Cahaya di Tengah Kegelapan
WARTA-NUSANTARA.COM– Nabi Yesaya bernubuat: umat Galilea yang diangkut ke Asiria akan melihat terang Tuhan. Janji itu memberi harapan di tengah pembuangan. Cahaya Tuhan itu bersinar untuk semua orang tanpa batas agama dan geografi. Janji ini merawat harapan ketika momen pembuangan di tanah Asiria dimaknai sebagai masa yang suram. Sabda Tuhan bagai air segar menumbuhkan harapan.
“Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar. mereka yang diam di negeri kekelaman atasnya terang telah bersinar” (Yes 9:1). Israel mesti merawat harapan itu melalui relasi rohani dengan Tuhan dan sesama.
Setiap masa, betapa pun kelam, selalu ada cahaya yang menerobos. Saat berada dalam sebuah gua gelap, orang yang setia dan tekun akan mendapatkan terobosan cahaya itu melalui lubang gua yang kecil sekali pun.
Hanya orang yang setia dan tekun akan dicahayai. Selalu ada ketakutan, kegelisahan dan sumpah serapah kemanusiawian.
Tapi iman kepada Tuhan menjadi berkas-berkas cahaya religiositas yang menerbitkan harapan akan sebuah hari esok yang penuh sukacita seperti “sukacita di waktu panen dan sukacita di waktu membagi-bagi jarahan” (Yes 9:2).
Saat hidup dinaungi kegelapan, harapan adalah satu-satunya energi rohani yang meneguhkan. Harapan itu bersumber pada Tuhan yang selalu setia menuntun. Kegelapan adalah simbol kefanaan hidup yang akan menguji kualitas komitmen iman kita.
Selalu hadir kesadaran yang terkadang melampaui pikiran manusiawi. Ada sebuah kekuatan agung yang mencahayai kesadaran kemanusiaan kita, terutama ketika hidup terasa menjemukan diliputi kekelaman.
Penulis Kitab Mazmur mengingatkan bahwa Tuhanlah cahaya dan penyelamat. Setialah berharap pada Tuhan. Tinggallah selalu seumur hidup di rumah-Nya. Inilah jalan religiositas yang meneguhkan kemanusiaan kita (Mzm 1:3.12).
Satu bahaya besar dalam kebersamaan di tengah represi kegelapan adalah keterpecahan. Egoisme menyeruak di tengah ketakberdayaan. Saat sebuah perahu motor dihantam badai, orang sibuk mencari jalan keselamatan pribadi.
Orang menjadi buta melihat kegelisahan sesama di sampingnya. Orang jadi tuli hanya untuk mendengar jerit gelisah orang-orang sekeliling. Rasa ingat diri berlebihan terkadang menjadi momen kritis kehancuran hidup. Mencari upaya selamat diri sendiri membuka ruang kebinasaan yang lebih lebar. Situasi ini diingatkan oleh Rasul Paulus.
“Hendaknya kamu seia sekata dan menghindarkan perpecahan” (1Kor 1:1). “Seia sekata” berarti menjadi satu dalam harapan bersama sesama. Menjadi satu berarti mengutamakan “kita” dan bukan “aku, kami.”
Bagi Paulus, hanya dalam kebersamaan dalam kasih Kristuslah, jalan keselamatan itu terbuka bagi semua orang. Yesus pernah pengingatkan kita, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Namaku, Aku hadir di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).
Persatuan, persaudaraan dan kebersamaan adalah jalan menuju keselamatan.
Dalam bahasa Penginjil Matius, persaudaraan itu adalah Kerajaan Allah.
Ia muncul dalam tindakan kecil namun nyata: mengampuni bahkan ketika kita terluka, jujur bahkan ketika kita dirugikan dan mengasihi tanpa menuntut balasan.
Kerajaan Allah adalah pengalaman kehidupan sehari-hari. Tuhan bersabda, “Bertobatlah sebagai Kerajaan Sorga sudah dekat.” Pertobatan itu bukan ketakutan pada hukum, melainkan perubahan arah hidup, karena kesadaran bahwa Allah hadir.
Orang bertobat akan melihat dunia dengan pandang Allah: dengan belas kasih, kejujuran, dan kerinduan akan kebenaran. Itulah momen orang mengalami Kerajaan Allah, dalam damai batin, dalam relasi yang dipulihkan dan dalam keberanian hidup sesuai kehendak Allah.
Kerajaan Allah hadir dakam keputusan-keputusan kecil melalui hati yang bertobat: memilih mengampuni daripada membalas, melayani daripada berkuasa, mengasihi daripada menghakimi.
Maka seruan “Bertobatlah” adalah undangan yang terus bergema, bukan hanya sekali seumur hidup, melainkan setiap hari. Kita setia menjadi “cahaya” di tengah zaman yang gelap. ***







