Ketika Jumpa Pers Menjadi Ajang Caci Maki (Catatan Buat Gerombolan Mafia Nagekeo (6)
Jurnalis, Penulis Buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” dan Pendiri Oring Literasi Siloam
WARTA-NUSANTARA.COM– Apa hendak dikata jika jumpa pers menjadi ajang caci maki terhadap seseorang yang tidak ada di tempat yang sama? Fakta itu sebuah kebiadaban yang dipertontonkan dengan buas oleh komplotan mafia yang diamuk kepanikan dahsyat setelah borok busuk dugaan mafia di Nagekeo dibuka ke ruang publik. Jumpa pers seharusnya menjadi ruang klarifikasi, ruang menyampaikan data, tempat media bertanya dengan kritis tentang substansi masalah, dan tuan rumah memberikan penjelasan yang terang benderang untuk memenuhi hak publik memperoleh informasi yang dirugikan.



Tapi, jumpa pers yang digelar Valens Daki-Soo (VDS) di Mbay, Kamis (04/12/2026), berubah menjadi panggung penuh cacian. Bukannya menjawab persoalan mafia Waduk Lambo yang selama ini menjadi isu besar di Nagekeo, sesi itu sepertinya sengaja dirancang untuk menyerang pribadi saya, Steph Tupeng Witin SVD, Imam Katolik dan wartawan senior yang menulis serial hasil investigasi mengenai mafia Waduk Lambo dengan independen, niat yang tulus, dan tidak punya kepentingan apa pun kecuali hendak membela rakyat yang dirugikan.


Yang menggelikan sekaligus memalukan, para wartawan KH Destroyer bentukan Yudha Pranata dan Serfolus Tegu tampil dominan. Mereka mendominasi pertanyaan dan tentu saja waktu. Saya duga, mereka sengaja mempertontonkan kedangkalan berpikir, ketiadaan empati pada rakyat dan kebuasan ala mafia yang tidak terpuaskan ketika mereka berdiskusi dalam ruang sampah “Nagekeo Mandiri” Di ruang sampah “Nagekeo Mandiri” ini sesama begundal komplotan mafia berpesta pora dengan caci maki, dan sumpah serapah ketika borok mafia yang mereka pertontonkan di depan aparat polisi, dibuka ke ruang publik. Tidak ada suara berbeda di ruang sampah “Nagekeo Madiri” yang diotaki preman kampung Gusti Bebi Daga yang menjadi “satpam” lokasi penggalian C di Ulupulu milik Patris Wawo yang menghancurkanb lingkungan. Mungkin juga kelompok wartawan KH Destroyer yang mengelola media abaal-abal-tulis sendiri, baca sendiri dan edar sendiri-menemukan ruang konferensi pers abal-abal, seimbang dan selaras dengan jati dirinya. Nyaris tak ada pertanyaan yang diajukan selain lontaran caci maki dan pelampiasan amarah. Wartawan yang benar mestinya berjarak dengan masalah, bukan terlibat dekat secara emosional dengan pihak yang menggelar jumpa pers. Faktanya: penggelar jumpa pers dan wartawan KH Destroyer bersama pengacara ibukota yang pulang kampung hanya untuk asbun, memang selevel dalam semua aspek kehidupan. Makanya tidak akan pernah ada pertanyaan kritis dan substansial. Jumpa pers itu sesungguhnya menarasikan kedangkalan rasionalitas penyelenggara dan gerombolan wartawan abal-abal KH Destroyer.

Inti persoalan yang dipertanyakan publik sangat jelas: hubungan kedekatan Komjen (Pol) Gories Mere (GM) dengan AKP Serfolus Tegu, Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) di Polres Nagekeo, seorang polisi aktif yang diduga bagian dari jejaring mafia Waduk Lambo. Jumpa pers mestinya juga mengulik kedekatan hubungan GM dengan sejumlah perantau Jakarta yang pulang kampung untuk berebut rezeki dengan masyarakat terdampak di Kawasan Waduk Lambo.

VDS diduga juga menjadi bagian dari lingkaran ini dan indikasinya kian jelas dari hari ke hari. Salah satunya adalah penampilannya sebagai pembicara utama dalam jumpa pers di Mbay, Kamis (04/12/2025). Bahkan VDS yang mengirim undangan kepada semua wartawan di Nagekeo. Banyak yang tidak hadir karena hanya membuang waktu dan tidak akan pernah mendapatkan pengetahuan apa pun. Ada juga yang hadir tapi kemudian meninggalkan lokasi murahan itu karena mereka sadar hanya diperbudak VDS untuk membela glorifikasi “masa lalunya” tapi abai tanpa nurani kemanusiaan kepada orang-orang kecil yang sangat tertindas oleh komplotan begundal mafia Nagekeo. Apalagi jumpa pers itu hanya mempertontonkan komplotan mafia bersama bohirnya yang sedang panik, kepanasan dalam cangkang dan terpancing keluar memamerkan wajahnya.
Menepuk Dada
VDS menggelar jumpa pers sebagai orang dekat GM. Ia mengaku sebagai “staf khusus dari staf khusus”. Entah apa maksudnya dengan gelar itu, siapa yang memberi gelar itu atau mengangkatnya dengan SK dan entah apa pula yang dibanggakan VDS dari jabatan ini. GM sudah tidak lagi staf khusus Presiden RI. Tapi, predikat itu masih juga disematkan kepada GM dan ia menyematkan predikat yang sama untuk dirinya sendiri. Jadilah “staf khusus dari staf khusus”, jabatan yang tergolong ajaib! Jabatan nan ajaib ini di seluruh dunia hanya disandang oleh VDS!
GM adalah seorang pensiunan jenderal polisi, mantan Kepala BNN, mantan Wakil Kabareskrim, dan salah satu tokoh kunci pembentukan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Antiteror Polri. Rekam jejaknya panjang, prestasinya gemilang, dan namanya melegenda terutama di bidang intelijen. Pada masa aktifnya, ia adalah salah satu figur penting yang dihormati di institusi Polri.
Namun perjalanan hidup seorang manusia tidak pernah lurus gemilang dari awal hingga akhir. Ada masa ketika seseorang mencapai puncak kehebatan, dan itu biasanya saat usia produktif, ketika fisik masih prima, energi melimpah, dan jabatan memberi ruang untuk bertindak. Tetapi masa kejayaan itu tidak mungkin bertahan selamanya. Seiring berjalannya waktu, usia dan keadaan membawa kita pada fase berbeda, di mana peran harus bergeser, kewenangan memudar, dan kapasitas pun berubah.
Karena itu, orang bijak selalu mengingatkan agar setiap manusia tahu diri, mengukur kemampuan diri, memahami batas kewenangan, dan tidak memaksakan diri bertindak melampaui porsi. Dalam era demokrasi, publik menjunjung tinggi kesetaraan, rasa hormat, dan perilaku yang proporsional sesuai peran masing-masing.
Dalam filosofi Jawa, kebijaksanaan ini dirumuskan dengan sangat indah: “Ora merasa bisa, nanging bisa rumangsa.” Artinya, tidak merasa paling bisa, tetapi mampu merasakan dan menyadari diri. Ungkapan ini menekankan bahwa kehebatan sejati bukan terletak pada perasaan paling unggul, paling tahu, atau paling berkuasa. Justru orang besar adalah mereka yang bisa rumangsa, yang menyadari posisi diri, memahami konteks, membaca situasi, dan bertindak sesuai tempatnya. Sebab kesadaran diri adalah sumber dari rendah hati; dan rendah hati adalah sumber dari kewibawaan sejati.
Budaya Jawa juga mengenal filosofi: “Sepiro gedhene gunung, isih gedhe pangkuane Gusti.” Filosofi ini mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun jabatan dan kuasa, tetap ada yang lebih tinggi dari manusia. Karena itu, ada peringatan: “Aja dumeh!” Jangan bertindak semena-mena hanya karena pernah punya kedudukan atau kekuasaan. “Ajining diri saka lathi, ajining rogo saka busana.” Artinya kehormatan seseorang terletak pada tutur kata dan perilakunya, bukan pada pangkat masa lalu.
Dengan demikian, kebesaran seseorang bukan hanya ditentukan oleh masa kejayaannya, tetapi juga oleh cara ia merawat martabatnya pada masa setelah tak lagi berkuasa. Orang yang bisa rumangsa akan tahu kapan harus tampil, kapan harus menahan diri, dan kapan harus melepaskan panggung kepada generasi yang masih memikul tanggung jawab institusi. Itulah hakikat kebijaksanaan: memahami bahwa setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.
