Agama  

Membiarkan Tuhan Menuntun Hidup Kita

Membiarkan Tuhan Menuntun Hidup Kita

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin, SVD

Mat 17:1-9
WARTA-NUSANTARA.COM–  Sabda Tuhan Minggu Prapaskah II merupakan satu undangan rohani agar kita belajar mendengarkan dan membiarkan Sabda Allah membentuk keputusan hidup kita. Di Gunung Tabor, suara Bapa bergema dengan jelas oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5).

Suara ini bukan sekadar ajakan mendengar dengan telinga, tetapi panggilan membuka hati dan menyerahkan arah hidup kepada Sabda-Nya. Inilah bukti terdalam dari pertobatan sejati selama prapaska (Hidup, 2026).

Mendengarkan Yesus berarti membiarkan Sabda-Nya membentuk cara kita memilih, cara kita mencintai, dan cara kita memikul salib.

Pertobatan bukan hanya menjauhi dosa, tetapi keberanian untuk mengganti pusat keputusan hidup kita: dari ego dan perhitungan manusiawi, kepada kepercayaan penuh pada kehendak Allah (Sipayung, 2026).

Prapaskah adalah waktu rahmat untuk belajar kembali mendengarkan Tuhan dengan hati yang taat. Paus Leo XIV dalam pesan Prapaska 2026 mengatakan: puasa dan pantang mesti melatih hati untuk lebih terbuka mendengarkan Sabda Allah.

Kitab Kejadian menghadirkan Abraham sebagai teladan iman yang tak tergantikan. “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu” (Kej 12:1). Allah tidak memberi Abraham peta lengkap, tidak merinci langkah-langkah, tidak menjanjikan jalan yang mudah atau aman.

Allah hanya memberi Sabda dan janji. Abraham membiarkan Sabda itu membentuk keputusannya. Ia meninggalkan rasa aman, kebiasaan lama, dan kepastian manusiawi, demi mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada penyelenggaraan ilahi.

Maka Abraham menjadi bapa iman: bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia taat mendengarkan. Mazmur hari ini meneguhkan iman itu: “Mata Tuhan tertuju kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya” (Mzm 33:18).

Pengharapan lahir bukan dari kepastian situasi, tetapi dari bangun hubungan personal dengan Allah yang setia. Abraham berharap bukan karena tahu ke mana ia pergi, tetapi karena tahu siapa yang menuntunnya. Inilah iman yang memerdekakan. Tentu saja, Abraham berani menyalibkan egoisme dan ambisi pribadi.

Namun sikap Abraham justru sangat kontras dengan mentalitas banyak orang Katolik yang hidup di zaman dengan perkembangan teknologi yang dahsyat ini. Kita sering takut membiarkan suara Allah membentuk keputusan hidup kita.

Kita hanya mau taat jika semuanya jelas, terukur, dapat diprediksi, dan menguntungkan. Kita menyusun rencana sendiri-lengkap dengan target, metode, dan keuntungan-lalu melibatkan Tuhan hanya untuk “memberkati” rencana itu.

Tuhan mendapatkan tempat hanya pada saat injury time. Paus Fransiskus mengkritik bahwa iman semacam ini bukan iman yang berjalan, melainkan iman yang mengendalikan Tuhan. Padahal Injil mengajak kita melakukan hal sebaliknya: membiarkan diri dituntun, bukan mengatur Tuhan.

Penginjil Matius menunjukkan bahwa para murid Yesus pun berada dalam proses yang sangat panjang untuk tiba pada kehendak-Nya. Mereka dipanggil untuk meninggalkan ambisi pribadi, mimpi tentang kemuliaan, dan rencana mereka sendiri.

Di Tabor mereka melihat kemuliaan Yesus, tetapi Yesus tidak mengizinkan mereka tinggal di sana. Mereka harus turun, kembali ke jalan yang menuju Yerusalem, jalan menuju penderitaan dan salib. Terang Tabor bukan untuk kenyamanan, melainkan membentuk keputusan setia di saat-saat sulit dalam hidup.

Proses menjadi murid adalah proses panjang membiarkan Sabda Yesus mengubah cara pandang dan cara memilih di tengah tawaran dunia yang menggoda.

Rasul Paulus meneguhkan Timotius untuk tidak malu bersaksi dan tidak takut menderita demi Injil. Paulus telah membiarkan Sabda Kristus membentuk seluruh hidup dan keputusannya, bahkan ketika itu berarti penderitaan.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa Prapaskah adalah waktu untuk bertanya dengan jujur: “Apakah aku membiarkan Tuhan menuntun hidupku, atau aku hanya mencari Tuhan untuk meneguhkan rencanaku sendiri?”

Membiarkan Sabda-Nya membentuk keputusan kita bukanlah sikap pasif, melainkan keberanian iman. Itu berarti berani memilih yang benar meski tidak populer, berani mengampuni meski terluka, berani setia meski berat, dan berani berjalan meski masa depan tidak sepenuhnya jelas.

Itulah pertobatan sejati yang diundang dalam Prapaskah ini.
Mari selama masa Prapaskah ini kita belajar dari Abraham, berani membiarkan diri kita dibentuk oleh Sabda Kristus, dan dikuatkan oleh Roh Kudus, sehingga keputusan-keputusan hidup kita semakin mencerminkan iman, harapan, dan kepercayaan kepada Allah yang setia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *