Oleh : Germanus S. Atawuwur, Alumnus STFK Ledalero
Yes.43:16-21; lp.3:8-14; Yoh.8:1-11
WARTA-NUSANTARA.COM–Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, kita memasuki minggu prapaskah kelima. Pada masa ini, kita menyebutnya dengan Minggu Sengsara menjelang Hari Minggu Pondok Daun, atau Minggu Palma. Karena itu maka injil hari ini tentang perempuan berzinah yang dibawa oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk menjebak Yesus. Bila Yesus masuk jebakan mereka, maka mereka punya alasan untuk menghukum Yesus. Namun sayang, mereka sangka Yesus bodoh kaya mereka.
Yohanes menulis sebagai berikut:” Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu.”
Yohanes sudah menulis secara terang benderang bahwa kasus ini, hanya untuk mencobai Yesus agar mereka dapat cela untuk mempersalahkan-Nya. Tumbalnya adalah perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Atas nama hukum Taurat mereka hendak menjerumuskan Yesus melalui perempuan yang kedapatan berzinah itu.
Perzinahan merupakan sebuah peroalan dalam Kitab Suci yang telah terbukti sangat merugikan perempuan. Perempuan dipandang sebagai benda bergerak oleh suaminya atau tunangannya. Dia tidak dilihat sebagai pribadi bersamanya si suami membentuk suatu persekutuan dalam kesetiaan cinta timbal balik. Bahkan walaupun hukum Taurat dengan tegas menandaskan bahwa baik perempuan maupun laki-laki yang berzinah haruslah dihukum mati, namun apabila perzinahan itu terjadi, maka si perempuanlah lebih sering menanggung akibatnya. Hal ini terjadi karena perempuan secara mental dan fisik dianggap lemah dari pada laki-laki. Superioritas laki-laki tetap menjadi kaidahnya.
Pada Perjanjian Baru, khusus di zaman kekaiseran Romawi perempuan sedikit mendapat pengakuan dan privelese.
Walaupun ada kemajuan peradaban, namun pemahaman masyarakat khusus tentang perzinahan terus saja condong berprasangka buruk terhadap kaum perempuan, yang dalam bacaan Injil ini diwakili oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi. Pelanggarnya tetap dikenakan hukuman mati, dan kuk hukum selalu menimpa pelaku perempuan. Mereka selalu diproyeksikan sebagai pelanggar utama hukum Taurat. Karena itu maka tak satupun teks kitab suci berbicara tentang perzinahan seorang laki-laki karena budaya Yahudi selalu memaaf kan tingkah laku amoral laki-laki.
Atas dasar itulah maka ketika seorang perempuan ketahuan berzinah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat membawanya kepada Yesus. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka berharap, Yesus menjadi hakim yang adil dalam penegakan hukum Taurat.
Namun apa reaksi Yesus? Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Pertanyaannya, mengapa Yesus harus menulis di tanah Karena Yesus hendak memberikan kesempatan kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi untuk introspeksi diri. Bahwa mereka, – manusia itu – diciptakan dari tanah, dan oleh karenanya pasti pula memiliki khilaf
keliru, salah dan dosa.
Yesus menulis di tanah untuk memberikan juga kesempatan kepada orang farisi dan ahli Taurat untuk segera sadar diri dengan berpihak pada perempuan yang gemetar ketakutan itu. Bungkam-Nya Yesus mustinya dimanfaatkan oleh mereka untuk bertanya kepada perempuan malang itu, apakah dia ditelantarkan oleh suaminya sehingga dia menjerumuskan dirinya? Apakah perempuan itu telah bercerai dari suaminya? Apakah dia dipaksa atau diperalat untuk menjerumuskan dirinya dalam relasi yang beresiko itu? Atau, jangan-jangan dia adalah korban perdagangan orang? Atau, apakah dia merupakan korban kekerasan seksual di tengah sebuah masyarakat yang menganggapnya dan perempuan lainnya melulu sebagai obyek?
Mustinya pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul dalam diri orang-orang cerdik pandai itu. Namun mereka justru telah terkubur dalam tradisi yang merendahkan perempuan. Mereka tidak mampu berpihak sedikitpun kepada perempuan malang dan terhina itu. Karena itu Yesus bangkit lalu berkata kepada mereka:”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Lalu, Yesus membungkuk untuk menulis lagi. Apa maksudnya? Kali ini, – setelah mereka ditinggal pergi oleh orang farisi dan ahli Taurat – Yesus memberikan kesepempatan kepada perempuan itu agar dia menggunakan sedikit keberanian untuk menampilkan dirinya dan mengungkapkan alasan-alasan dia menceburkan dirinya ke dalam perbuatan maksiat itu. Yesus mau memberikan kesempatan agar dia boleh membelah dirinya.
Tetapi Yesus juga memberikan kesempatan kepada perempuan itu, untuk menyadari dosa-dosanya bahwa apapun alasannya, perbuatan itu tetaplah dosa. Namun pendosa tidak boleh dirajam hingga mati. Dia mestinya diberi waktu untuk mengaku salah dan dosanya. Karena dia pun punya hak untuk mendapatkan pengampunan yang membebaskan, Dia patut diberikan waktu untuk menjadi PerempuanMerdeka; perempuan yang telah terbebaskan dari belenggu dosa.
Maka, untuk meneguhkan kemerdekaan perempuan ini, Yesus bangkit dan berdialog singkat dengannya:”Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” adalah ungkapan pengampunan. Adalah bahasa pembebasan yang memerdekakan.
Saudara-saudara, sampai di sini pada akhirnya kita bertanya mengapa penginjil Yohanes tidak menyebut nama perempuan itu? Sebab bila disebutkan namanya maka seolah-olah hanya dialah wanita tertuduh di dunia ini. Maka namanya tidak disebutkan Yohanes untuk memberi pesan kepada kita bahwa, kita semua: laki atau perempuan adalah perempuan malang yang gemetar ketakutan itu.
Kita mungkin pernah dihakimi dan dicemooh. Kita mungkin pernah dipermalukan di depan banyak orang. Kita lantas tidak memiliki keberanian untuk membela diri. Kita membungkam seribu bahasa.
Lalu, kita kadang juga sering seperti orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat. Mudah menuduh orang lain. Begitu cepat menghakimi orang yang bersalah, tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk membela diri. Maka, pada minggu sengsara ini, Yohanes hendak memperingatkan kita untuk menjadi manusia merdeka. Merdeka dari perbuatan yang dilakukan perempuan serenak itu pula merdeka dari sifat orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat. ***