Santo Thomas Aquinas mengingatkan, kesombongan adalah tindakan “seeking excellence beyond what is fitting”, mencari keunggulan melebihi batas yang sepantasnya. Sedang Santo Agustinus mengatakan, “Kesombongan adalah induk dari segala dosa.” Karena membuat manusia buta terhadap kebenaran dan tidak bisa membaca dirinya sendiri.
VDS sering menceritakan kehebatan GM, termasuk saat jumpa pers bermasalah itu. Ingatlah kata Alkitab: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18) Sikap sombong selalu menjadi awal kejatuhan seseorang. “Biarlah orang lain yang memuji engkau, bukan mulutmu sendiri.” (Amsal 27:2).
Ini merupakan pengingat agar manusia tidak meninggikan diri, tidak merasa paling hebat, dan selalu menepuk dada.
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6) Kesombongan bukan hanya salah secara etis, tetapi juga secara rohani: ia menempatkan manusia melawan kehendak Allah.
St Paulus mengingatkan, “Janganlah kamu melakukan sesuatu karena kepentingan atau kesombongan belaka, tetapi hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya.” (Filipi 2:3) Ajaran ini menolak sikap merasa paling benar, paling berkuasa, atau paling penting.
Alkitab dan moral Katolik menggarisbawahi beberapa prinsip penting. Pertama, jabatan tidak boleh menjadi dasar bertindak sewenang-wenang. Karena setiap kekuasaan berasal dari Tuhan, dan akan dimintakan pertanggungjawaban. Kedua, masa lalu yang hebat tidak memberi lisensi moral untuk campur tangan seenaknya. Kerendahan hati mengajarkan kita untuk tahu porsi, tahu ruang, tahu batas kewenangan. Ketiga, kehebatan bukan ditentukan oleh kejayaan dahulu, tetapi sikap bijak pada fase setelah kekuasaan berlalu.
Hubungan GM dan Tegu
Pertanyaan publik lainnya adalah, “Dalam kapasitas apa GM bisa ‘menugaskan’ seorang polisi aktif seperti Tegu untuk mengurus Waduk Lambo?” GM sudah pensiun sejak 2012. Jabatan staf khusus presiden hanya berlaku 2015-2019. Waduk Lambo dibangun mulai 2022, saat GM sudah tidak memegang posisi apa pun dalam struktur negara. Bapak itu sudah jadi rakyat biasa.
Staf khusus presiden tidak punya kewenangan eksekutorial. Tidak punya garis komando. Tidak bisa menunjuk polisi aktif untuk selalu bekerja di bawah kontrolnya. Jika demikian, publik boleh saja menduga, ada hubungan khusus apa GM dengan Tegu? Jika benar Tegu bekerja berdasarkan “penugasan GM”, maka publik justru layak mempertanyakan: Penugasan macam apa yang bisa menggerakkan seorang polisi aktif bekerja demi kepentingan seorang pensiunan?
Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini hanya muncul dari penanya terakhir. Di sinilah letak ironinya. VDS, yang selama ini menampilkan diri sebagai motivator dan figur demokratis, ternyata ikut menabuh genderang kelompok mafia yang sejak awal berupaya membungkam suara kebenaran dengan segala cara. Apa yang seharusnya menjadi ruang klarifikasi malah berubah menjadi panggung pembelaan sepihak dan serangan terhadap mereka yang berani mengungkap fakta di lapangan.
Menjawab pertanyaan tentang hubungan Tegu dan GM, VDS mengakui, Tegu memang ditugaskan GM untuk menyukseskan Waduk Lambo. Pernyataan ini justru membuka masalah lebih besar: Atas kewenangan apa seorang pensiunan menunjuk polisi aktif? Apakah tugas Tegu hanya sosialisasi waduk atau juga mengurus aliran dana, BBM, dan material? Mengapa GM merasa bisa mengatur aparat aktif? Masih pantaskah seorang pensiunan memberi wewenang kepada seorang polisi aktif? Publik akhirnya paham: mengapa Serfolus Tegu selalu mencatut nama GM hanya untuk menakut-nakuti warga dan membentengi dirinya yang sangat lemah,diduga penuh skandal jahat dan kuat dugaan menjadi otak mafia waduk Lambo. VDS tahu itu bahwa Serfolus Tegu selalu mencatut nama GM dalam urusan waduk Lambo tapi tidak pernah ada tindakan yang diambil oleh VDS apalagi GM terhadap kelakuan Tegu ini. Artinya, publik kritis menduga kuat: ada jejaring relasi antara pensiunan GM dan polisi aktif Serfolus Tegu. Jejaring relasi kuasa apakah itu? Hanya VDS, GM dan Serfolus Tegu yang bisa menjawab.
Menurut Valens Daki So’o, Hubungan Goris Mere dan Serfolus Tegu mulai terjalin di tahun 2019. Kala itu, Serfolus Tegu menjabat sebagai Kabag OPS Polres Ngada dan Goris mere memerintahkan Serfolus untuk menyukseskan Waduk Lambo dengan menetralkan situasi di lapangan karena konflik pro dan kontra Waduk Lambo.
Tegu dipercaya GM karena posisinya sebagai Kasat Intel sekaligus putra daerah yang oleh Valens diakui sangat mengerti budaya Nagekeo. Mereka pun mulai membangun gerakan tersebut dengan membuat Grup Whatsapp bernama “Operation Waduk Lambo” yang beranggotakan Tegu, Goris Mere, Noben da Silva.
Terkait pernyataan VDS bahwa “Tegu sangat mengerti adat budaya Nagekeo” dan sukses di waduk Lambo, kita mesti beri catatan khusus agar VDS tidak menyesatkan publik. Omongan ngawur dan asbun mesti diluruskan meski itu berasal dari “staf khusus dari staf khusus.”
Pertama, kalau Serfolus Tegu tahu adat dan budaya Nagekeo sesuai hoaks VDS maka fakta pada Selasa, 27 Mei 2025 di Aula Kantor Pertanahan Kabupaten Nagekeo. tidak akan pernah terjadi karena pihak yang memiliki hak adalah tiga kepala suku: Redu, Isa dan Gaja. Kenapa Serfolus Tegu dan Kapolres Nagekeo hadir dan menjadi aktor utama menekan tiga kepala suku untnk menandatangani spesimen atas nama Wunibaldus Wedo yang adalah “tuan tanah palsu” alias “tuan tanah dadakan” hasil gorengan mafia waduk Lambo yang diotaki Tegu? Fakta ini sangat fatal. Ada apa di balik ini? Inikah profil Serfolus Tegu yang VDS banggakan sebagai tokoh tahu adat Nagekeo?
Kedua, mengapa Serfolus Tegu mendukung “tuan tanah palsu” atau “tuan tanah dadakan” bernama Wunibaldus Wedo melakukan fani di lahan yang tidak masuk dalam Penlok satu, dua dan tiga (belum ada tanda tangan gubernur) dan berani menghentikan pekerjaan selama seminggu? Dalam budaya Rendu, fani: menancapkan pucuk daun aren di atas tanah untuk menegaskan status kepemilikan atas tanah, Kalau fani itu terjadi di dalam lahan Penlok, hal itu bisa saja tapi ini di luar lokasi. Pertanyaan: mengapa Wedo yang adalah tuan tanah palsu sangat berani bahkan “bodok” (bodoh tingkat tinggi dalam sebutan orang Flores) menghentikan pembangunan sebuah proyek strategis nasional (PSN) yang diamanatkan negara dan Kapolres Nagekeo bersama jajarannya khususnya Serfolus Tegu diam saja? Bukankah itu bagian dari strategi mafia waduk Lambo yang diotaki Serfolus Tegu? Inikah bukti klaim VDS bahwa Serfolus Tegu tahu adat dan budaya Nagekeo dan sukses di waduk Lambo? VDS Ngawur dan asbun. VDS semakin menambah deretan pembela Serfolus Tegu yang asbun setelah Hans Gore, Kosmas Jo Oko dan Tobbyas Ndiwa!
Kepada pihak-pihak yang gemar mengkriminalisasi saya-mulai dari pelaporan ke Polres Nagekeo hingga kini ke Polda NTT-apakah Anda sungguh tidak melihat adanya pola pembungkaman yang masif di Nagekeo? Wartawan kritis dipanggil polisi, diinterogasi berulang kali, bahkan diancam. Warga yang dirugikan oleh kelompok mafia diperlakukan dengan cara serupa.
