Oleh : Germanus S. Atawuwur, Alumnus STFK Ledalero
Yos.5:9-12; 2 Kor.5:17-21; Luk. 15:1-3.11-32



WARTA-NUSANTARA.COM–Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, hari ini adalah Minggu IV masa pra paskah. Minggu ini diperingati sebagai Minggu Laetare atau Minggu Sukacita. Kalau di masa Adven disebut Minggu Gaudete. Sebagai symbol sukacita maka pada perayaan ini, musik gerejani dapat dimainkan dengan sederhana. Altar boleh dihiasi dan pastor mengenakan kasula berwarna pink.
Sampai di sini, saya ingat chat teman saya, Tony Kleden, jurnalis kawakan NTT:”Nanti kami tunggu renungan hari Minggu berjudul Sakramen Bola dari ama Germanus.” Ahirnya minggu ini saya menulis renungan dengan judul:”Sakramen Bola dan Sukacita Pertobatan.”
Saudara-saudara, mengapa harus Sakramen Bola? Saya coba mengurainya melalui pertandingan semi final El Tari Memorial Cup ke-33 antara kesebelasan Persebata Lembata vs Perse Ende. Laga itu masih menyisakan beraneka komentar dan ulasan yang bernas. Berikut, saya kutip Ina Fince Bataona dalam akun facebooknya:”Ketika waktu hampir habis dan Lembata berada di ujung tanduk, mereka memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Cesar Making yang baru masuk di menit ke-83, menciptakan moment perlawanan yang monumental. Dua golnya di menit ke-94 dan 117 menjadi manifestasi dari keberanian menghadapi keterbatasan.
Pertandingan yang menarik dan menegangkan itu pun usai. Pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan serentak disambut sukacita sorak sorai dan euforia oleh supporter Lomblen Mania di pinggir stadion Oepoi. Mereka bernyanyi penuh sukacita: Baleoooooo…..Baleoooooo. –
Selebrasi pekik sorai orang Lomblen, oleh Dion DB. Putra, wartawan kenamaan Pos Kupang, pada Catatan Bola menulis dengan judul:”Dulang Ikan pun ikut Bernyanyi.”Ya, ekspresi mama-mama di pasar TPI Lewoleba bikin beta merinding serentak terharu bangga. Begitu Cesar Making cetak gol telat kemenangan ke gawang Perse Ende 2-1 pada babak kedua ekstra time, TPI Lewoleba meledak dalam sukacita.
Seorang ema cantik pukul dulang ikan sekencang-kencangnya. Pantat ember juga jadi sasaran. Ada pula yang lari berjingkrak-jingkrak. Ekspresi spontan. Natur. Apa adanya. Membuktikan sekali lagi betapa sepak bola itu mempesona. Bola selalu melahirkan perayaan kemanusiaan.”
Euforia orang Lembata tentu bukan saja merupakan selebrasi kemenangan tetapi juga adalah, deklarasi penghapusan kesalahan wasit yang tidak meniup pluit saat hand ball di kotak penalty. Kesalahan itu dianggap tidak pernah ada karena sudah tenggelam dalam perayaan kemanusiaan itu. Inilah yang tentu saja dimaksudkan oleh temanku Tony Kleden, sang wartawan senior itu sebagai :”Sakramen Bola.”
Lalu saudara-saudara, apa relevansinya dengan injil hari ini? Injil yang dimulai oleh protes orang farisi dan ahli-ahli Taurat, tatkala melihat pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang mendengarkan ajaran Yesus. Mereka protes karena Yesus menerima orang berdosa dan bahkan makan bersama pemungut cukai. Begitu mendengar protes mereka, Yesus pun mengajar mereka dengan perumpamaan tentang anak hilang. Kisah ini sudah sangat populer. Nyaris kita semua hafal cerita ini.
“Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Suatu waktu anak bungsu minta kepada ayahnya untuk membagi bagian harta milik mereka yang menjadi haknya. Ayahnya tidak keberatan. Ia membagi warisannya untuk kedua putranya. Begitu mendapat bagiannya, si bungsu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di negeri yang asing itu, dia memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya.
Hartanya ludes. Dan, tidak diduganya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Agar dia bisa bertahan hidup, ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Tugasnya menjaga babi-babi. Dari sisa-sisa makanan babi itulah, dia dapat mengisi perutnya untuk sekedar bertahan hidup. Pada situasi kelam itu dia sadar bahwa di rumah bapanya begitu banyak orang upahan yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi dia di sini mati kelaparan.
Dengan kesadaran itu dia pun bangkit dan pergi kepada bapanya. Dia susun kata-kata dalam hatinya begini:”Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Tekadnya telah kuat. Dia pun bangkit dan pergi kepada bapanya.
Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya yang telah kian lama merindukannya tidak tinggal diam. Dia berlari mendapatkan putranya kemudian dia lalu merangkul dan menciumnya.
Sang ayah tidak berhenti di situ saja. Ia berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.
Saudara-saudara yang terkasih, pesta itu adalah perayaan kemanusiaan. Ungkapan sukacita tobat karena sang anak telah kembali. Pesta ini pula dimaknai sebagai perjamuan Yesus dengan orang berdosa dan pemungut cukai yang bertobat. sekaligus adalah representasi sukacita Allah karena mendapatkan kembali anak-Nya yang hilang.
Maka kegembiraan tobat adalah perayaan perjumpaan kembali antar manusia, tetapi serentak itu pula adalah perjumpaan kembali Tuhan dengan manusia. Pesta Pertobatan yang diwarnai rangkulan dan ciuman memberi pesan bahwa Tuhan tidak seperti anak sulung yang masi ingat dan suka menghitung-hitung salah dan dosa manusia. Perayaan itu juga menjadi meterai pengukuhan bahwa manusia telah diterima kembali oleh Bapa
Saudara-saudara, kita semua tentu pernah menjadi orang hilang. Tidak saja anak yang hilang karena lebih tergiur dengan kenikmatan dunia,tetapi bisa juga seorang suami kehilangan cintanya karena pengkhianatan istri dan seorang istri kehilangan kesetiaan suaminya karena pertengkaran dalam keluarga, atau juga, seorang tetangga hilang dari kebersamaan dengan tetangga lainnya karena dendam yang masih membara. Lalu, ada yang hilang dari persekutuan gereja. Kita semua jatuh bangun dalam lumpur dosa selama masa puasa.
Tentu kita tidak menyerah dengan keadaan. Kita tolak tunduk pada kerapuhan manusiawi kita. Maka, teladan si bungsu memacu kita untuk segera sadar dan bangkit untuk kembali kepada Sang Bapa. Dia yang Maha rahim itu siap memeluk dan mencium kita. Pelukan itu adalah doa agar kemesraan itu jangan cepat berlalu. Sedangkn ciuman adalah ungkapan kasih Allah kepada kita semua yang kembali kepada-Nya. Semoga hari ini menjadi sukacita tobat bagi kita semua. Amin. ***