, kita sekarang berada pada minggu prapaskah III. Pesan dari bacaan-bacaan suci hari ini adalah tentang Kekudusan Allah dan ajakan untuk terus-menerus membangun sikap tobat. Tobat adalah pintu masuk memandang Wajah llah Yang Kudus. Tetapi sebaliknya, jika tidak ada pertobatan hidup akan binasa.
“Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya:”Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lalu Musa menutupimukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman:”Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka. Aku telah mengetahui penderitaanmereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir.
Tuhan mengutus Musa untuk membebaskan bangsa Israel. Namun Musa belum yakin. Dia takut orang Israel tidak percaya akan misi pembebasan itu. Karena itu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Firman-Nya lagi: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
Mengapa Musa mesti bertanya kepada Tuhan tentang nama-Nya? Bukankah dia sendiri sudah memanggil-Nya sebagai Allah? Pertanyaan Musa tentang nama Tuhan dapat dimengerti dalam konteks kehidupan orang Israel di negeri Mesir.
Mesir mempunyai begitu banyak dewa-dewi dengan beraneka nama. Kepada dewa-dewi itulah orang Mesir menyembah berhala. Dewa-dewi orang Mesir itu memiliki nama dan kekuasaan atas aspek-aspek tertentu dalam kehidupan orang Mesir.
Misalnya, dewi Isis berkuasa atas wanita, anak-anak, dan pengobatan. Dampaknya, bangsa Israel dikelilingi oleh kuil-kuil yang didedikasikan untuk dewa-dewi itu dan karenanya mereka pun ikut terkontaminasi dalam penyembahan berhala.
Maka bagi Musa, adalah penting untuk mengetahui Nama itu, agar dia sendiri yakin dengan tugas perutusan itu dan orang Israel pun percaya bahwa Dia yang mengutus Musa bukanlah salah satu dewa atau dewi negeri Mesir. Kepada Musa, Allah pun menyebut diri-Nya sebagai Aku adalah Aku. Aku adalah Aku hendak mnggambarkan pertama Allah sebagai Maha Ada. Allah sebagai Causa Prima, sebagai Sebab Pertama dari semua yang ada di bumi. Karena itu, Dia melampaui semua ciptaan-Nya itu. Kedua, Tuhan juga hendak mengatakan kepada Musa, bahwa Sang Ada itu, bukanlah seperti dewa-dewi Mesir yang hanya menguasai sebagian kecil dari aspek hidup manusia. Tetapi, Dia Yang Maha Ada itu adalah Yang Maha Kuasa. Dewa-dewi orang Mesir itu tiada apa-apanya.
Ketiga, Tuhan hendak mengatakan kepada Musa bahwa Dia adalah Kudus. Karena itu maka Dia melarang Musa untuk tidak boleh mendekati tempat itu. “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus .”
Karena begitu Kudusnya Allah maka Musa pun menutupimukanya, sebab ia takut memandang Allah. Kekudusan Allah itu dipertentangkan dengan kejahatan Israel, dengan symbol penanggalan kasut dan penutupan muka yang dilakukan oleh Musa. Jadi, penyataan awal Allah kepada Musa adalah tentang kekudusan-Nya. Kekudusan artinya pemisahan dari dosa dan kejahatan. Musa selaku hamba Allah harus senantiasa ingat bahwa Allah yang dilayaninya itu kudus.
Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, Injil hari ini yang menceritakan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah menggambarkan Israel yang diceritakan dalam bacaan I itu. Bahwa Israel yang berkelakuan jahat, karena turut tercemar dalam perbuatan-perbuatan penyembahan dewa-dewi Mesir, lalu tidak mengakui Kemahakuasaan Allah.
Selain itu, pohon arah juga menunjuk kepada orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus, tetapi tidak berpaling dari dosa. Karena itu maka Paulus kepada jemaat di Korintus mengatakan bahwa jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah diperbuat oleh orang Israel. Orang Israel boleh permisif dengan dosa penyembahan berhala dan kebejatan, tetapi jika tidak bertobat pasti menerima hukuman.
Karena itu maka perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah dikaitkan juga dengan sikap permisif orang Yahudi itu. Orang Yahudi sangka bahwa orang Galiela yang dicampurkan darahnya atau kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam itu lebih besar dosanya daripada mereka sendiri. Tetapi Yesus bilang jikalau kamu tidak bertobat,kamu semua akan binasa atas cara demikian!
Saudara-saudara, pohon ara yang tidak berbuah pun menunjuk juga kepada kita yang hidup di zaman ini. Pohon ara yang tidak berbuah itu menandakan bahwa kita semua masih bergelimang dalam dosa. Kita masih penuh dosa. Karena itu Tuhan hendak “menebang dan mencampakan” kita ke dalam api karena sudah tidak berguna. Namun pengurus kebun itu, yang tidak lain adalah Yesus sendiri melakukan negoisasi. “Tuan, biarlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanahnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah, jika tidak tebanglah Dia.
Tuan, biarlah dia tumbuh tahun ini lagi sejatinya adalah kesempatan istimewa yang diberikan untuk menata hati lalu membuang manusia lama kita. Biarlah dia tumbuh tahun ini lagi harus dipahami sebagai kemendesakan bagi kita untuk segera “menanggalkan kasut” kejahatan kita lalu memandang Tuhan sebagai Allah Yang Kudus. Biarlah dia tumbuh tahun ini lagi adalah kayros untuk memandang Wajah Allah yang Kudus. Akhirnya, biarlah dia tumbuh tahun ini lagi, adalah tawaran untuk kita berpartisipasi dalam kekudusan Allah.
Sisa-sisa masa puasa ini, adalah usaha yang terus-menerus untuk “mencangkul” tanah hati kita dengan mengakui dosa-dosa kita lalu “memupuknya”dengan berkanyang dalam doa dan berbelarasa sambil beramal kasih. Maka mengakhiri khotbah ini, saya mengajak kita sekalian, agar menjadikan Tobat Sebagai Gaya Hidup agar dengan demikian kita pun turut memandang Wajah Allah yang Kudus, Allah yang menyelamatkan kita.