Terkait laporan kepada saya, pengacara gondrong dengan rambut tidak terurus bernama Kosma Jo Oko melaporkan saya ke Polres Nagekeo pada Selasa 21 Oktober 2025 karena diduga mencemarkan nama baik Serfolus Tegu, Kabag Ops Polres Nagekeo. Selama rentang waktu itu, tidak pernah ada tindak lanjut terhadap laporan itu. Mungkin itu gertak murahan dari pengacara gondrong yang banyak tersangkut masalah juga sehingga logis kalau selalu setia menghadirkan masalah tanpa solusi. Orang ini kalau omong persis minum air asin. Tidak jelas kata-katanya. Rupanya ada gejala menuju kelainan jiwa sebagaimana yang ia tuduhkan kepada orang lain. Herannya, pengacara gondrong ini omong sendiri macam orang sakit jiwa atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kronis bahwa ia telah mengirim surat untuk menarik kembali laporan terhadap saya di Polres Nagekeo dan entah saya mau dilaporkan lagi oleh gondrong ini kepada temannya: Beelzebul. Dia lapor sendiri, omong sendiri, diam sendiri lalu panik, bingung, buat surat tarik laporan sendiri. Perbuatan macam ini diduga hanya mampu dilakukan oleh orang dengan gangguan jiwa akut.
Kosmas ini diduga pengacara terdungu di seluruh dunia karena tidak bisa membedakan kritik kepada pejabat publik dan kritik kepada pibadi. Serfolus Tegu itu pejabat publik yang digaji pajak rakyat. Jangankan pastor atau jurnalis, pengacara gondrong pun wajib hukumnya mengkritik Serfolus Tegu karena diduga terlibat dalam banyak kasus kejahatan. Selama ini para pengacara yang membela Serfolus Tegu asal bunyi (asbun). Para pengacara asbun ini datang dari ibukota untuk “cari makan” di kampung halaman lalu memutarbalikkan fakta seolah orang di Nagekeo dan Flores dungu seperti mereka. Gerombolan pembela Tegu ini berulangkali membantah: Tegu “kudus” “suci” “tanpa noda” tapi Propam Polda NTT turun bertemu warga korban lalu Propam Polda NTT sudah memeriksa Serfolus Tegu sebanyak dua (2) kali. Media “Voxntt.Com menulis sebuah laporan bertajuk “Polisi Pelapor Imam Katolik Diduga Terlibat dalam Banyak Skandal di Nagekeo” (Voxntt.com 27/10/2025). Pengacara gondrong Kosmas, Tegu, Ndiwa, Gore, VDS dan komplotan mafia Nagekeo pasti tidak pernah membaca artikel di media resmi seperti ini karena level orang-orang ini adalah media abal-abal seperti politinusantara.com dan sejenisnya. Mereka tulis sendiri, baca sendiri lalu bagi di kalangan mereka termasuk Dus Wedo, Patris Seo, tokoh adat pelanggan Kafe Coklat dan sejenisnya.
Fakta ini saja sudah meruntuhkan suara asbun para pengacara yang dikenal selain asbun tapi sarat blunder sembrono. Misalnya, Tobbyas Ndiwa adalah bagian dari komplotan yang pertama-tama membuka tirai nama orang kuat Jakarta bernama Gories Mare dan mengumbar kebocoran dan penyalahgunaan data intelijen Polres Nagekeo untuk menyerang saya dan wartawan kritis lain. Data yang dibocorkan Tobby Ndiwa ini kemudian dibantah Ketua Komini 1 DPRD Nagekeo, Mbulang Lukas sebagai data bohong dan hoaks. Jadi bisa kita bayangkan betapa berlapisnya blunder dan asbun Tobby Ndiwa ini! Apakah kita masih bisa dipaksa untuk percaya pada orang model penyebar hoaks asbun Tobbyas Ndiwa ini?
Praktik-praktik yang dilakukan gerombolan pengacara yang mengeroyok saya seperti ini bukan hanya bertentangan dengan prinsip demokrasi, tetapi juga menyalahi UUD 1945 dan Hak Asasi Manusia, yang menjamin kebebasan berekspresi, hak atas informasi, dan perlindungan terhadap intimidasi. Lebih jauh lagi, pembungkaman semacam ini merampas hak kontrol masyarakat terhadap penyelenggaraan negara dan proses pembangunan. Ketika suara kritis dibungkam, transparansi hilang, dan ruang publik menjadi gelap, yang tercipta adalah sebuah kondisi yang justru menjadi ladang subur bagi mafia untuk terus beroperasi.
Kembali ke legal standing VDS dalam jumpa pers, publik kritis bertanya, apakah seorang “staf khusus dari staf khusus” layak menggelar jumpa pers untuk kepentingan GM? Jika memang tujuannya untuk membela kehormatan GM, mengapa bukan GM sendiri yang menggelar jumpa pers atau paling tidak hadir, hadir secara online jika tidak bisa offline.
Sesi pertemuan pers itu jauh dari suasana profesional. Sebagian besar wartawan yang hadir adalah pendukung VDS sendiri, termasuk anggota kelompok bernama KH Destroyer. Mereka berasal dari media abal-abal yang mudah diarahkan. Nama-nama seperti Gusti Bebi dan Serif Goa lebih dikenal sebagai “tukang pukul” daripada jurnalis. Kedua orang ini bahkan pernah membantu Kapolres Nagekeo AKBP Yudha Pranata menghalau demonstrasi mahasiswa GMNI tahun 2023.
Di ruangan itu hadir pula Anyo, Sherif Goa, dan Bernard Sapu, juga ada wartawan yang didatangkan dari Ende. Namun alih-alih bertanya soal substansi-apa dasar GM menugaskan Tegu, apakah ada mafia lahan, apakah benar ada penyelewengan BBM dan tambang ilegal-mereka justru bergantian memaki saya. Tujuan mereka jelas: mendegradasi kredibilitas saya dan mengangkat GM setinggi langit. Tapi untung bahwa mereka itu kumpulan begundal komplotan mafia yang publik tidak percaya lagi. Mereka itu hanya riak-riak kecil di bibir waduk Lambo. Suara mereka adalah sisa-sisa napas terakhir sebelum dibenamkam ke dalam sumur waduk.
Dengan cara itu, mereka mengharapkan, tulisan saya tidak lagi dipercaya publik, sebaliknya glorifikasi kepada GM berlangsung selamanya. Semua bantuan dan jasa baik GM diulang-ulang seperti ‘litania’. Cara yang justru merugikan GM. Bahkan VDS dengan gagah berani menyebut bantuan GM untuk para uskup di Flores dalam beberapa hal. Apakah ini menjulangkan nama GM ke langit tertinggi? Apakah penyebutan bantuan itu tidak dilihat sebagai sebuah upaya untuk menghancurkan kredibilitas GM di mata Gereja Katolik?
Di tengah hiruk pikuk caci maki, hanya dua wartawan kritis yang hadir dalam konferensi pers abal-abal itu yang menahan jalannya acara agar tetap berada pada rel. Pertanyaan kedua jurnalis ini tajam dan berlapis. Pertanyaan keduanya di penghujung jumpa pers seperti hujan yang menghapus panas setahun.
Gerombolan mafia diketahui terus mengumpulkan sisa kekuatan untuk membungkam suara kebenaran meski publik tahu mereka kehilangan fondasi moral. Ibarat singa terluka, mereka melabrak ke sana ke mari. Ada laporan ke polisi, narasi di media abal-abal, narasi garang di berbagai platform media sosial (Sosmed), dan terakhir menggelar jumpa pers. Mereka malah pernah merancang sebuah aksi demo yang tak bersambut.
Jika aksi demo jadi digelar, maka lengkaplah perjuangan mereka dalam mempertahankan hegemoni mereka di Waduk Lambo dan sekitarnya. Saya selalu menyebut fakta lapangan dengan “diduga” dan “patut diduga” karena tulisan saya bukan sebuah tuduhan. Berbeda dengan pengacara asbun yang berkeliling ke semua media sosial untuk menyebar hoaks, kebohongan dan kesesatan yang memalukan dan menjijikkan. Memang itu pekerjaan harus dilakukan karena mereka harus menunjukkan loyalitas murahan pada orang yang menjamin hidupnya.
Saya hanya membela rakyat terdampak di Waduk Lambo lewat tulisan. Saya tidak punya niat dan kekuatan untuk menggelar demo. Saya cukup menggunakan tulisan berisi narasi mencerahkan untuk menggedor kesadaran publik yang tidak tahu hak-haknya dan kalau pun tahu, mereka takut memperjuangkannya. Sepanjang saya tahu, VDS pernah menulis satu opini menyerang saya di salah satu media sekaligus mengglorifikasi GM. Antek-anteknya terutama pengacara asbun tergopoh-gopoh mengedarkannya meski hanya kelompok aliran glorifikasi “masa lalu” yang memberi respons. Opini baru satu kali, VDS lalu menggelar jumpa pers yang diawali ngopi sore dan ditutup makan malam. Saya sendiri tidak tertarik membaca tulisan VDS karena sangat jauh dari standar mutu minimalis tapi hanya sekelebat melihat “kursi” yang diperlihatkan “staf khusus dari staf khusus” di ruang kerja itu.
