• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • National
  • Internasional
  • Polkam
  • Hukrim
  • News
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Home
  • National
  • Internasional
  • Polkam
  • Hukrim
  • News
  • Pendidikan
  • Olahraga
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Opini

Reba dan Uwi : Akar Ontologis Peradaban Ngada Terancam Tercerabut

by WartaNusantara
Januari 9, 2026
in Opini
0
Hari Kesaktian Pancasila 2025 : Momentum Untuk Berefleksi dan Menegakkan Nilai Luhur Bangsa Indonesia
0
SHARES
142
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Reba dan Uwi : Akar Ontologis Peradaban Ngada Terancam Tercerabut

Oleh : Domitius Pau, S.Sos., M.A

Dosen Program Studi Pembangunan Sosial/Ilmu Sosiatri Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Santa Ursula, Pemerhati Masalah Sosial, Peneliti Masyarakat Adat

WARTA-NUSANTARA.COM–  Peradaban sebuah bangsa seringkali diukur dari seberapa kuat ia memegang akar sejarahnya di tengah hantaman modernisasi. Bagi masyarakat adat Ngada, kekuatan itu bukan terletak pada gedung-gedung menjulang, melainkan pada sebuah perayaan kolosal yang disebut Reba. Namun, di balik riuhnya pesta dan sakralnya tarian, tersimpan sebuah kearifan tentang kedaulatan pangan, hukum, dan norma. Narasi berikut merupakan sebuah ajakan untuk menyelami kedalaman makna Reba, bukan sekadar sebagai upacara rutin, melainkan sebagai kompas hidup bagi manusia Ngada dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin liberal. Melalui simbolisme Uwi, kita diajak untuk melihat kembali bagaimana leluhur meletakkan dasar kedaulatan dan martabat di atas tanah ulayat mereka sendiri.

RelatedPosts

Bahasa Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)

Bahaya Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)

PANDANGAN YANG SAMA Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18/1/2026.

PANDANGAN YANG SAMA Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18/1/2026.

Load More

Reba sebagai Ruang Refleksi dan Proklamasi Jati Diri

Setiap kali kalender tahunan menyentuh ujung Desember hingga Februari, sebuah denyut kehidupan yang berbeda mulai terasa di dataran tinggi hingga pesisir selatan Kabupaten Ngada di Flores Nusa Tenggara Timur. Wilayah itu seolah dipenuhi oleh aroma kebersamaan dan lantunan syair-syair kuno yang penuh daya magis. Masyarakat adat suku Ngada sedang berpesta, mereka merayakan Reba. Peristiwa ini adalah momen kolosal di mana waktu seolah berhenti berputar untuk memberikan ruang bagi refleksi diri. Namun, Reba sering dipandang segelintir orang sebagai sebuah pesta syukuran panen yang riuh ataupun sekadar seremonial “Tahun Baru Adat” yang diisi dengan penyembelihan hewan dan tarian tandak semata. Bila pandangan ini menjadi sebuah kebenaran baru, maka secara tidak sadar kita sebenarnya sedang berdiri di permukaan samudera makna yang sangat dangkal tanpa berani menyelam ke dasarnya yang paling gelap dan paling dalam.

Reba, dalam hakikatnya yang paling murni, adalah sebuah ruang pertemuan lintas dimensi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia bukan sekadar seremoni rutin tahunan yang bersifat rekreatif, melainkan sebuah proklamasi eksistensi dan pernyataan sikap atas jati diri yang bersifat reflektif. Jika kita bersedia menelusuri setiap jengkal ritualnya dengan saksama, maka akan menemukan satu kata yang terus berdengung seperti mantra suci yang tak henti-hentinya disebut dalam setiap helaan napas ritual, yaitu Uwi. Bagi masyarakat Ngada, Uwi atau ubi bukan sekadar jenis tanaman pangan merambat yang menghasilkan umbi berukuran besar dari jenis ubi-ubian lainnya. Uwi adalah personifikasi dari ketangguhan, simbol dari daya tahan hidup, dan jangkar dari identitas masyarakat adat Ngada yang tidak goyah oleh badai zaman.

