Catatan Lukas Onek Narek

Catatan Pertandingan Grand final Persebata VS Bintang Timur Atambua

KUPANG : WARTA-NUSANTARA.COM–Penyakit bagi pemenang di awal2 pertandingan. Biasanya terbuai evoria kemenangan awal. Lupa kalau itu menjadi bacaan psikologis lawan. Lawan tau penyakit itu.
Strategi apa untuk menidurkan lawan yg telah bertepuk dada awal menikmati kemenangan semunya. Lupa kalau masih panjang waktu buat lawan bangkit dan melawan balik.

Lawan yang sudah merasa kalah bangkit dengan strategi melumcurkan pemain2 handalan utk menggempur balik lawan yg masih tenggelam dlm suka ryah semu, dibarengi rasa capeh karena sudah bertarung-kuras habis pada sesi terdahulu.
Lawan baca dan sangat tauh itu. Pemainnya yg didominasi pemain handal dan mayoritas baru, mereka turunkan utk menghabisi lawan yg boleh dibilang lagi sombong2nya membuatnya lengah, anggap enteng dan lalai membangun strategi dan mewujudkannya.
Setcara psikologis orang sombong akan dikalahkan psikologisnya sendiri. Dengan demikian lawan mudah mengalahkannya karena lawan tauh kalau dia telah kalah dan tercuptasi oleh psikologisnya.
Lawan dalam hal ini Bintang Timur yg punya pendamping psikologis tauh semua kelemahan psikologis manusia itu.
Tinggal memantik dan mengagitasi timnya utk bangkit, berjuang total dikalah lawan (Persebata) lagi ternina bobo untuk merebut kembali kemengan itu. Ketika merasa seolah sudah di atas puncak tiba2 ambruk dengan jebolnya benteng pertahana mereka, secara psikologis dowan.
Secara psikologis pula bukannya bangkit bagi orang yg sdh merasa di atas puncak menarah gegirangan yg diturunkan paksa akan sulit utk bangkit dan ingin naik ke puncak lagi karena dia sudah puas menikmati kemenangannya yg sudah dialaminya, yang sesungguhnya hanyalah kemenangan ilusi.
Pengalaman yang sama tidah hanya dialami oleh tim Persebata tetapi juga telah dialami pemain2 nasional dan dunia, bahkan pengalaman Persebata v Perse Ende di mana mereka menjebol gawang lawan duluan namun kemudian kalah.
Terhadap pengalaman ini, saya berpendapat :
Pertama, tim pelatih yang ada perlu dipertahankan.
Kedua, tim pelatih perlu diperkuat dengan tim pendamping psikologis
Ketiga, olah fisik dan psikologis mesti dilakukan secara rutin
Ketiga, pemerintah daerah jangan hanya menjadi penonton dan menepuk dada kalau itu tim mewakili nama Lembata, nama mereka. Pemerintah dan DPRD harus bersepakat menganggarkan dana yang cukup bagi persiapan ruting tim Persebata menghadapi turnamen2 berikutnya
Keempat pemerintah daerah harus juga memperhatikan nasib, kesejahteraan tim pelatih dan anak2 para pemain kita.
Kelima Seteha tahun sebelum pertandingan tim pelatih dan anak2 pemain bisa diasramakan agar latihan total dapat dilakukan secara secara rutin.
Terimakasih, proficiat, apresiasi besar dari saya sekeluarga untuk tim pelatih, para pemain dan keluarganya, para donatur dan para pihak yang telah berpartisipasi secara full bagi Persebata tercinta. Saya sekeluarga yang hampir setiap hajatannya pasti kami hadir langsung di lokasi untuk memberikan dukungan kami secara langsung.
Kemenangan, pun kegagalan menjadi kemenangan dan kegagalan kita bersama. Salam hormat dari Oetalu setelah semalam mengundurkan diri dari stadion Oipoi Kupang, Tuhan memberkati kita semua. Baleo…baleo…baleoooo….!!!