Catatan khusus: setelah konferensi pers ada pembagian amplop berisi uang Rp300.000 bertuliskan: Valens Daki-Soo (VDS). Amplop yang di luarnya tertulis: Valens Daki-Soo (VDS) beredar luas di kalangan orang Nagekeo. Publik semakin tahu mengapa VDS mati-matian membela GM. Ada wartawan yang bertanya kepada VDS: Apakah amplop dan isinya yang dibagi ini tidak akan diungkit lagi di kemudian hari? Pertanyaan kritis ini sesungguhnya tidak pernah lahir dari ruang hampa! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kecuali pohon itu berdiri di tebing curam! Amplop bertuliskan: Valens Daki-Soo (VDS) ini menegaskan praktik kotor komplotan mafia yang selalu terbiasa menaklukkan orang dengan uang dan pedang hukum. Belum lagi kalau Serfolus Tegu masuk dengan Kafe Coklat!
Saya tegaskan: saya tidak pernah akan mundur, apalagi takut berhadapan dengan siapa pun! Termasuk ketika mesti berhadapan dengan “masa lalu” yang terus diglorifikasi VDS. Saya orang kecil, tidak punya jejaring internasional, tidak punya kekuatan masa lalu untuk diglorifikasi tapi tulisan saya bisa membuat orang keluar dari lubang persembunyian dan menunjukkan wajahnya yang asli. Opini mesti dijawab dengan opini, bukan jumpa pers. Saya siap beradu gagasan dengan siapa pun!
Tapi saya paham: anak ayam yang selama ini bersembunyi di ketiak induk sedang mencecit kegelisahan karena diduga induknya sedang diamuk badai kepanikan tak terbayangkan. Itu filosofi usang tapi tetap aktual yang saya belajar dari kampung halaman saya. Saya ungkapkan ini hanya untuk menjaga kemurnian komitmen bersama orang Redu, Isa dan Gaja, bahkan orang kecil di mana pun. Saya terus menulis karena saya hidup dari pikiran saya. Saya tidak sudi merendahkan diri saya dan menjadi jongos orang lain karena itu akan menjadi bukti bahwa saya abai mengembangkan talenta yang Tuhan titip kepada saya.
Mengapa VDS Ngotot Bela GM?
Merasa diri kuat dan dekat dengan orang kuat kadang membuat seseorang kehilangan hikmat. Salah satu pesan utama dari kebijaksanaan para leluhur adalah ini: Sampaikanlah yang benar, tetapi tidak semua yang benar harus disampaikan. Tulislah yang benar, tetapi tidak semua yang benar harus dituliskan. Bicaralah yang benar, tetapi tidak semua yang benar layak dibicarakan di ruang publik. Kearifan ini mengajarkan pengendalian diri, kepekaan situasional, dan kesadaran bahwa kebenaran pun harus diolah dengan kebijaksanaan agar tidak menimbulkan kerusakan baru.
Di sinilah pentingnya seseorang mengendalikan diri dalam berbicara. Ketika seseorang merasa kuat karena kedekatannya dengan orang kuat, sering kali ia lupa bahwa kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan mengendalikan kata-kata, bukan mengumbar informasi yang tidak perlu, apalagi yang berpotensi membakar situasi.
Publik bertanya, mengapa VDS begitu ngotot membela GM, sosok yang sejak lama dikenal sebagai figur kuat dengan jejaring elite di Jakarta? Mengapa ia mati-matian tampil di panggung publik, bahkan rela mempertaruhkan nama dan reputasinya sendiri untuk membela seorang jenderal pensiunan yang tidak berada dalam posisi terancam?
Pertanyaan ini muncul karena pembelaan yang berlebihan terhadap orang kuat hampir selalu menimbulkan tanda tanya: Ada apa? Apa motifnya? Siapa diuntungkan? Apa yang sedang diselamatkan?
Pertanyaan yang lebih mendalam, sangat relevan dan kontekstual dengan realitas Nagekeo: mengapa VDS begitu sibuk dan pasang badan luar biasa untuk membela GM yang sebenarnya tidak kurang sesuatu apa pun dalam hidupnya dibandingkan dengan rakyat kecil di Redu, Isa dan Gaja yang selama ini tertindas oleh ulah mafia waduk Lambo? Sebagai seorang pensiunan jenderal dengan segala kiprah nasional bahkan internasional, GM sebenarnya “sudah selesai” dengan semua hal remeh temeh yang dikoarkan VDS dengan berapi-api dalam konferensi pers sarat skandal itu. Saya tahu bahwa konperensi pers itu didominasi serangan membabi buta dan caci maki dari para wartawan piaraan KH Destroyer yang gelisah karena tidak lama lagi akan kehilangan ketiak tempat mereka mengais hidup dengan modal murahan: tulisan hoaks, bohong dan sesat.
Apakah memang ini tugas VDS sebagai “staf khusus dari staf khusus” dengan kekhususan pasang badan melakukan pembelaan dengan menyerang orang lain? Apakah sosok GM yang diglorifikasi sepanjang masa oleh VDS sedang berada dalam kondisi sangat panik, gelisah dan ketakutan berhadapan dengan pena suara rakyat kecil sehingga VDS merasa sangat berkepentingan dan berutang budi untuk membelanya “pasang badan” dengan menyerang orang lain?
Kontras dengan itu, saya tidak memiliki kepentingan apa pun dalam mengangkat kasus mafia Waduk Lambo dan berbagai praktik mafia lainnya di Nagekeo. Saya tidak memperoleh keuntungan politik, ekonomi, maupun sosial dari membela rakyat kecil. Yang saya dapat justru tekanan, intimidasi, dan kriminalisasi. Saya dihina dan difitnah sangat keji dan melampaui rasa kemanusiaan yang normal. Saya diserang, dimaki, dihujat bahkan dilaporkan ke polisi lalu laporan ditarik kembali dan mungkin saja komplotan mafia yang panik dan kepanasan itu akan melaporkan saya kembali ke teman mereka: Beelzebul. Saya hadapi semuanya dengan jiwa besar, sikap tenang dan mawas diri dalam relasi sosial. Tapi komitmen saya jelas: Saya tidak akan menyetor kebodohan kepada orang semodel pengacara gondrong dan Tobby Ndiwa itu!
Saya komit tetap menulis. Inilah bentuk nyata tanggung jawab moral kemanusiaan yang bisa saya persembahkan kepada orang-orang kecil yang ditindas. Saya tidak akan pernah berhenti menulis hanya karena gertak sambal bahkan serangan sedashyat apa pun. Apalagi serangan itu datang dari komplotan mafia Nagekeo yang sedang saya hadapi saat ini. Karena itulah tugas moral seorang imam. Tugas moral imam adalah berdiri di pihak yang lemah.
Dalam tradisi Katolik, seorang imam bukan hanya pemimpin liturgi. Ia adalah pelayan umat, penjaga suara nurani masyarakat, dan saksi moral di tengah dunia yang tak selalu adil. Ada beberapa dasar teologis dan moral yang menjelaskan mengapa saya wajib membela mereka yang tertindas.
Ajaran sosial Gereja Katolik jelas: Allah memiliki keberpihakan istimewa kepada orang miskin, tersisih, dan tertindas. Karena itu, Gereja dan para imam-sebagai utusan Gereja-harus menempatkan suara, tenaga, dan keberanian mereka di barisan yang sama dengan kaum kecil. Seorang imam tidak boleh netral ketika ada ketidakadilan. Netralitas di tengah penindasan adalah keberpihakan kepada penindas. Seorang imam dipanggil untuk menjadi gembala yang melindungi, bukan penonton yang pasif ketika umatnya diterkam mafia tanah, mafia proyek, atau mafia kekuasaan. Ketika warga kecil ditindas, imam tidak bisa berdiam diri. Diam berarti mengkhianati martabat imamatnya!
Dalam tradisi Kristiani, imam memiliki fungsi kenabian: menyampaikan kebenaran kepada yang berkuasa, bahkan bila itu tidak populer dan mengundang risiko. Para nabi dalam Kitab Suci tidak membela raja atau penguasa. Justru merekalah yang menegur korupsi, mengecam penindasan, dan membela rakyat kecil di hadapan kekuasaan. Ketika saya mengkritik praktik mafia Waduk Lambo, saya sedang menjalankan fungsi kenabian ini. Saya tidak mencari musuh, tetapi tegas membela mereka yang tak punya suara.