Uwi sebagai Logistik Peradaban dan Kedaulatan Pangan

Secara empiris, tanaman ini adalah penyintas ulung di tengah kerasnya alam. Di wilayah-wilayah dengan cuaca ekstrem, mulai dari daratan Ghana di Afrika hingga bagian Asia yang beriklim panas dan gersang, Uwi tetap mampu menghujamkan akarnya ke dalam tanah yang retak dan memberikan kehidupan bagi setiap orang yang merawatnya. Secara historis, tanaman ini bukan sekadar makanan pelengkap, melainkan bekal suci yang menjadi logistik utama leluhur Ngada dalam perjalanan eksodus yang sangat panjang dan melelahkan dari tanah asal mereka di India Belakang menuju Nusantara, hingga akhirnya menetap di tanah Ngada. Sejarah perjalanan ini bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur atau mitos kosong, melainkan sebuah memori kolektif yang disakralisasikan melalui ritual yang disebut Su’i Uwi.

Dalam ritual Su’i Uwi, narasi tentang migrasi panjang dan perjuangan melawan keganasan alam, serta cara-cara kreatif untuk bertahan hidup dilantunkan kembali dalam bentuk syair yang menggetarkan jiwa. Di sinilah letak krusialnya, Uwi merupakan penyambung nyawa dan logistik peradaban masyarakat adat Ngada. Tanpa daya tahan yang dimiliki oleh tanaman ini, mungkin leluhur orang Ngada tidak akan pernah berhasil menaklukkan samudera dan daratan untuk sampai ke tanah yang sekarang mereka huni. Oleh karena itu, ketika masyarakat Ngada merayakan Reba dengan segala kemeriahannya, mereka sebenarnya sedang melakukan tindakan politik kebudayaan, yaitu merayakan kesetiaan pada akar sejarah yang memberi mereka hidup. Syair kuno yang berbunyi: “Uwi nga tau muzi, ledha nga mara bepa, sui moki-moki bhai moli, kutu koe-koe ana ko’e; ladu nga wai go poso koba nga rako lizu, kabu nga role nitu” merupakan sebuah tesis ekologis, sosiologis, sekaligus teologis yang sangat kuat. Maknanya sangat dahsyat dan melampaui logika pangan modern. Syair-syair ini menegaskan bahwa ubi ini adalah pemberi hidup, yang hasilnya akan selalu berlimpah ruah meski diganggu oleh hama atau hewan liar sekalipun. Ungkapan bahwa ia “bertiang gunung dan merambat hingga langit” serta “akarnya menembus dunia orang mati” memberikan gambaran tentang sebuah konektivitas yang utuh. Ini adalah gambaran tentang kedaulatan pangan yang tidak terbatas—sebuah sumber energi yang menghubungkan langit sebagai representasi spiritualitas, bumi sebagai ruang materialitas, dan dunia bawah sebagai simbol penghormatan dan kenangan kepada leluhur yang telah tiada.

Rasionalitas Lokal, Hukum Ulayat, dan Adab Peradaban

Reba juga mengajarkan kita tentang model kedaulatan pangan berbasis wilayah yang sangat maju dan visioner, bahkan jika dibandingkan dengan teori ketahanan pangan modern saat ini. Jika kita meninjau wilayah selatan Kabupaten Ngada secara topografis, kita akan menemukan lahan yang miring, curam, dan berbatu yang sama sekali tidak memungkinkan untuk dijadikan persawahan padi. Secara rasional dan ekologis, memaksakan penanaman padi di sana adalah sebuah kesia-siaan yang melawan kodrat alam. Namun, leluhur orang Ngada tidak menyerah pada keterbatasan fisik alam, mereka memilih Uwi. Ini adalah pilihan rasional yang berbasis pada pengetahuan lokal yang mendalam, di mana Uwi menjadi pilihan utama karena kemampuannya untuk beradaptasi dengan kondisi ekstrem tanpa membutuhkan intervensi kimiawi yang berlebihan. Secara nutrisi, Uwi adalah sumber energi yang sangat hebat bagi masyarakat yang bekerja keras di ladang. Bahkan, dalam pengetahuan lokal, makanan ini dikenal sebagai penawar alkohol yang paling efektif, sebuah kearifan yang menjaga keseimbangan sosial di tengah tradisi masyarakat Ngada yang akrab dengan konsumsi minuman tradisional (moke). Namun ironinya, hari ini Uwi semakin terasing dari piring makan masyarakat adatnya sendiri. Wilayah selatan Ngada yang di era 70-an masih dikenal sebagai gudang pangan Uwi, kini perlahan-lahan mulai kehilangan dominasi tanaman tersebut. Ketergantungan pada beras kiriman dan pangan instan yang didorong oleh arus pasar liberal telah perlahan-lahan meminggirkan Uwi dari memori kolektif masyarakat adat Ngada.

