JADI GARAM DI LAYAR PONSEL
Oleh : Robert Bala
(Ide Inspiratif untuk Renungan Injil Matius 5:13, Minggu 8 Februari 2026)
Coba jujur sebentar.
Bangun tidur, apa yang pertama kita sentuh?
Bukan doa, bukan Alkitab—tapi HP.

WARTA-NUSANTARA.COM– Data Digital 2026 bilang, sekitar 180 juta orang Indonesia aktif di media sosial. Rata-rata kita menghabiskan 6 jam sehari menatap layar ponsel. Enam jam. Itu lebih lama dari waktu ngobrol dengan keluarga, lebih lama dari waktu refleksi, bahkan kadang lebih lama dari waktu doa.

Masalahnya bukan pada HP atau media sosialnya. Masalahnya: apa yang kita bawa ke sana? Kita hidup di zaman yang aneh. Akses komunikasi makin luas, tapi hati justru makin sempit. Orang gampang tersinggung, gampang nyinyir, gampang menghakimi. Beda pendapat sedikit—langsung ribut. Salah paham dikit—langsung viral. Satu komentar bisa melukai. Satu unggahan bisa memicu kebencian. Satu pesan bisa menghancurkan relasi.


Inilah ekspresi dunia hambar yang masing-masing kita rasakan. Dunia terasa hambar.
Bukan karena kurang kata-kata, tapi karena kurang rasa. Dulu, waktu orang menulis surat, kata-kata dipilih pelan-pelan. Ditulis dengan hati. Dibaca ulang sebelum dikirim. Sekarang? Jari lebih cepat dari pikiran, emosi lebih cepat dari nurani. Baru diketik, langsung tersebar. Menyesal belakangan.

Di tengah dunia yang hambar ini, Yesus berkata dengan sederhana tapi menohok :
“Kamulah garam dunia.” Bukan kamu akan jadi, tapi kamu adalah garam dunia. Garam itu unik. Untuk memberi rasa, ia harus melebur. Garam tidak pamer. Tidak tampil di atas. Tidak minta dipuji. Tapi tanpa garam, makanan seenak apa pun terasa tawar. Garam hadir diam-diam, tapi efeknya nyata.
Menjadi garam dunia artinya menghadirkan rasa, makna, dan hikmat di tengah dunia yang kering emosi dan miskin empati. Bukan bikin gaduh, tapi bikin hangat. Bukan menambah luka, tapi menyembuhkan.
Yesus juga tidak berkata, “Kamulah garam untuk dirimu sendiri.”
Ia bilang: garam dunia. Hari ini, salah satu “dunia” paling nyata ada di layar HP kita. Apa yang kita ketik tidak tinggal di tangan kita. Sekali diposting, bisa dibaca siapa saja, di mana saja. Dunia kecil di genggaman, tapi dampaknya mendunia.
Karena itu, menjadi garam dunia hari ini sangat konkret:
👉 jadi garam di layar ponsel. Artinya, bertanya sebelum mengetik:
• Apakah ini membangun atau merobohkan?
• Apakah ini menyejukkan atau menyulut api?
• Apakah ini membawa terang atau sekadar melampiaskan emosi?
Yesus juga memberi peringatan keras: “Jika garam menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” Garam bisa tawar bukan karena bentuknya hilang, tapi karena tercampur terlalu banyak dengan hal lain. Ia masih terlihat garam, tapi sudah tidak memberi rasa. Begitu juga kita. Kita tetap orang beriman, tapi ketika kata-kata kita penuh amarah, hinaan, hoaks, dan penghakiman, kita kehilangan fungsi. Bukan kehilangan identitas—tapi kehilangan rasa.
Dan di sinilah kisah kecil ini menutup renungan kita. Suatu hari, seorang remaja menulis pesan singkat di media sosial: “Aku capek. Aku ngerasa nggak berguna.”
Tidak banyak yang menanggapi. Tapi satu orang membalas sederhana: “Aku nggak kenal kamu dekat. Tapi Tuhan kenal kamu lebih dari yang kamu kira. Kamu berharga.” Tidak panjang. Tidak viral. Tidak heboh. Tapi bertahun-tahun kemudian, remaja itu menulis lagi :
“Kalimat sederhana itu menyelamatkan aku dari keputusan terburuk dalam hidupku.”
Kata-kata itu memang seperti garam. Diucapkan, ditulis tetapi kemudian bekerja dalam diam menghasilkan sesuatu yang bermakan tidak saja bagi diri sendiri tetapi bagi orang lain. Karena daya pengaruhnya yang besar maka kata-kata kadang harus dibiarkan untuk membenam dalam hening karena kata orang, hening adalah rahim tempat lahirnya kata-kata. Di sinilah kesamaan kata dan garam yang ketika mengendap dapat memberi rasa dalam diam.
Itulah garam dunia. Tidak kelihatan. Tidak dipuji. Tapi memberi rasa pada hidup orang lain. Maka hari ini, sebelum jari kita menari di layar, ingatlah: kita adalah garam.
Dan dunia—termasuk dunia digital—sedang sangat membutuhkannya.
Robert Bala. Penulis buku HOMILI YANG MEMBUMI (Cetakan ke-3 Penerbit Kanisius Yogyakarta).







