Bintang Menuntun, Iman Mencari
Inspirasi Homili Matius 2: 1 β 12, Minggu 4 Januari 2026.
Oleh : Robert Bala
WARTA-NUSANTARA.COM–Β Masuk tahun baru 2026, rasanya wajar kalau kita mulai bertanya ke diri sendiri: βHidupku mau ke mana, ya?β Apakah arah hidup kita makin jelas? Apakah keberhasilan yang pernah kita capai bisa terulang lagi? Atau justru kita masih jalan di tempat, penuh ragu dan tanda tanya?




Kalau melihat pengalaman masa lalu, kita mungkin bisa optimistis. Tapi jujur saja, realitas hidup hari ini sering bikin kita was-was. Bencana alam, konflik, krisis, dan berbagai masalah karena ulah manusia membuat hati gampang gelisah. Sudah berusaha dekat dengan Tuhan, rajin doa, ikut kegiatan rohaniβtapi kok hidup rasanya masih berat? Bahkan kadang kita melihat orang yang kelihatannya βbiasa sajaβ dalam iman, justru hidupnya terlihat lebih lancar dan sukses. Dari situ muncul pertanyaan: βTuhan, sebenarnya Engkau ke mana?β




Kegalauan seperti ini ternyata bukan cuma milik kita. Para Majus dari Timur juga mengalaminya. Mereka melihat sebuah bintangβtanda besar bahwa Sang Juru Selamat telah lahir. Bintang itu membangkitkan harapan dan membuat mereka berani meninggalkan zona nyaman untuk mencari Sang Raja Damai.



Tapi satu hal penting: mereka tidak punya jaminan akan bertemu Yesus. Tidak ada Google Maps, tidak ada peta perjalanan yang jelas. Mereka hanya punya satu petunjuk: sebuah bintang. Itupun cuma terlihat di malam hari. Perjalanan mereka panjang, penuh risiko, dan membawa mereka ke negeri asing. Wajar kalau mereka cemas dan ragu.


Dari kisah ini kita belajar sesuatu yang sangat manusiawi: Tuhan jarang memberi petunjuk hidup yang lengkap dan rinci. Yang Ia beri sering kali hanya βseberkas cahayaββcukup untuk melangkah satu tahap ke depan. Sisanya, kita diminta untuk berjalan, bertanya, berpikir, dan mengambil keputusan.
Dengan demikian, kalaupun di tahun yang sebelumnya kita telah berusaha βsekeras-kerasnyaβ tetapi belum terlihat arah yang jelas, maka jalan itu telah disampaikan melalui perjalanan para majus. Mereka tercatat dalam sejarah dan karena itu mestinya diberikan kepastian saat berjalan. Tetapi petunjuk yang ada mereka rasa cukup. Yang dibutuhkan adalah komitmen untuk menunjukkan iman yang kuat untuk terus mencari hingga dapat.




Dalam kaitan dengan para majus, demikian juga terasa dalam hidup kita, dalam saat tertentu, terasa ada saat-saat ketika bintang itu seperti menghilang. Para Majus mengalaminya ketika mereka tiba di Yerusalem. Herodes tidak melihat bintang itu. Seolah-olah Tuhan βdiamβ. Situasi ini juga sering kita alami: doa terasa kering, Tuhan terasa jauh, arah hidup kabur. Ironisnya, orang yang kelihatannya jauh dari Tuhan justru tampak hidupnya penuh kepastian dan keberuntungan.
Namun Injil hari ini mengingatkan kita: itu bukan tanda Tuhan meninggalkan kita. Justru di situlah iman kita sedang diuji dan dimatangkan. Iman bukan soal selalu merasa aman dan jelas, tapi berani melangkah meski belum tahu hasil akhirnya.
Mengapa Tuhan tidak memberi kepastian penuh, tapi hanya petunjuk samar seperti cahaya bintang?
Pertama, karena Tuhan menciptakan kita dengan akal dan hati. Kita dipanggil untuk berpikir, menimbang, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup kita. Bintang akan tetap ada, asal kita mau membuka mata dan peka membaca tanda-tanda-Nya. Para Majus memilih untuk bergerak, bukan menunggu kepastian.
Hal inilah yang membedakan para majus dari kita. Kita terlampau memaksakan melalui doa-doa kita agar Tuhan menyediakan jalan lurus yang menuntun kita hingga ke Betlehem. Kita berdoa agar tidak ada masalah yang menghalangi. Tetapi hari ini, melalui pengalaman para majus kita disadarkan bahwa masalah akan tetap ada sebagai konsekuensi kita ada di dunia. Yang pasti, Tuhan telah memampukan kita dengan otak dan hati agar dapat menemukan jalan yang lebih baik.
Kedua, karena pencarian itu lahir dari iman. Iman bukan sikap pasif, tapi keberanian untuk mencari. Bintang bisa dilihat banyak orang, tapi tidak semua orang mau menanggapi dengan cara yang sama. Para Majus mencari Yesus untuk menyembah-Nya. Herodes juga βmencariβ, tapi dengan niat yang salah. Di sinilah bedanya iman yang tulus dan kepentingan diri.
Di tengah banyak kendala, bencana yang menghadang maka sangat dibutuhkan adalah βresiliensβ. Resiliens (resilience) adalah kemampuan seseorang untuk bertahan, bangkit, dan tetap kuat ketika menghadapi kesulitan, tekanan, kegagalan, atau perubahan hidup. Dengan kata lain, resiliens itu daya lenting: kalau jatuh kita diajak untuk bangkit lagi,
bila kita merasa tertekan, jangan pernah berhenti tetapi tetap jalan. Dan bila kita gagal gagal, marilah kita terus belajar dan mencoba ulang.
Itulah yang dilakukan para majus. Mereka berhadapan dengan masalah yang sangat serius dengan Herodes tetapi hal itu tidak membuat mereka menyerah. Mereka memiliki pemikiran kritis sehingga bisa membedakan kata βmenyembahβ yang mereka mau tunjukkan ke Yesus dan kata βmenyembahβ dari Herodes yang memiliki arti bertentangan. Itu semua berkat pemikiran kritis yang sudah ada pada mereka dan tinggal mereka fungsikan ketika berhadapan dengan persoalan hidup.
Ketiga, karena perjumpaan dengan Kristus selalu menuntut perubahan. Para Majus bukan hanya melihat Yesus, tapi pulang βmelalui jalan lainβ. Artinya, hidup mereka tidak sama lagi. Bertemu Tuhan berarti siap meninggalkan cara hidup lama dan menempuh jalan baru.
Maka, kita semua, setelah menemukan terang Kristus, kita tidak berhenti di situ. Kita justru dipanggil menjadi βbintangβ bagi sesama: memberi arah, harapan, dan kekuatan bagi orang lain yang sedang berjalan dalam gelap. Tahun baru ini, mungkin hidup kita belum sepenuhnya jelas. Tapi selama kita mau mencari dengan iman, Tuhan akan selalu memberi cukup terangβselangkah demi selangkah. β¨
Robert Bala. Penulis buku Homili Inspiratif. Penerbit Kanisius Yogyakarta.