Lebih dari itu, ketika Uwi hilang dari keseharian dan hanya muncul sebagai simbol di dalam ritual, maka Reba sebenarnya sedang mengalami degradasi substansi. Kita tidak bisa hanya merayakan kedaulatan pangan melalui nyanyian dan tarian di setiap kampung adat, sementara di kehidupan nyata, dapur kita sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar yang penuh dengan intrik ekonomi dan kolonialisme gaya baru. Dalam konteks ini, kita kehilangan pangan lokal dan bersamaan dengan itu kita juga kehilangan kemandirian politik dan budaya. Reba seharusnya menjadi momentum untuk menggugat kembali ketergantungan ini dan menghidupkan kembali kecintaan pada tanah ulayat yang subur dan menjanjikan kedaulatan sejak awal. Dari dimensi hukum, Reba merupakan arena di mana hukum dan norma sosial ditegakkan kembali. Salah satu bagian paling krusial namun sering kali mulai terabaikan adalah ritual Bana Lanu. Ritual ini bukan sekadar berjalan mengelilingi batas tanah, melainkan sebuah pembaharuan proklamasi atas hak ulayat. Dalam pandangan orang Ngada di masa lalu, tanah bukan sekadar komoditas ekonomi yang bisa diperjualbelikan dengan mudah, melainkan representasi dari martabat dan harga diri suku. Melalui Bana Lanu ini, setiap anggota suku diingatkan kembali akan batas-batas wilayahnya, serta diingatkan akan janji-janji damai dengan suku tetangga. Ini adalah mekanisme mediasi dan resolusi konflik yang sangat kuno namun tetap relevan hingga hari ini dan bahkan sangat supel selaras jaman.

Tantangan Modernitas dan Harapan Kedaulatan Masa Depan

Pengabaian terhadap makna mendalam dari ritual penetapan batas ini telah berimbas pada maraknya konflik agraria dan perselisihan tanah ulayat di wilayah Ngada dalam beberapa dekade terakhir. Ketika Reba hanya dirayakan sebagai seremoni tanpa menyentuh aspek penegakan hukum adatnya, maka kesepakatan-kesepakatan luhur yang telah dibangun oleh para leluhur di masa lalu pun dianggap sebagai angin lalu. Inilah mengapa Reba harus diletakkan kembali sebagai peristiwa hukum, di mana ketertiban sosial dan keadilan wilayah dikukuhkan kembali demi menghindari perpecahan antar saudara. Lebih jauh lagi, Reba memperingatkan kita tentang awal mula munculnya peradaban modern di Ngada melalui kehadiran tokoh legendaris yang dikenal sebagai Teru dan Tena. Mereka bukan sekadar tokoh dalam mitologi, melainkan representasi dari semangat reformasi. Melalui narasi “da pera go kobho se’a”, yang secara harfiah berarti mengajarkan penggunaan alat makan dan minum dari tempurung, mereka sebenarnya sedang mengajarkan tentang adab dan etika. Kedua tokoh ini mengubah pola hidup masyarakat dari yang awalnya sederhana menjadi lebih teratur, mulai dari cara mengolah ladang secara menetap hingga cara bersosialisasi yang bermartabat. Dengan demikian, Reba adalah perayaan atas lahirnya akal budi dan kesadaran manusia Ngada untuk menjadi makhluk yang berbudaya.

