• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak
Selasa, Februari 17, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • National
  • Internasional
  • Polkam
  • Hukrim
  • News
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Home
  • National
  • Internasional
  • Polkam
  • Hukrim
  • News
  • Pendidikan
  • Olahraga
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Menanam Energi, Menabung Masa Depan: Mengubah Pohon Menjadi Aset Ekonomi

by WartaNusantara
Februari 15, 2026
in Ekonomi
0
Menanam Energi, Menabung Masa Depan: Mengubah Pohon Menjadi Aset Ekonomi
0
SHARES
42
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

RelatedPosts

Kopdit Guru Klubagolit Adonara Raih SHU 2 Miliar

Kopdit Guru Klubagolit Adonara Raih SHU 2 Miliar

Terobosan Fiskal dari Maumere : Obligasi Daerah Jadi Strategi Baru NTT Keluar dari Jerat Kemiskinan

Terobosan Fiskal dari Maumere : Obligasi Daerah Jadi Strategi Baru NTT Keluar dari Jerat Kemiskinan

Load More

Menanam Energi, Menabung Masa Depan: Mengubah Pohon Menjadi Aset Ekonomi

Oleh: Ignatius Abraham Enga Tifaona

WARTA-NUSANTARA.COM–  Di tengah krisis iklim global, dunia sebenarnya tidak kekurangan modal. Yang kurang adalah aset yang dapat dibiayai. Triliunan dolar tersedia untuk investasi iklim, tetapi sebagian besar tidak tersalurkan karena belum adanya struktur keuangan yang mampu mengubah solusi berbasis alam menjadi investasi jangka panjang yang layak secara ekonomi.

Di sinilah konsep Tabungan Pohon Energi (Living Asset Finance) menjadi relevan. Model ini tidak hanya menawarkan pendekatan baru dalam pembiayaan iklim, tetapi juga membuka jalan bagi daerah dan masyarakat untuk membangun kekayaan berbasis alam secara berkelanjutan.

Dari Penghijauan ke Pembangunan Aset

Selama ini, penanaman pohon sering dipandang sebagai program penghijauan atau rehabilitasi lingkungan yang membutuhkan biaya besar tanpa imbal hasil ekonomi langsung. Paradigma ini membuat banyak program penanaman bergantung pada hibah jangka pendek, sehingga sulit berkelanjutan.

Padahal, berbagai kajian internasional menunjukkan bahwa tanaman produktif dapat diperlakukan sebagai aset biologis yang memiliki nilai ekonomi nyata. Penelitian Scott, Wingard, dan van Biljon menegaskan bahwa dalam sistem akuntansi modern sektor publik, tanaman produktif dapat diakui sebagai aset dalam neraca pemerintah, dinilai melalui pendekatan nilai wajar (fair value), dan nilainya meningkat seiring pertumbuhan serta produktivitasnya. Dengan pendekatan ini, penanaman tidak lagi sekadar pengeluaran, melainkan investasi yang menghasilkan aset ekonomi jangka panjang.

Kerangka tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk membangun neraca berbasis aset biologis. Pohon energi, tanaman pangan, maupun tanaman industri dapat dicatat sebagai aset daerah yang nilainya terus bertambah dan menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan. Dengan demikian, pembangunan berbasis alam tidak lagi dipandang sebagai beban fiskal, tetapi sebagai strategi investasi daerah.

Kesenjangan Pembiayaan Iklim dan Peran Solusi Berbasis Alam

Di sisi lain, kesenjangan pembiayaan adaptasi iklim global masih sangat besar. Analisis terbaru dari Meraj dan Hashimoto menunjukkan bahwa meskipun solusi berbasis alam terbukti hemat biaya dan memiliki manfaat ekonomi jangka panjang, pendanaannya masih terfragmentasi dan berjangka pendek. Belum terbentuk arsitektur keuangan yang mampu mentransformasikan sistem ekologi menjadi aset investasi yang dapat diskalakan dan menarik modal besar secara berkelanjutan.

Akibatnya, banyak proyek berbasis alam berjalan dalam skala kecil dan tidak mampu menarik investasi jangka panjang, padahal potensi ekonominya sangat besar — mulai dari karbon, biomassa, hingga energi terbarukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama pembiayaan iklim bukan pada kurangnya dana, melainkan pada ketiadaan model keuangan yang mampu menjembatani potensi alam dengan sistem investasi modern.

Tabungan Pohon Energi: Model Keuangan Berbasis Aset Alam

Tabungan Pohon Energi (Living Asset Finance) hadir sebagai jawaban atas kesenjangan tersebut. Model ini mengintegrasikan pengakuan aset biologis dalam sistem akuntansi dengan arsitektur pembiayaan iklim berbasis alam.

Dalam pendekatan ini, penanaman pohon energi tidak lagi dipandang sebagai kegiatan penghijauan semata, tetapi sebagai pembangunan portofolio aset biologis produktif. Pohon yang ditanam menghasilkan aliran pendapatan dari berbagai sumber: minyak nabati untuk bioenergi, kredit karbon, biomassa, hingga produk turunan lainnya. Nilai ekonominya meningkat seiring pertumbuhan pohon, sehingga dapat menjadi dasar pembiayaan jangka panjang bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Pendekatan ini juga memungkinkan pemerintah daerah membangun kekayaan biologis yang tercatat dalam neraca, bukan sekadar mengeluarkan anggaran untuk program penanaman. Dengan kata lain, daerah dapat menumbuhkan asetnya secara harfiah — melalui pohon yang terus bertumbuh dan produktif.