Yang kuat tidak membutuhkan imam untuk menyelamatkannya. Yang lemah-para petani, pemilik lahan, warga yang diintimidasi, kaum yang dipanggil polisi berulang-ulang-justru membutuhkan kehadiran moral imam. Seorang imam tidak mengejar pujian. Ia tidak berkepentingan menjaga citra orang kuat. Apalagi bersembunyi di balik ketiak orang kuat yang pada waktunya akan menjadi orang lemah juga. Ia berkepentingan menjaga martabat manusia. Ini adalah kompas moral yang membedakan tugas seorang imam dari kepentingan politis atau relasi kuasa.
Klaim Paling Berjasa di Waduk Lambo
Waduk Mbay/Lambo-populer dengan nama Waduk Lambo-adalah proyek strategis nasional (PSN). Waduk yang akan menambah debit air Irigasi Mbay ini menelan biaya Rp 1,9 triliun. Proyek ini masih dalam proses pembangunan, bahkan sebagian besar masih dalam tahap pembebasan lahan. Kita berharap, Waduk Lambo rampung selambatnya 2027.
Siapa yang paling berjasa terhadap Waduk Lambo?
Selama ini ada pihak tertentu yang mengklaim paling berjasa. Pihak yang paling berjasa itu mengerucut pada dua nama: Komjen Pol (Pur) Gories Mere (GM) dan AKP Serfolus Tegu (ST). Narasi ini disusun oleh mereka yang mengeruk keuntungan di proyek Waduk Lambo. Nama GM dan ST diagung-agungkan, diglorifikasi. Seakan tanpa dua figur ini, Waduk Lambo tidak ada!
Benarkah klaim ini? Tidak benar sama sekali! Ini adalah narasi para pemburu rente! Narasi mereka yang hendak mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari proyek Waduk Lambo. Tak peduli, apakah warga terdampak bertambah sejahtera atau semakin miskin dengan kehadiran waduk.
Kalau begitu, mana yang benar? Siapa paling berjasa?
Pertama, pihak yang paling berjasa terhadap kehadiran Waduk Lambo adalah warga terdampak, yakni warga Rendu, Kawa, Lambo, dan Ndora. Lahan terbesar yang masuk area waduk adalah lahan milik warga Rendu. Jika warga terdampak tetap menolak, proyek Waduk Lambo tidak bisa dibangun. Ini yang terpenting!
Kedua, pihak yang paling berjasa terhadap kehadiran Waduk Lambo adalah pemerintah RI, yang mengalokasikan dana Rp 1,9 triliun untuk membangun waduk. Ini bukan angka kecil dan dana ini berasal dari APBN yang adalah uang rakyat Indonesia.
Peran kedua pihak ini mencapai 90%! Mengapa?
1. Jika warga terdampak tidak bersedia, waduk tidak akan dibangun.
2. Jika tidak ada uang sebesar Rp 1,9 triliun tidak akan ada waduk sebesar Waduk Lambo. Kalau dikonversikan ke kerbau jantan dengan harga Rp 15 juta per ekor, berapa ekor yang dibutuhkan?
Sebesar 9% adalah peran Pemda Nagekeo. Jika tidak ada jaminan dari Pemda, Kementerian PU-PR saat itu tidak akan menyetujui pemindahan kembali biaya waduk Rp 1,9 triliun dari Sumatera ke Nagekeo. Karena ada jaminan dari Pemda Nagekeo, maka pada tahun 2021, di hadapan Bupati Nagekeo, dua anggota dewan dari NTT, GM, dan seorang jurnalis, Pak Basuki Hadimuljono, Menteri PU-PR, memutuskan untuk mengembalikan proyek senilai Rp 1,9 triliun itu ke Nagekeo. Fakta sejarah ini yang tidak pernah diketahui VDS. Makanya VDS omong ngawur dan asbun itu tadi.
Sedang sisanya, 1%, adalah peran Polri, TNI, media, dan berbagai pihak. Yang meyakinkan warga terdampak untuk menyetujuo Waduk Lambo bukan hanya satu-dua orang. Pengamanan area waduk dan warga terdampak selama proses ganti rugi dan pembangunan adalah tugas anggota Polri. Mereka dibayar negara untuk menjaga keamanan dan melakukan pengamanan. Maka kalau ada polisi semodel Serfolus Tegu diklaim oleh VDS sebagai orang paling berjasa dan sukses di waduk Lambo, sekali lagi itu omongan ngawur kesekian kali dan asbun juga kesekian kalinya.
Fakta di Depan Mata
Korban mafia hanya dapat dilihat dengan mata hati, bukan sekadar mata kepala. Luka-luka warga tidak terlihat dalam bentuk angka di atas kertas, tetapi dalam sesenggukan ibu-ibu, getirnya bapak-bapak yang kehilangan tanah warisan, dan masa depan anak-anak yang dirampas paksa. Semua ini hanya bisa dirasakan oleh hati yang hidup dan para mafia waduk telah lama membunuh hatinya sendiri.
Para mafia waduk tak punya mata hati. Mereka melihat tanah hanya sebagai harga jual, bukan kampung halaman; mereka melihat perempuan hanya sebagai objek eksploitasi, bukan manusia; mereka melihat warga hanya sebagai hambatan, bukan sebagai sesama. Hati mereka keras seperti batu: senyap, dingin, dan tak lagi mengenal suara nurani. Seakan-akan seluruh hidup mereka didorong oleh keinginan untuk menguasai, menaklukkan, dan meraup keuntungan.
Menyedihkan, hati mereka bahkan tidak tersentuh oleh penderitaan orang lain. Mereka bisa tidur nyenyak ketika tetangganya meringis kesakitan. Mereka bisa tertawa lebar ketika warga berdebat untuk mempertahankan tanah leluhur. Dalam dunia gelap mereka, moral hanyalah dekorasi kosong, etika tidak lebih dari jargon kosong, dan keadilan dianggap ancaman.
Di tengah kekacauan ini, masyarakat kecil berteriak, tetapi suara mereka ditelan oleh bisingnya kepentingan. Ketika warga datang membawa air mata, para mafia menjawab dengan tawa sinis. Ketika warga datang membawa bukti penindasan, mereka menutup telinga. Ketika warga datang dengan harapan, mereka menghancurkannya tanpa rasa bersalah. Seakan-akan empati bagi mereka adalah kelemahan yang harus dikubur.
Semua kebutaan moral ini bersumber dari satu hal: dominannya kepentingan pribadi. Demi uang, mereka rela menipu; demi jabatan, mereka rela menjual nurani; demi jaringan kuasa, mereka rela menindas orang kecil. Uang dan kuasa telah menjadi berhala baru: disembah dengan penuh kesetiaan, dipertahankan dengan segala cara, bahkan dengan mengorbankan martabat sesama manusia.
Lihatlah dengan Hati
Pada akhirnya, publik Nagekeo tentu sudah mampu menilai sendiri siapa yang berbicara dengan integritas dan siapa yang sekadar mengumbar caci maki untuk menutupi kegelisahan batinnya dan kepanikan jiwanya pada usia yang semakin uzur. Fakta tidak bisa dibungkam oleh teriakan, dan kebenaran tidak dapat ditenggelamkan oleh jumpa pers yang penuh kepalsuan. Sejarah selalu membuktikan bahwa suara rakyat kecil, sekalipun pelan, akan menemukan jalannya. Di hadapan nurani masyarakat, kebohongan sehebat apa pun tidak akan bertahan lama.
Mereka yang merasa kuat karena kedekatan dengan orang kuat lupa bahwa rakyatlah sumber kekuatan moral sebuah daerah. Ketika rakyat disisihkan, suara mereka dibungkam, dan martabat mereka diinjak-injak, maka yang runtuh pertama-tama bukan hanya tatanan sosial, tetapi juga legitimasi moral para pelakunya. Mafia Waduk Lambo boleh saja membuat panggung untuk memaki, menggertak, atau mengintimidasi. Namun panggung yang dibangun di atas pasir kepentingan pribadi tidak akan bertahan ketika gelombang kebenaran tiba.
Bagi saya, tugas moral seorang imam-yang tetap seorang manusia biasa-tidak pernah berubah: berdiri di pihak yang lemah, menguatkan mereka yang gentar, dan bersuara bagi mereka yang dibungkam. Jika karena itu saya dimaki, dikriminalisasi, atau diserang, maka biarlah semuanya terjadi. Imamat bukan soal kenyamanan, tetapi keberanian; bukan soal popularitas, tetapi kesetiaan pada suara nurani dan pembelaan terhadap martabat manusia. Tugas ini bukan sekadar hasil pilihan pribadi, melainkan panggilan yang harus dijalani sampai akhir.
