Tuhan Bersama Kita di Padang Gurun

Zaman Yesus, orang Israel memiliki harapan besar bahwa Mesias akan mengalahkan Iblis. Padang gurun menjadi semacam tanur api untuk menguji kualitas diri-Nya. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “dicobai” memiliki arti “untuk diuji”.


Yesus diuji oleh iblis dan Yesus telah membuktikan diri-Nya menang atas godaan setan. Jadi, saat kita diuji dan dicobai oleh berbagai situasi hidup, kita mesti sadar bahwa Yesus tahu dan turut merasakan karena Dia telah melalui pencobaan yang sama.
Secara tradisional, padang gurun dipandang sebagai tempat kediaman roh-roh jahat yang disimbolkan oleh binatang-binatang liar. Di sana Dia berjumpa dengan iblis yang menawarkan kepada-Nya puncak kekuasaan, uang dan kenyamanan-kenyamanan materiil. Tawaran tersebut bersifat kondisional.
Iblis berkata, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu” (Mat 4:8-10). Jawab Yesus: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Alahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat 4:11).
Allah memperkenankan iblis mengetes kita agar kita membuktikan posisi kita: di pihak iblis atau di pihak-Nya. Dalam godaan, iblis tidak selalu muncul sebagai makluk yang menakutkan seperti yang selalu diajarkan oleh guru-guru agam dan katekis zaman lampau yang mungkin juga zaman ini yaitu separuh binatang yang bertanduk, berkaki serta berekor dan separuh manusia.


Iblis bisa tampil dalam diri orang-orang yang kita kenal baik, sopan dan saleh yang mengajak kita korupsi uang rakyat/anak sekolah meski kita tahu itu berlawananan dengan moral dan etika Kristiani.
Iblis bisa hadir dalam diri “penyanyi dangdut” cantik, bersuara halus yang bisa membuat kita hilang kesadaran dan lupa “orang lain” di rumah.
Iblis dalam Injil hari ini menggoda Yesus dengan mengutip ayat-ayat kitab suci. Saya teringat dulu waktu berjuang Bersama Romo Frans Amanue Pr, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Keuskupan Larantuka, melawan Bupati Flotim Felix Fernandez yang diduga mengorupsi uang rakyat dalam kasus bencana alam.
Bupati Felix Fernandez selalu mengutip ayat-ayat Kitab Suci ketika berbicara kepada rakyat dan jurnalis meski apa yang dia kutip untuk melegitimasi perbuatannya sangat asing dari konteks historis dan tafsiran eksegetis.
Maka Dosen Kitab Suci STFK LEdalero, Pater Guido Tisera SVD (almarhum) menulis satu artikel yang sangat menarik di HU Pos Kupang berjudul “Setan pun Bisa Mengutip Ayat Kitab Suci.”


Dalam filsafat, diri kita adalah dunia paling kecil. Tapi pertempuran terbesar antara kita dan Iblis justru terjadi dalam “padang gurun” hati kita.
Selama masa Prapaskah ini, Tuhan menghendaki agar kita memenangkan pertempuran dengan setia berdoa, berpuasa/berpantang dan memberi sedekah kepada seama yang kecil, terlantar dan berkekurangan.
Rasul Paulus mengingatkan kita: “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1 Kor 10:13).
Maka, marilah kita hadirkan Tuhan dan berjalan bersama Dia selama mengembara di dunia ini karena “Dia telah setia berziarah bersama kita di padang gurun.” ***