Bukan Soal Kepemilikan Lahan, Tetapi Aset yang Tumbuh

Dalam model Living Asset Finance, nilai ekonomi utama tidak terletak pada kepemilikan tanah, melainkan pada aset biologis yang tumbuh di atasnya. Karena itu, pembiayaan berbasis alam tidak memerlukan akuisisi lahan besar-besaran yang berpotensi memicu konflik. Sebaliknya, sistem ini bertumpu pada kemitraan jangka panjang dengan masyarakat lokal sebagai pengelola utama aset biologis sekaligus penerima manfaat ekonomi.

Masyarakat menjadi pemilik manfaat dari pohon yang mereka tanam dan pelihara. Pemerintah daerah dapat membangun portofolio aset biologis tanpa harus membeli lahan. Investor memperoleh kepastian pasokan bahan baku dan nilai ekonomi jangka panjang. Model ini menciptakan sistem yang inklusif, bankable, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Pohon energi dalam konteks ini bukan sekadar tanaman, tetapi tabungan hidup yang nilainya terus bertumbuh. Ia menjadi sumber pendapatan, sumber energi, sekaligus instrumen mitigasi perubahan iklim.

Menjembatani Investasi Global dan Kebutuhan Lokal

Tabungan Pohon Energi pada akhirnya menjadi jembatan antara potensi investasi iklim global dan kebutuhan pembiayaan berbasis alam di tingkat lokal. Dengan mengubah lanskap ekologis menjadi aset produktif yang dapat dinilai dan dibiayai, model ini membuka peluang baru bagi daerah untuk membangun ekonomi hijau yang mandiri dan berkelanjutan.

Di masa depan, kekayaan suatu daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik atau sumber daya tambang, tetapi juga dari portofolio aset biologis yang tumbuh dan menghasilkan. Pohon bukan lagi sekadar simbol penghijauan, melainkan instrumen keuangan jangka panjang dan fondasi ekonomi hijau.

Menanam pohon berarti menanam energi.
Menanam energi berarti menabung masa depan.

Dan masa depan ekonomi hijau mungkin justru tumbuh dari akar-akar pohon yang hari ini kita tanam bersama — sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai kajian global yang menegaskan bahwa aset biologis dan solusi berbasis alam dapat menjadi fondasi sistem keuangan iklim yang baru dan lebih berkelanjutan.

Penulis baru menyelesaikan studi Magister Manejemen pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Harapan Bangsa, Bandung, pada Januari 2026 dan saat ini bekerja pada Divisi ESG, PT Bank Central Asia Tbk.

WartaNusantara

WartaNusantara

Related Posts

Kopdit Guru Klubagolit Adonara Raih SHU 2 Miliar
Ekonomi

Kopdit Guru Klubagolit Adonara Raih SHU 2 Miliar

Kopdit Guru Klubagolit Adonara Raih SHU 2 Miliar ADONARA : WARTA-NUSANTARA.COM--  Koperasi Simpan Pinjam (KSP)  Koperasi Kredit (Kopdit) Guru Kelubagolit...

Read more
Terobosan Fiskal dari Maumere : Obligasi Daerah Jadi Strategi Baru NTT Keluar dari Jerat Kemiskinan

Terobosan Fiskal dari Maumere : Obligasi Daerah Jadi Strategi Baru NTT Keluar dari Jerat Kemiskinan

Launching NTT Mart ke-21 di Kabupaten Alor, Wagub Johni Asadoma : “NTT Mart Adalah Wadah Tingkatkan Produktivitas Pengusaha IKM dan UMKM,”

Launching NTT Mart ke-21 di Kabupaten Alor, Wagub Johni Asadoma : “NTT Mart Adalah Wadah Tingkatkan Produktivitas Pengusaha IKM dan UMKM,”

Bupati Lembata Dorong Optimalisasi KUR Untuk Penguatan Usaha Masyarakat

Bupati Lembata Dorong Optimalisasi KUR Untuk Penguatan Usaha Masyarakat

Friderica Widyasari Resmi Jadi Pelaksana Tugas Ketua Otoritas Jasa Keuangan

Friderica Widyasari Resmi Jadi Pelaksana Tugas Ketua Otoritas Jasa Keuangan

Menanam Energi di Tanah Lembata: Catatan untuk Rancangan Awal RKPD 2027

Menanam Energi di Tanah Lembata: Catatan untuk Rancangan Awal RKPD 2027

Load More
Next Post
PC PMII Kota Pekanbaru Sukses Gelar Pembukaan Pelatihan Kader Lanjut 

PC PMII Kota Pekanbaru Sukses Gelar Pembukaan Pelatihan Kader Lanjut 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ads

Tag

mostbet mostbet UZ Sastra
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak

Copyright @ 2020 Warta-nusantara.com, All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Polkam
  • Internasional
  • National

Copyright @ 2020 Warta-nusantara.com, All right reserved

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In