Kepada para mafia yang terus menggerakkan sisa kekuatan untuk mempertahankan dominasi di Nagekeo, saya hanya ingin mengatakan: berhentilah sejenak dan lihatlah dengan mata hati. Lihat penderitaan rakyat, dengar keluhan mereka, dan rasakan tangis mereka. Selama Anda masih menutup hati, selama itu pula hidup Anda akan dikuasai oleh ketakutan. Karena musuh terbesar para mafia bukanlah saya, tetapi kebenaran yang tidak bisa anda hentikan. Kebenaran itu, cepat atau lambat, akan selalu menemukan jalan untuk menang.
Dan kepada rakyat Nagekeo, jangan pernah kehilangan harapan. Suara Anda sangat penting. Penderitaan Anda nyata. Perjuangan Anda sah dan bermartabat. Bangkitlah sebagai satu komunitas yang tidak tunduk pada intimidasi. Ketahuilah bahwa sejarah selalu berpihak pada mereka yang memperjuangkan keadilan, bukan pada mereka yang memupuk kekuasaan di atas derita sesama. Selama hati Anda tetap hidup, selama nurani Anda tetap menyala, selama itu pula mafia tidak akan pernah benar-benar menang. Sebab kekuatan terbesar rakyat kecil bukan pada jumlah mereka, tetapi pada kebenaran yang mereka bawa dengan susah payah. *
Fakta ini saja sudah meruntuhkan suara asbun para pengacara yang dikenal selain asbun tapi sarat blunder sembrono. Misalnya, Tobbyas Ndiwa adalah bagian dari komplotan yang pertama-tama membuka tirai nama orang kuat Jakarta bernama Gories Mare dan mengumbar kebocoran dan penyalahgunaan data intelijen Polres Nagekeo untuk menyerang saya dan wartawan kritis lain. Data yang dibocorkan Tobby Ndiwa ini kemudian dibantah Ketua Komini 1 DPRD Nagekeo, Mbulang Lukas sebagai data bohong dan hoaks. Jadi bisa kita bayangkan betapa berlapisnya blunder dan asbun Tobby Ndiwa ini! Apakah kita masih bisa dipaksa untuk percaya pada orang model penyebar hoaks asbun Tobbyas Ndiwa ini?
Praktik-praktik yang dilakukan gerombolan pengacara yang mengeroyok saya seperti ini bukan hanya bertentangan dengan prinsip demokrasi, tetapi juga menyalahi UUD 1945 dan Hak Asasi Manusia, yang menjamin kebebasan berekspresi, hak atas informasi, dan perlindungan terhadap intimidasi. Lebih jauh lagi, pembungkaman semacam ini merampas hak kontrol masyarakat terhadap penyelenggaraan negara dan proses pembangunan. Ketika suara kritis dibungkam, transparansi hilang, dan ruang publik menjadi gelap, yang tercipta adalah sebuah kondisi yang justru menjadi ladang subur bagi mafia untuk terus beroperasi.
Kembali ke legal standing VDS dalam jumpa pers, publik kritis bertanya, apakah seorang “staf khusus dari staf khusus” layak menggelar jumpa pers untuk kepentingan GM? Jika memang tujuannya untuk membela kehormatan GM, mengapa bukan GM sendiri yang menggelar jumpa pers atau paling tidak hadir, hadir secara online jika tidak bisa offline.
Sesi pertemuan pers itu jauh dari suasana profesional. Sebagian besar wartawan yang hadir adalah pendukung VDS sendiri, termasuk anggota kelompok bernama KH Destroyer. Mereka berasal dari media abal-abal yang mudah diarahkan. Nama-nama seperti Gusti Bebi dan Serif Goa lebih dikenal sebagai “tukang pukul” daripada jurnalis. Kedua orang ini bahkan pernah membantu Kapolres Nagekeo AKBP Yudha Pranata menghalau demonstrasi mahasiswa GMNI tahun 2023.
Di ruangan itu hadir pula Anyo, Sherif Goa, dan Bernard Sapu, juga ada wartawan yang didatangkan dari Ende. Namun alih-alih bertanya soal substansi-apa dasar GM menugaskan Tegu, apakah ada mafia lahan, apakah benar ada penyelewengan BBM dan tambang ilegal-mereka justru bergantian memaki saya. Tujuan mereka jelas: mendegradasi kredibilitas saya dan mengangkat GM setinggi langit. Tapi untung bahwa mereka itu kumpulan begundal komplotan mafia yang publik tidak percaya lagi. Mereka itu hanya riak-riak kecil di bibir waduk Lambo. Suara mereka adalah sisa-sisa napas terakhir sebelum dibenamkam ke dalam sumur waduk.
Dengan cara itu, mereka mengharapkan, tulisan saya tidak lagi dipercaya publik, sebaliknya glorifikasi kepada GM berlangsung selamanya. Semua bantuan dan jasa baik GM diulang-ulang seperti ‘litania’. Cara yang justru merugikan GM. Bahkan VDS dengan gagah berani menyebut bantuan GM untuk para uskup di Flores dalam beberapa hal. Apakah ini menjulangkan nama GM ke langit tertinggi? Apakah penyebutan bantuan itu tidak dilihat sebagai sebuah upaya untuk menghancurkan kredibilitas GM di mata Gereja Katolik?
Di tengah hiruk pikuk caci maki, hanya dua wartawan kritis yang hadir dalam konferensi pers abal-abal itu yang menahan jalannya acara agar tetap berada pada rel. Pertanyaan kedua jurnalis ini tajam dan berlapis. Pertanyaan keduanya di penghujung jumpa pers seperti hujan yang menghapus panas setahun.
Gerombolan mafia diketahui terus mengumpulkan sisa kekuatan untuk membungkam suara kebenaran meski publik tahu mereka kehilangan fondasi moral. Ibarat singa terluka, mereka melabrak ke sana ke mari. Ada laporan ke polisi, narasi di media abal-abal, narasi garang di berbagai platform media sosial (Sosmed), dan terakhir menggelar jumpa pers. Mereka malah pernah merancang sebuah aksi demo yang tak bersambut.
Jika aksi demo jadi digelar, maka lengkaplah perjuangan mereka dalam mempertahankan hegemoni mereka di Waduk Lambo dan sekitarnya. Saya selalu menyebut fakta lapangan dengan “diduga” dan “patut diduga” karena tulisan saya bukan sebuah tuduhan. Berbeda dengan pengacara asbun yang berkeliling ke semua media sosial untuk menyebar hoaks, kebohongan dan kesesatan yang memalukan dan menjijikkan. Memang itu pekerjaan harus dilakukan karena mereka harus menunjukkan loyalitas murahan pada orang yang menjamin hidupnya.
Saya hanya membela rakyat terdampak di Waduk Lambo lewat tulisan. Saya tidak punya niat dan kekuatan untuk menggelar demo. Saya cukup menggunakan tulisan berisi narasi mencerahkan untuk menggedor kesadaran publik yang tidak tahu hak-haknya dan kalau pun tahu, mereka takut memperjuangkannya. Sepanjang saya tahu, VDS pernah menulis satu opini menyerang saya di salah satu media sekaligus mengglorifikasi GM. Antek-anteknya terutama pengacara asbun tergopoh-gopoh mengedarkannya meski hanya kelompok aliran glorifikasi “masa lalu” yang memberi respons. Opini baru satu kali, VDS lalu menggelar jumpa pers yang diawali ngopi sore dan ditutup makan malam. Saya sendiri tidak tertarik membaca tulisan VDS karena sangat jauh dari standar mutu minimalis tapi hanya sekelebat melihat “kursi” yang diperlihatkan “staf khusus dari staf khusus” di ruang kerja itu.
Catatan khusus: setelah konferensi pers ada pembagian amplop berisi uang Rp300.000 bertuliskan: Valens Daki-Soo (VDS). Amplop yang di luarnya tertulis: Valens Daki-Soo (VDS) beredar luas di kalangan orang Nagekeo. Publik semakin tahu mengapa VDS mati-matian membela GM. Ada wartawan yang bertanya kepada VDS: Apakah amplop dan isinya yang dibagi ini tidak akan diungkit lagi di kemudian hari? Pertanyaan kritis ini sesungguhnya tidak pernah lahir dari ruang hampa! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kecuali pohon itu berdiri di tebing curam! Amplop bertuliskan: Valens Daki-Soo (VDS) ini menegaskan praktik kotor komplotan mafia yang selalu terbiasa menaklukkan orang dengan uang dan pedang hukum. Belum lagi kalau Serfolus Tegu masuk dengan Kafe Coklat!
Saya tegaskan: saya tidak pernah akan mundur, apalagi takut berhadapan dengan siapa pun! Termasuk ketika mesti berhadapan dengan “masa lalu” yang terus diglorifikasi VDS. Saya orang kecil, tidak punya jejaring internasional, tidak punya kekuatan masa lalu untuk diglorifikasi tapi tulisan saya bisa membuat orang keluar dari lubang persembunyian dan menunjukkan wajahnya yang asli. Opini mesti dijawab dengan opini, bukan jumpa pers. Saya siap beradu gagasan dengan siapa pun!
Tapi saya paham: anak ayam yang selama ini bersembunyi di ketiak induk sedang mencecit kegelisahan karena diduga induknya sedang diamuk badai kepanikan tak terbayangkan. Itu filosofi usang tapi tetap aktual yang saya belajar dari kampung halaman saya. Saya ungkapkan ini hanya untuk menjaga kemurnian komitmen bersama orang Redu, Isa dan Gaja, bahkan orang kecil di mana pun. Saya terus menulis karena saya hidup dari pikiran saya. Saya tidak sudi merendahkan diri saya dan menjadi jongos orang lain karena itu akan menjadi bukti bahwa saya abai mengembangkan talenta yang Tuhan titip kepada saya.
Mengapa VDS Ngotot Bela GM?
Merasa diri kuat dan dekat dengan orang kuat kadang membuat seseorang kehilangan hikmat. Salah satu pesan utama dari kebijaksanaan para leluhur adalah ini: Sampaikanlah yang benar, tetapi tidak semua yang benar harus disampaikan. Tulislah yang benar, tetapi tidak semua yang benar harus dituliskan. Bicaralah yang benar, tetapi tidak semua yang benar layak dibicarakan di ruang publik. Kearifan ini mengajarkan pengendalian diri, kepekaan situasional, dan kesadaran bahwa kebenaran pun harus diolah dengan kebijaksanaan agar tidak menimbulkan kerusakan baru.
Di sinilah pentingnya seseorang mengendalikan diri dalam berbicara. Ketika seseorang merasa kuat karena kedekatannya dengan orang kuat, sering kali ia lupa bahwa kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan mengendalikan kata-kata, bukan mengumbar informasi yang tidak perlu, apalagi yang berpotensi membakar situasi.
Publik bertanya, mengapa VDS begitu ngotot membela GM, sosok yang sejak lama dikenal sebagai figur kuat dengan jejaring elite di Jakarta? Mengapa ia mati-matian tampil di panggung publik, bahkan rela mempertaruhkan nama dan reputasinya sendiri untuk membela seorang jenderal pensiunan yang tidak berada dalam posisi terancam?
Pertanyaan ini muncul karena pembelaan yang berlebihan terhadap orang kuat hampir selalu menimbulkan tanda tanya: Ada apa? Apa motifnya? Siapa diuntungkan? Apa yang sedang diselamatkan?
Pertanyaan yang lebih mendalam, sangat relevan dan kontekstual dengan realitas Nagekeo: mengapa VDS begitu sibuk dan pasang badan luar biasa untuk membela GM yang sebenarnya tidak kurang sesuatu apa pun dalam hidupnya dibandingkan dengan rakyat kecil di Redu, Isa dan Gaja yang selama ini tertindas oleh ulah mafia waduk Lambo? Sebagai seorang pensiunan jenderal dengan segala kiprah nasional bahkan internasional, GM sebenarnya “sudah selesai” dengan semua hal remeh temeh yang dikoarkan VDS dengan berapi-api dalam konferensi pers sarat skandal itu. Saya tahu bahwa konperensi pers itu didominasi serangan membabi buta dan caci maki dari para wartawan piaraan KH Destroyer yang gelisah karena tidak lama lagi akan kehilangan ketiak tempat mereka mengais hidup dengan modal murahan: tulisan hoaks, bohong dan sesat.
Apakah memang ini tugas VDS sebagai “staf khusus dari staf khusus” dengan kekhususan pasang badan melakukan pembelaan dengan menyerang orang lain? Apakah sosok GM yang diglorifikasi sepanjang masa oleh VDS sedang berada dalam kondisi sangat panik, gelisah dan ketakutan berhadapan dengan pena suara rakyat kecil sehingga VDS merasa sangat berkepentingan dan berutang budi untuk membelanya “pasang badan” dengan menyerang orang lain?
Kontras dengan itu, saya tidak memiliki kepentingan apa pun dalam mengangkat kasus mafia Waduk Lambo dan berbagai praktik mafia lainnya di Nagekeo. Saya tidak memperoleh keuntungan politik, ekonomi, maupun sosial dari membela rakyat kecil. Yang saya dapat justru tekanan, intimidasi, dan kriminalisasi. Saya dihina dan difitnah sangat keji dan melampaui rasa kemanusiaan yang normal. Saya diserang, dimaki, dihujat bahkan dilaporkan ke polisi lalu laporan ditarik kembali dan mungkin saja komplotan mafia yang panik dan kepanasan itu akan melaporkan saya kembali ke teman mereka: Beelzebul. Saya hadapi semuanya dengan jiwa besar, sikap tenang dan mawas diri dalam relasi sosial. Tapi komitmen saya jelas: Saya tidak akan menyetor kebodohan kepada orang semodel pengacara gondrong dan Tobby Ndiwa itu!
Saya komit tetap menulis. Inilah bentuk nyata tanggung jawab moral kemanusiaan yang bisa saya persembahkan kepada orang-orang kecil yang ditindas. Saya tidak akan pernah berhenti menulis hanya karena gertak sambal bahkan serangan sedashyat apa pun. Apalagi serangan itu datang dari komplotan mafia Nagekeo yang sedang saya hadapi saat ini. Karena itulah tugas moral seorang imam. Tugas moral imam adalah berdiri di pihak yang lemah.
Dalam tradisi Katolik, seorang imam bukan hanya pemimpin liturgi. Ia adalah pelayan umat, penjaga suara nurani masyarakat, dan saksi moral di tengah dunia yang tak selalu adil. Ada beberapa dasar teologis dan moral yang menjelaskan mengapa saya wajib membela mereka yang tertindas.
Ajaran sosial Gereja Katolik jelas: Allah memiliki keberpihakan istimewa kepada orang miskin, tersisih, dan tertindas. Karena itu, Gereja dan para imam-sebagai utusan Gereja-harus menempatkan suara, tenaga, dan keberanian mereka di barisan yang sama dengan kaum kecil. Seorang imam tidak boleh netral ketika ada ketidakadilan. Netralitas di tengah penindasan adalah keberpihakan kepada penindas. Seorang imam dipanggil untuk menjadi gembala yang melindungi, bukan penonton yang pasif ketika umatnya diterkam mafia tanah, mafia proyek, atau mafia kekuasaan. Ketika warga kecil ditindas, imam tidak bisa berdiam diri. Diam berarti mengkhianati martabat imamatnya!
Dalam tradisi Kristiani, imam memiliki fungsi kenabian: menyampaikan kebenaran kepada yang berkuasa, bahkan bila itu tidak populer dan mengundang risiko. Para nabi dalam Kitab Suci tidak membela raja atau penguasa. Justru merekalah yang menegur korupsi, mengecam penindasan, dan membela rakyat kecil di hadapan kekuasaan. Ketika saya mengkritik praktik mafia Waduk Lambo, saya sedang menjalankan fungsi kenabian ini. Saya tidak mencari musuh, tetapi tegas membela mereka yang tak punya suara.
Yang kuat tidak membutuhkan imam untuk menyelamatkannya. Yang lemah-para petani, pemilik lahan, warga yang diintimidasi, kaum yang dipanggil polisi berulang-ulang-justru membutuhkan kehadiran moral imam. Seorang imam tidak mengejar pujian. Ia tidak berkepentingan menjaga citra orang kuat. Apalagi bersembunyi di balik ketiak orang kuat yang pada waktunya akan menjadi orang lemah juga. Ia berkepentingan menjaga martabat manusia. Ini adalah kompas moral yang membedakan tugas seorang imam dari kepentingan politis atau relasi kuasa.
Klaim Paling Berjasa di Waduk Lambo
Waduk Mbay/Lambo-populer dengan nama Waduk Lambo-adalah proyek strategis nasional (PSN). Waduk yang akan menambah debit air Irigasi Mbay ini menelan biaya Rp 1,9 triliun. Proyek ini masih dalam proses pembangunan, bahkan sebagian besar masih dalam tahap pembebasan lahan. Kita berharap, Waduk Lambo rampung selambatnya 2027.
Siapa yang paling berjasa terhadap Waduk Lambo?