Namun, di tengah arus modernisasi yang begitu deras, sebuah tanya besar muncul: Masihkah Reba memiliki daya magis dan otoritas moral yang sama di mata generasi muda? Saat ini, ada kekhawatiran besar bahwa Reba telah mengalami proses “ritualisasi yang hampa makna”. Ia meriah secara seremonial, penuh dengan pesta pora dan dokumentasi media sosial, namun kehilangan roh filosofisnya yang paling mendasar. Banyak generasi muda yang hanya menjadi penonton atau pelaku tari tanpa benar-benar memahami mengapa mereka harus menyanjung Uwi setinggi langit dalam syair-syair mereka. Ada jurang yang semakin lebar antara apa yang diucapkan dalam ritual adat dengan apa yang dilakukan dalam kebijakan pembangunan sehari-hari oleh para pemangku kepentingan. Jika Reba adalah landasan ontologis, maka seharusnya setiap kebijakan pembangunan di Kabupaten Ngada haruslah berjiwa Reba. Artinya, pembangunan tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi semu, melainkan harus menghargai sejarah, memperkuat kedaulatan pangan lokal, dan menjunjung tinggi hak-hak masyarakat adat atas tanah ulayat mereka. Sudah saatnya makna Reba tidak hanya berhenti di bawah atap rumah adat, tetapi harus dielaborasi menjadi kebijakan publik yang konkret. Pemerintah perlu memfasilitasi riset-riset yang mengangkat kembali citra Uwi agar disukai oleh generasi milenial, sekaligus memberikan perlindungan hukum bagi tanah-tanah ulayat agar tidak tergerus oleh kepentingan korporasi yang asing bagi kebudayaan lokal. Kedaulatan sejati sebuah bangsa atau daerah dimulai dari keberanian untuk mengonsumsi apa yang tumbuh dari tanah sendiri. Kedaulatan itu berakar dari sejarah yang dihormati dan dari hukum yang ditaati bersama tanpa paksaan. Reba adalah cermin besar bagi masyarakat Ngada untuk melihat kembali siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka akan melangkah. Tanpa Reba yang bermakna utuh, masyarakat Ngada akan menjadi seperti tanaman yang tercerabut dari akarnya; mudah goyah, mudah layu, dan akhirnya kehilangan identitas di tengah rimba globalisasi.

Sebagai penutup, mari kita kembalikan Reba pada tempat dan sejarah semula. Biarlah ia tetap menjadi pesta yang meriah, namun pastikan kemeriahan itu lahir dari rasa syukur atas kedaulatan pangan yang nyata dan kedamaian wilayah yang terjaga. Jangan biarkan Uwi hanya menjadi buah bibir setahun sekali, sementara di sisa hari lainnya kita mengabaikannya. Seperti tanaman Uwi yang akarnya mampu menembus hingga ke dunia bawah namun batangnya mampu merambat hingga menyentuh langit, begitulah seharusnya eksistensi manusia Ngada; tetap membumi pada tradisi leluhur, namun tetap tumbuh tinggi menggapai kemajuan zaman tanpa harus kehilangan jati diri. Reba adalah momentum untuk memperbaharui komitmen kita terhadap kemanusiaan, keadilan, dan kedaulatan atas tanah tumpah darah kita sendiri. Selamat merayakan Reba dengan makna yang baru dan lebih mendalam agar kedaulatan yang menjadi cita-cita luhur masyarakat adat Ngada dapat terwujud dalam kehidupan harian kita. ***

Domitius Pau, S.Sos., M.A, Penulis adalah Dosen Program Studi Pembangunan Sosial/Ilmu Sosiatri Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Santa Ursula, Pemerhati Masalah Sosial, Peneliti Masyarakat Adat

WartaNusantara

WartaNusantara

Related Posts

Bahasa Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)
Opini

Bahaya Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)

Bahaya Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan) Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM--  Ajang pencarian bakat di televisi—sebut saja Indonesian...

Read more
PANDANGAN YANG SAMA Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18/1/2026.

PANDANGAN YANG SAMA Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18/1/2026.

Tobby Ndiwa, Serfolus Tegu dan Kapolres Nagekeo Harus Diproses Hukum Terkait Kebocoran Data Intelijen dan Penyebaran Berita Bohong

Satu Demi Satu “Dosa” Serfolus Tegu Terkuak Catatan untuk Gerombolan Mafia Nagekeo (12)

Operasi 300 Menit : Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela

Operasi 300 Menit : Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela

Amerika Serikat Tangkap Presiden Maduro ” it is justified ?”

Amerika Serikat Tangkap Presiden Maduro ” it is justified ?”

“PROVOCATIONI OBSTARE” Tekanan Provokasi Adu Domba Merusak Tatanan Keharmonisan Kekerabatan

Gaya Kepemimpinan Otoriter : Penyalahgunaan Kekuasaan Eksekutif dalam Sistem Kepemerentahan yang Akuntabel

Load More
Next Post
Bupati Lembata Salurkan Bantuan Alat Tangkap di Desa Waowala, Tingkatkan Pendapatan Nelayan

Bupati Lembata Salurkan Bantuan Alat Tangkap di Desa Waowala, Tingkatkan Pendapatan Nelayan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ads

Tag

mostbet mostbet UZ Sastra
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak

Copyright @ 2020 Warta-nusantara.com, All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Polkam
  • Internasional
  • National

Copyright @ 2020 Warta-nusantara.com, All right reserved

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In