Janji Setia Orkestrasi Iman Jelang Tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro
LARANTUKA : WARTA-NUSANTARA.COM– Gereja Santa Maria Pembantu Abdi Weri, Larantuka, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa rohani yang mendalam pada Selasa (10/02/2026). Di bawah temaram lampu senja, ribuan umat larut dalam kekhusyukan Vesper Agung, sebuah ibadat sore meriah yang menandai langkah awal Mgr. Yohanes Hans Monteiro menuju Takhta Kegembalaan Keuskupan Larantuka.


Di hadapan Mgr. Michael A. Pawlowicz (Pejabat Kedutaan Vatikan), Ketua KWI, dan para Uskup se-Indonesia, Mgr. Hans mengikrarkan janji setianya kepada Takhta Suci.
Suasana kian magis saat Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng yang memimpin ibadat, memberkati ‘insignia’ perangkat atribut keuskupan yang akan menjadi simbol beban kasih dan otoritas pelayanan sang gembala baru.


RD. Philip Ola Daen, Formator Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, dalam khotbahnya memberikan kompas bagi perjalanan pelayanan Mgr. Hans. Mengambil inspirasi dari 1 Korintus 7:32, ia menekankan bahwa seorang gembala harus hidup “tanpa kekhawatiran”.

“Hidup tanpa kekhawatiran bukanlah soal kondisi psikologis, melainkan sebuah keputusan iman untuk menjaga hati agar tidak terfragmentasi oleh urusan duniawi,” tegas RD. Philip.

Bagi Mgr. Hans, tantangan ke depan adalah menjaga batin tetap jernih di tengah arus dunia. Fokus pada Tuhan berarti menutup celah bagi godaan kuasa, popularitas, dan materi, demi mengutamakan hakikat asli jabatan uskup: sebagai pelayan, bukan penguasa.

Mengacu pada pesan mendalam dalam Yohanes 15:5, pengkhotbah menegaskan bahwa seorang Uskup sejatinya hanyalah ranting yang akan layu jika terpisah dari Sang Pokok Anggur.
Keberhasilan Mgr. Hans dalam menjalankan tongkat kegembalaannya kelak tidak akan bersandar pada kekuatan atau kecakapan manusiawi semata, melainkan pada kemanunggalan yang erat dengan Kristus sebagai sumber kekuatan utama. Kesatuan spiritual inilah yang menjadi fondasi bagi setiap langkah pelayanan yang akan diambil di Keuskupan Larantuka.
Pilar penting lainnya yang ditekankan dalam khotbah tersebut adalah konsep kekudusan atau ‘Hagios’, yang dimaknai sebagai kondisi menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Kekudusan ini bukanlah sebuah hak eksklusif bagi kelompok tertentu, melainkan panggilan universal bagi seluruh umat Allah.
Namun, kekudusan tidak boleh berhenti pada ritualitas, melainkan harus mewujud dalam manifestasi sosial melalui kepedulian nyata terhadap mereka yang miskin dan terpinggirkan, agar Gereja mampu menjadi penawar bagi tragedi kemanusiaan yang kerap melukai bumi Flobamora.
Terakhir, Mgr. Hans diingatkan untuk senantiasa memiliki kesadaran diri yang rendah hati sebagaimana tertuang dalam 2 Korintus 4:7.

Beliau adalah “bejana tanah liat” yang memiliki kerapuhan insani, namun di dalamnya Tuhan telah mempercayakan harta ilahi yang sangat luar biasa untuk dijaga dan dibagikan. Dengan menyadari keterbatasan diri sebagai manusia, sang gembala diharapkan dapat menjalankan tugas sucinya dengan penuh integritas dan rasa syukur atas kepercayaan Tuhan yang begitu besar.
Sebagai penutup yang reflektif, RD. Philip menyentil realitas zaman sekarang. Di era modern, dunia surplus orang pintar namun defisit orang kudus. Vesper Agung ini menjadi pengingat bagi Mgr. Hans dan umat Larantuka untuk memulai peziarahan baru dalam semangat “satu Tubuh, satu Roh, dan satu pengharapan.”. ***(WN-01)









