Agama  

MENGEDIT WAJAH (Ide Inspiratif Homili Minggu 1 Maret 2025)

MENGEDIT WAJAH

(Ide Inspiratif Homili Minggu 1 Maret 2025)

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM–  Kita hidup di zaman yang serba instan. Mau terlihat lebih muda? Tinggal buka aplikasi. Rambut sudah memutih? Sekali klik, langsung hitam legam terurai bak model iklan sampo. Yang rambutnya “mulai jarang bahkan nyaris hilang” — mendadak tampil dengan gaya gentleman look. Wajah yang biasa saja bisa jadi glowing maksimal.

Salahkah? Tentu tidak. Teknologi, termasuk AI, memang diciptakan untuk membantu hidup kita. Aplikasi edit wajah dipakai untuk lucu-lucuan, konten kreatif, atau sekadar seru-seruan bareng teman. Bahkan, tidak sedikit yang memakainya untuk menaikkan engagement, cari komentar, panen like, apalagi kalau pakai FB Pro. Komentar berdatangan, hati pun berbunga-bunga. Rasanya menyenangkan ketika foto profil yang sudah diedit itu mendapat respons heboh dari banyak orang.

Di gunung Tabor, seperti kita dengan dalam Injil Matius 17:1-9, Yesus di depan Petrus, Yakobus, dan Yohanes, berubah wajah. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Bukan filter. Bukan efek AI. Bukan editan. Ini kemuliaan yang asli.

Reaksi Petrus spontan dan jujur: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Bisa dibayangkan rasa takjubnya. Mungkin kurang lebih seperti kita ketika melihat hasil editan foto yang sempurna: “Wah, keren banget!” Ada rasa puas. Ada kebahagiaan. Ada keinginan untuk berhenti di momen itu.

Namun kisah di Tabor tidak berhenti di wajah. Injil mencatat bahwa pakaian Yesus juga menjadi putih bersinar seperti terang. Kamerera tidak saja tertuju kepada perubahan wajah tetapi turun ke badan di mana ada hati hal itu terlihat dari pakaian putih bersinar.

Di sini letak perbedaannya. Sering kali kita berhenti pada perubahan wajah. Fokus pada citra. Fokus pada penampilan. Fokus pada bagaimana orang melihat kita. Tapi jarang bertanya: bagaimana kondisi hati kita?

Inilah sikap manusiawi, tidak hanya kita dewasa ini tetapi juga sudah terjadi pada masa Yesus. Di atas gunung itu, ketika para murid tersungkur ketakutan, Yesus mendekat dan menyentuh mereka. Sentuhan itu bukan sekadar gestur fisik. Itu tanda bahwa pengalaman rohani tidak berhenti pada kekaguman visual, tetapi harus menyentuh batin. Dari wajah turun ke hati.

Dan di sinilah pesan Prapaskah menjadi relevan banget. Prapaskah adalah momen evaluasi diri. Kita diajak jujur: seberapa besar energi kita habiskan untuk membangun citra diri di depan publik? Seberapa sering kita “mengedit wajah” — dalam arti harfiah maupun simbolis — supaya terlihat baik, sukses, rohani, bijak, keren? Dan seberapa serius kita mengizinkan Tuhan menerangi hati kita?

Tetapi peristiwa Tabor mengingatkan kita bahwa Yesus berubah rupa bukan untuk pamer kemuliaan. Ia sedang menyatakan jati diri-Nya yang sejati: Ia adalah Allah yang menjadi manusia. Ia memang bersinar di atas gunung, tetapi Ia juga rela turun ke lembah, berjalan menuju salib. Ia tidak berhenti di momen spektakuler.

Itu bedanya dengan kita. Kita sering ingin tinggal di “gunung likes dan komentar”. Kita ingin bertahan di zona nyaman pengakuan publik. Padahal hidup nyata ada di lembah: di rumah, di kantor, di ruang kelas, di tengah relasi yang kadang rumit.

Dalam Prapaskah, yang diminta bukan berhenti mengedit wajah. Tidak salah tampil rapi, menarik, profesional. Tetapi harus ada keseimbangan. Kalau kita rajin memperbaiki tampilan luar, lebih rajin lagi kita membiarkan hati kita diterangi oleh Kristus.

Keheningan Prapaskah adalah ruang untuk itu. Mengurangi kebisingan. Mengurangi distraksi. Mengurangi obsesi pada citra. Supaya cahaya Tuhan benar-benar menyentuh batin kita.

Saya teringat satu kisah sederhana dari masa kuliah. Seorang dosen filsafat, P. Yosef Pienazek, SVD, pernah bertanya: “Ziarah mana yang paling jauh di dunia ini?” Mahasiswa menjawab dengan penuh semangat. Ada yang menyebut tempat ziarah di Flores. Ia menggeleng. Disebutlah Rawaseneng, Sendangsono, Ambarawa. Ia tetap menggeleng.

Mahasiswa tidak menyerah. Mereka menyebut tempat-tempat ziarah dunia: Fatima, Lourdes, Guadalupe, Santiago de Compostela, bahkan Yerusalem dan Nazaret. Pastor itu tetap menggeleng, malah makin keras. Akhirnya ia berkata: “Ziarah terjauh adalah dari kepala ke hati.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menohok. Kita bisa belajar banyak tentang Tuhan dengan otak. Kita bisa membaca buku rohani, mengikuti seminar, bahkan menulis refleksi yang indah. Kita bisa mengedit wajah supaya tampak religius. Tetapi semua itu baru di kepala, baru di permukaan.

Perjalanan sejati adalah ketika pengetahuan turun menjadi pengalaman. Ketika wajah yang berubah diimbangi dengan hati yang diterangi. Ketika iman tidak berhenti di citra, tetapi menjadi karakter. Itulah ziarah Prapaskah. Dari wajah ke hati. Dari pencitraan ke pertobatan. Dari editan luar ke pembaruan batin. Dari gunung turun ke lembah, dari otak dan pikiran / wajah turun ke hati.

Robert Bala. Penulis buku MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN. Penerbit Kanisius Yogyakarta, Cetakan ke-2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *