Romo Yohanes Hans Monteiro,Pr Resmi Jadi Uskup Larantuka


Romo Hans Monteiro di Tahbiskan Jadi Uskup Larantuka / Foto Ist.
LARANTUKA : WARTA-NUSANTARA.COM– Romo Yohanes Hans Monteiro yang ditunjuk Paus Leo XIV pada tanggal 22 November 2025, kini ditahbiskan oleh Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung sebagai Uskup Larantuka. Uskup baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro secara resmi menggantikan Mgr Fransiskus Kopong Kung pada Rabu 11 Pebruari 2026. Prosesi penahbisan digelar di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka mulai pukul 08.00 hingga pukul 12.00 Wita.


Ribuan umat Katolik dari dua kabupaten, yakni Flores Timur dan Lembata, memadati katedral untuk menyaksikan langsung penahbisan imam Projo Keuskupan Larantuka tersebut. Turut hadir Anggota DPR RI, Melchianus Markus Mekeng, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, Ketua DPRD NTT, Emi Nomleni, Bupati Flotim, Anton Doni Dien, Bupati Lembata, Kanis Tuaq dan Bupati Sikka, Juventus . Hadir pula, Ketua DPRD Lembata Syafrudin Sira, Wakil Ketua, Gewura Fransiskus dan anggota DPRD, Petrus Gero, Yos Brda Hayong, Lorens Keraf dan Gaspar Sio Apelabi.


Penahbisan Uskup Hans dihadiri 34 uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia. Hadir pula pejabat Nuntio Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta, Gubernur NTT, sekitar 300 imam Katolik, serta sejumlah pejabat daerah dari Flores Timur dan Lembata. disiarkan langsung melalui kanal YouTube Komsos Keuskupan Larantuka dan Komsos Keuskupan Agung Ende.


Sekretaris Jenderal Keuskupan Larantuka, Fransiskus Kwaelaga, mengatakan para uskup telah tiba sejak sehari sebelumnya untuk mengikuti seluruh rangkaian acara.

“Jumlah sekarang 1 pejabat nuntio, Kedutan besar Vatikan di Jakarta, Mgr. Michael A. Pawlowicz, 28 Uskup, 5 Uskup emeritus serta utusan keuskupan yang mewakili uskup 6 orang,” kata Fransiskus Kwaelaga kepada Awak Media Rabu 11 Pebruari 2026
Sementara itu, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen menyampaikan rasa syukur atas penahbisan Uskup Hans Monteiro.
Selama ini kita sudah menunggu, kita bahagia sekali. Ke depan tentu saja, kita bermitra dengan baik, sebagai pemerintahan daerah tentu tidak berjalan sendiri, bekerja sama,” ujar Anton.
Menurut Anton, momentum penahbisan ini sejalan dengan moto Uskup Hans Monteiro, yakni “Umum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh dan Satu Pengharapan).

Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dalam kotbahnya mengatakan sebagaimana motoh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, ” Unum Corpus Unus Spiritus Una Spes” artinya : Satu Tobuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan (Efesus 4 : 4).
Moto ini sungguh menyentuh kita semua sebagai ana-anak Allah yang berpijak di bumi yang sama. Meski kita sering beda pandangan politik dan keyakinan. Namun dengan moto ini kita semua dipersatukan. Kita semua dirangkul dalam kesatuan iman, satu tubuh, satu gereja dan satu kepala. Namun perbedaan tidak lebih penting dari yang lain.
Menurut Uskup Budi Kleden, dalam semangat satu tubuh, satu roh dan satu pengharapan kita semua mestu bersatu dan berkorban merawat kesatuan dan memberantas kemiskinan. Karena masalah kemiskinan harus menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua baik pempin dan umat.
“Menjadi imam, uskup dan atau rohaniwan bukan hanya berbicara hal rohani saja tapi juga bericara tentang kemiskinan. Bencana Gunung Lewotobi dan Ile Lewotolok menyisakan puing-puing kemiskinan karena para korban yang masih dililit berbagai kelsulitan. Karena itu, kita semua harus berkorban untuk peduli terhadap orang susah dan miskin. Kita harus berpihak kepada petani yang terbelenggu tengkulak dan masyarakat dililit berbagai pinjaman koperasi harian”, ujar Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden.
Sebagai anak tanah Larantuka tentu saja uskup baru sungguh memahami akar budaya dan tradisi kehidupan umat dan kita sungguh berharap adanya perkembangan baru dalam memimpin dan mengembalakan umat dengan penuh sukacita dan pengorbanan.
Uskup Budi lebih jauh mejelaskan makna motto Uskup Hans Monteiro, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan), yang disebutnya sebagai inti dari persatuan umat.
“Memberi perhatian yang istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa dari berbagai bentuk kekerasan dan kemiskinan. Kemiskinan harta, kemiskinan relasi, kemiskinan empati, kemiskinan perhatian dan waktu. Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan bagi mereka yang berada di ujung keputusan terutama anak-anak. Kita turut bertanggung jawab atas luka kemiskinan yang menyayat, kemiskinan dengan berbagai konsekuensinya,” kata Uskup Budi.
Dia menegaskan terdapat jurang yang lebar antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan masyarakat yang berada dalam kemiskinan ekstrem. Kondisi itu, menurut dia, menuntut semua pihak untuk terus menjaga persatuan.
“Antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpental di wilayah pinggiran. Kita sering membangun tembok pemisah dari orang yang berbeda suku dan pilihan politik. Kita hidup dalam kecurigaan yang laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain,” imbuhnya.
Selain soal kemiskinan, Uskup Budi juga menyinggung kondisi para petani dan nelayan yang terjebak dalam cengkeraman tengkulak, serta keluarga-keluarga yang terjerat pelaku keuangan yang tidak hanya memiskinkan, tetapi juga merendahkan martabat manusia.
“Seperti pinjol, koperasi harian atau mingguan,” ujarnya.
Kleden juga mengajak umat Katolik untuk berani melawan praktik perdagangan orang serta menghentikan pembabatan hutan yang merusak lingkungan.
Dia menegaskan gereja tidak hanya hadir sebagai struktur yang tertata rapi, tetapi juga harus menjadi sakramen keselamatan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan.
“Pencemaran air, serta eksploitasi kekayaan alam yang menghancurkan ekosistem dan menggoyangkan kesatuan masyarakat,” tandasnya.
*** (WN-01)