Selama ini ada pihak tertentu yang mengklaim paling berjasa. Pihak yang paling berjasa itu mengerucut pada dua nama: Komjen Pol (Pur) Gories Mere (GM) dan AKP Serfolus Tegu (ST). Narasi ini disusun oleh mereka yang mengeruk keuntungan di proyek Waduk Lambo. Nama GM dan ST diagung-agungkan, diglorifikasi. Seakan tanpa dua figur ini, Waduk Lambo tidak ada!
Benarkah klaim ini? Tidak benar sama sekali! Ini adalah narasi para pemburu rente! Narasi mereka yang hendak mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari proyek Waduk Lambo. Tak peduli, apakah warga terdampak bertambah sejahtera atau semakin miskin dengan kehadiran waduk.
Kalau begitu, mana yang benar? Siapa paling berjasa?
Pertama, pihak yang paling berjasa terhadap kehadiran Waduk Lambo adalah warga terdampak, yakni warga Rendu, Kawa, Lambo, dan Ndora. Lahan terbesar yang masuk area waduk adalah lahan milik warga Rendu. Jika warga terdampak tetap menolak, proyek Waduk Lambo tidak bisa dibangun. Ini yang terpenting!
Kedua, pihak yang paling berjasa terhadap kehadiran Waduk Lambo adalah pemerintah RI, yang mengalokasikan dana Rp 1,9 triliun untuk membangun waduk. Ini bukan angka kecil dan dana ini berasal dari APBN yang adalah uang rakyat Indonesia.
Peran kedua pihak ini mencapai 90%! Mengapa?
1. Jika warga terdampak tidak bersedia, waduk tidak akan dibangun.
2. Jika tidak ada uang sebesar Rp 1,9 triliun tidak akan ada waduk sebesar Waduk Lambo. Kalau dikonversikan ke kerbau jantan dengan harga Rp 15 juta per ekor, berapa ekor yang dibutuhkan?
Sebesar 9% adalah peran Pemda Nagekeo. Jika tidak ada jaminan dari Pemda, Kementerian PU-PR saat itu tidak akan menyetujui pemindahan kembali biaya waduk Rp 1,9 triliun dari Sumatera ke Nagekeo. Karena ada jaminan dari Pemda Nagekeo, maka pada tahun 2021, di hadapan Bupati Nagekeo, dua anggota dewan dari NTT, GM, dan seorang jurnalis, Pak Basuki Hadimuljono, Menteri PU-PR, memutuskan untuk mengembalikan proyek senilai Rp 1,9 triliun itu ke Nagekeo. Fakta sejarah ini yang tidak pernah diketahui VDS. Makanya VDS omong ngawur dan asbun itu tadi.
Sedang sisanya, 1%, adalah peran Polri, TNI, media, dan berbagai pihak. Yang meyakinkan warga terdampak untuk menyetujuo Waduk Lambo bukan hanya satu-dua orang. Pengamanan area waduk dan warga terdampak selama proses ganti rugi dan pembangunan adalah tugas anggota Polri. Mereka dibayar negara untuk menjaga keamanan dan melakukan pengamanan. Maka kalau ada polisi semodel Serfolus Tegu diklaim oleh VDS sebagai orang paling berjasa dan sukses di waduk Lambo, sekali lagi itu omongan ngawur kesekian kali dan asbun juga kesekian kalinya.
Fakta di Depan Mata
Korban mafia hanya dapat dilihat dengan mata hati, bukan sekadar mata kepala. Luka-luka warga tidak terlihat dalam bentuk angka di atas kertas, tetapi dalam sesenggukan ibu-ibu, getirnya bapak-bapak yang kehilangan tanah warisan, dan masa depan anak-anak yang dirampas paksa. Semua ini hanya bisa dirasakan oleh hati yang hidup dan para mafia waduk telah lama membunuh hatinya sendiri.
Para mafia waduk tak punya mata hati. Mereka melihat tanah hanya sebagai harga jual, bukan kampung halaman; mereka melihat perempuan hanya sebagai objek eksploitasi, bukan manusia; mereka melihat warga hanya sebagai hambatan, bukan sebagai sesama. Hati mereka keras seperti batu: senyap, dingin, dan tak lagi mengenal suara nurani. Seakan-akan seluruh hidup mereka didorong oleh keinginan untuk menguasai, menaklukkan, dan meraup keuntungan.
Menyedihkan, hati mereka bahkan tidak tersentuh oleh penderitaan orang lain. Mereka bisa tidur nyenyak ketika tetangganya meringis kesakitan. Mereka bisa tertawa lebar ketika warga berdebat untuk mempertahankan tanah leluhur. Dalam dunia gelap mereka, moral hanyalah dekorasi kosong, etika tidak lebih dari jargon kosong, dan keadilan dianggap ancaman.
Di tengah kekacauan ini, masyarakat kecil berteriak, tetapi suara mereka ditelan oleh bisingnya kepentingan. Ketika warga datang membawa air mata, para mafia menjawab dengan tawa sinis. Ketika warga datang membawa bukti penindasan, mereka menutup telinga. Ketika warga datang dengan harapan, mereka menghancurkannya tanpa rasa bersalah. Seakan-akan empati bagi mereka adalah kelemahan yang harus dikubur.
Semua kebutaan moral ini bersumber dari satu hal: dominannya kepentingan pribadi. Demi uang, mereka rela menipu; demi jabatan, mereka rela menjual nurani; demi jaringan kuasa, mereka rela menindas orang kecil. Uang dan kuasa telah menjadi berhala baru: disembah dengan penuh kesetiaan, dipertahankan dengan segala cara, bahkan dengan mengorbankan martabat sesama manusia.
Lihatlah dengan Hati
Pada akhirnya, publik Nagekeo tentu sudah mampu menilai sendiri siapa yang berbicara dengan integritas dan siapa yang sekadar mengumbar caci maki untuk menutupi kegelisahan batinnya dan kepanikan jiwanya pada usia yang semakin uzur. Fakta tidak bisa dibungkam oleh teriakan, dan kebenaran tidak dapat ditenggelamkan oleh jumpa pers yang penuh kepalsuan. Sejarah selalu membuktikan bahwa suara rakyat kecil, sekalipun pelan, akan menemukan jalannya. Di hadapan nurani masyarakat, kebohongan sehebat apa pun tidak akan bertahan lama.
Mereka yang merasa kuat karena kedekatan dengan orang kuat lupa bahwa rakyatlah sumber kekuatan moral sebuah daerah. Ketika rakyat disisihkan, suara mereka dibungkam, dan martabat mereka diinjak-injak, maka yang runtuh pertama-tama bukan hanya tatanan sosial, tetapi juga legitimasi moral para pelakunya. Mafia Waduk Lambo boleh saja membuat panggung untuk memaki, menggertak, atau mengintimidasi. Namun panggung yang dibangun di atas pasir kepentingan pribadi tidak akan bertahan ketika gelombang kebenaran tiba.
Bagi saya, tugas moral seorang imam-yang tetap seorang manusia biasa-tidak pernah berubah: berdiri di pihak yang lemah, menguatkan mereka yang gentar, dan bersuara bagi mereka yang dibungkam. Jika karena itu saya dimaki, dikriminalisasi, atau diserang, maka biarlah semuanya terjadi. Imamat bukan soal kenyamanan, tetapi keberanian; bukan soal popularitas, tetapi kesetiaan pada suara nurani dan pembelaan terhadap martabat manusia. Tugas ini bukan sekadar hasil pilihan pribadi, melainkan panggilan yang harus dijalani sampai akhir.
Kepada para mafia yang terus menggerakkan sisa kekuatan untuk mempertahankan dominasi di Nagekeo, saya hanya ingin mengatakan: berhentilah sejenak dan lihatlah dengan mata hati. Lihat penderitaan rakyat, dengar keluhan mereka, dan rasakan tangis mereka. Selama Anda masih menutup hati, selama itu pula hidup Anda akan dikuasai oleh ketakutan. Karena musuh terbesar para mafia bukanlah saya, tetapi kebenaran yang tidak bisa anda hentikan. Kebenaran itu, cepat atau lambat, akan selalu menemukan jalan untuk menang.
Dan kepada rakyat Nagekeo, jangan pernah kehilangan harapan. Suara Anda sangat penting. Penderitaan Anda nyata. Perjuangan Anda sah dan bermartabat. Bangkitlah sebagai satu komunitas yang tidak tunduk pada intimidasi. Ketahuilah bahwa sejarah selalu berpihak pada mereka yang memperjuangkan keadilan, bukan pada mereka yang memupuk kekuasaan di atas derita sesama. Selama hati Anda tetap hidup, selama nurani Anda tetap menyala, selama itu pula mafia tidak akan pernah benar-benar menang. Sebab kekuatan terbesar rakyat kecil bukan pada jumlah mereka, tetapi pada kebenaran yang mereka bawa dengan susah payah. ***








