TIGA LUKA MANUSIA MODERN
(Ide inspiratif untuk Homili Minggu 22/2/2026)
Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM– Beberapa waktu lalu, dalam tahbisan Uskup Larantuka (11 Februari 2026), seseorang berkomentar dengan nada kesal. Ia merasa jenuh melihat begitu banyak konten di media sosial tentang peristiwa itu. Baginya, sebagian besar postingan bukan lagi tentang iman, tetapi tentang mencari simpati, like, dan perhatian.

Rasa kesalnya bisa dimengerti. Tanpa sadar, ia sedang menyentuh salah satu dari tiga luka besar manusia modern: godaan popularitas yang kita sebut sebagai luka pencitraan. Di sana semua harus jadi konten. Bahkan peristiwa rohani pun tak luput dari kamera dan caption dramatis. Rasanya selalu ada dorongan halus: “jatuhkan diri”, tampilkan sesuatu yang spektakuler, supaya dilihat, disukai, dibagikan.
Iman bisa berubah jadi panggung.
Pelayanan bisa berubah jadi branding.
Kebaikan bisa berubah jadi konten.
Ukuran keberhasilan bukan lagi kesetiaan, tetapi sejauh mana banyak orang terpikat dengan sebuah konten. Bukan lagi ketulusan, tetapi yang penting banyak orang terpikat sebuah postingan. Inilah godaan sangat riil seperti coba diminta iblis kepada Yesus, “Jatuhkanlah diri-Mu,” Yesus menolak. Ia tidak mau membuktikan diri lewat sensasi. Ia tidak butuh viral untuk menegaskan siapa diri-Nya.Yesus tahu satu hal penting: orang yang yakin akan identitasnya tidak perlu panggung untuk merasa berarti.Inilah luka pertama manusia modern—haus pengakuan. Kita ingin dilihat, diapresiasi, divalidasi. Dan ketika itu tidak datang, kita merasa kurang.


Yang kedua adalah luka perut: semua harus menguntungkan. Banyak dari kita mengikuti kegiatan bukan untuk melayani, tetapi demi keuntungan pribadi. Semua dihitung: “Apa untungnya buat saya?” Bahkan kegiatan rohani pun kadang diukur dari “berkat” yang akan diterima—terutama berkat materi.
Iblis tahu hal itu dan ingin mencobai Yesus dengan mengambil luka paling pertama yakni luka perut. Apakah luka itu besar? Ya. Tetapi dunia digital membuat luka pada masa Yesus tidak seberapa dibanding luka dewasa ini. Apapun tidak hanya batu bisa ‘disulap’ jadi roti. Kemiskinan bisa dipakai demi pencitraan. Pelayanan bisa dijadikan jalan mencari keuntungan.Jabatan bisa dipakai untuk memperkaya diri.
Kasus korupsi yang bahkan menjerat orang-orang dengan gaji besar menunjukkan satu hal: luka materi tidak pernah benar-benar kenyang. Ini bukan soal kebutuhan, tetapi soal pusat hidup. Ketika uang menjadi pusat, nurani mudah dinegosiasikan.


Yesus menjawab tegas: manusia hidup bukan dari roti saja. Artinya, hidup bukan hanya soal perut. Ada nilai, ada kebenaran, ada integritas yang jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan.
Yang ketiga adalah Luka Kuasa. Kalau kita ringkas, Ingin Naik Tanpa Salib. .Inilah luka yang paling berbahaya untuk dunia digital dewasa ini: nafsu akan kekuasaan yang begitu menggoda: “Semua ini akan kuberikan kepadamu.” Bayangkan, bukan hanya satu atau beberapa keuntungan tetapi semuanya. Prosesnya pun tidak panjang. Tidak perlu pengorbanan. Tidak perlu salib. Cukup kompromi sedikit saja.


Bukankah ini gambaran zaman kita? Visualisasi kekayaan dan kemewahan tampil setiap hari di layar. Kekuasaan terlihat begitu dekat. Seakan-akan semua bisa diraih asal berani sedikit melenceng. Godaan terbesar ternyata bukan lapar. Bukan juga sekadar ingin dipuji. Yang paling berbahaya adalah keinginan berkuasa tanpa mau menderita. Ingin hasil tanpa proses. Ingin takhta tanpa salib. Yesus memilih sebaliknya. Ia menolak kompromi. Ia memilih jalan salib. Di sinilah letak perbedaan besar: dunia menawarkan jalan pintas, Yesus menawarkan jalan setia.
Kalau kita refleksi dengan jujur, tiga luka ini ada dalam diri kita:
• Kita ingin diakui.
• Kita ingin untung.
• Kita ingin naik tanpa susah.
Padang gurun yang dialami Yesus bukan sekadar tempat fisik. Itu gambaran ruang batin, tempat kita berhadapan dengan keinginan terdalam kita.
Dan Prapaskah adalah kesempatan untuk masuk ke ruang itu. Bukan untuk merasa bersalah terus-menerus, tetapi untuk disembuhkan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa banyak dilihat, seberapa banyak dimiliki, atau seberapa tinggi posisi kita. Hidup adalah soal kesetiaan.
Kita akhiri renungan dengan sebuah cerita sangat sederhana. Ada seorang bapak sederhana yang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah gereja kecil. Ia datang paling pagi dan pulang paling akhir. Tidak ada yang memotretnya. Tidak ada yang menulis tentang dia. Tidak ada yang memberi penghargaan khusus.
Suatu hari seorang anak kecil bertanya, “Pak, kenapa Bapak selalu datang pagi-pagi sekali? Tidak capek?” Bapak itu tersenyum dan menjawab, “Kalau gereja bersih, orang bisa berdoa dengan tenang. Saya mungkin tidak terlihat, tapi Tuhan lihat.”
Tidak ada panggung. Tidak ada sensasi. Tidak ada keuntungan materi besar. Tidak ada kuasa. Tapi ada kesetiaan. Dan mungkin di situlah luka-luka manusia modern benar-benar sembuh— bukan ketika kita dilihat dunia, tetapi ketika kita setia di hadapan Tuhan.
Robert Bala. Penulis buku: Menjadi Fasilitator Menarik, Efektif, Aktual (Penerbit Kanisius Yogyakarta, Cetakan ke-3).







