Agama  

๐Œ๐„๐‹๐ˆ๐‡๐€๐“ ๐€๐‹๐‹๐€๐‡ ๐ƒ๐ˆ ๐–๐€๐‰๐€๐‡ ๐ˆ๐๐” (๐‘๐ž๐Ÿ๐ฅ๐ž๐ค๐ฌ๐ข ๐๐š๐ซ๐ข ๐ˆ๐ง๐ฃ๐ข๐ฅ ๐˜๐จ๐ก๐š๐ง๐ž๐ฌ ๐Ÿ๐Ÿ’:๐Ÿ•โ€“๐Ÿ๐ŸŽ)

๐Œ๐„๐‹๐ˆ๐‡๐€๐“ ๐€๐‹๐‹๐€๐‡ ๐ƒ๐ˆ ๐–๐€๐‰๐€๐‡ ๐ˆ๐๐”
(๐‘๐ž๐Ÿ๐ฅ๐ž๐ค๐ฌ๐ข ๐๐š๐ซ๐ข ๐ˆ๐ง๐ฃ๐ข๐ฅ ๐˜๐จ๐ก๐š๐ง๐ž๐ฌ ๐Ÿ๐Ÿ’:๐Ÿ•โ€“๐Ÿ๐ŸŽ)

Oleh : Robert Bala

 

WARTA-NUSANTARA.COM-–ย  Kalau hari ini kita ditanya, โ€œPernah nggak sih kamu merasakan kasih Allah?โ€ mungkin kita akan jawab, โ€œPernah.โ€ Tapi kalau ditanya lagi, โ€œPertama kali kamu melihat kasih itu di mana?โ€ banyak dari kita, kalau jujur, akan bilang: di wajah ibu.

Waktu kecil kita nggak sadar. Kita cuma tahu: makanan selalu ada. Baju selalu rapi. Kalau jatuh, ada yang peluk. Kalau takut, ada yang temani. Kita nggak pernah mikir dari mana semua itu datang. Pokoknya tersedia.

Baru setelah dewasa, kita mulai paham. Di balik piring yang terisi, ada tangan yang bekerja. Di balik senyum yang tenang, ada lelah yang disembunyikan. Di balik hidup yang berjalan baik-baik saja, ada doa yang dinaikkan diam-diam.

Dalam Injil Yohanes 14:9, Yesus berkata, โ€œ๐‘ฉ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ๐’”๐’Š๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’๐’Š๐’‰๐’‚๐’• ๐‘จ๐’Œ๐’–, ๐’Š๐’‚ ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’๐’Š๐’‰๐’‚๐’• ๐‘ฉ๐’‚๐’‘๐’‚.โ€ Kalimat ini dalam banget. Yesus mau bilang: Allah itu bukan sosok jauh dan abstrak. Allah itu bisa dilihat. Bukan dengan mata fisik semata, tapi lewat kasih yang nyata. Dan banyak dari kita pertama kali โ€œmelihatโ€ kasih ituโ€ฆ lewat ibu. Inilah yang menjadi alasan, mengapa kita berkumpul saat ini dalam peringatan 2 tahun wafatnya Oma, Ibu, Christina Wayem dan semua ibu di dunia.

Bagaimana kita mengenal Allah dalam wajah Ibu kita? ๐‘ท๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’Ž๐’‚, ๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’†๐’๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐‘จ๐’๐’๐’‚๐’‰ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘บ๐’†๐’•๐’Š๐’‚ โ€” ๐‘ป๐’†๐’“๐’๐’Š๐’‰๐’‚๐’• ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐‘น๐’–๐’•๐’Š๐’๐’Š๐’•๐’‚๐’” ๐‘ฐ๐’ƒ๐’–. Ibu itu jarang bikin gebrakan besar. Nggak ada panggung, nggak ada spotlight. Tapi ia bangun paling pagi, tidur paling malam. Hal yang sama, setiap hari. Masak lagi. Bersih-bersih lagi. Doa lagi. Nanya kabar lagi.

Rutinitas yang kelihatannya biasa itu justru luar biasa. Bukankah Allah juga begitu? Matahari terbit tiap pagi tanpa kita minta. Nafas diberikan tanpa kita bayar. Tuhan setia, nggak heboh, tapi konsisten. Ibu mengajarkan kita satu hal: kasih sejati itu bukan soal momen spektakuler. Kasih itu soal hadir, terus-menerus.

๐‘ฒ๐’†๐’…๐’–๐’‚, ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’†๐’๐’‚๐’ ๐‘จ๐’๐’๐’‚๐’‰ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘ฉ๐’†๐’Œ๐’†๐’“๐’‹๐’‚ ๐‘ซ๐’Š๐’‚๐’Ž-๐‘ซ๐’Š๐’‚๐’Ž. ๐‘ฏ๐’‚๐’ ๐’Š๐’•๐’– ๐’•๐’†๐’“๐’๐’Š๐’‰๐’‚๐’• ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐‘ท๐’†๐’๐’ˆ๐’๐’“๐’ƒ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐‘ฐ๐’ƒ๐’–. Kita nggak pernah benar-benar tahu berapa banyak yang ibu korbankan. Berapa kali ia menahan keinginannya supaya kita bisa sekolah. Berapa kali ia pura-pura kuat supaya kita nggak ikut khawatir.Air matanya sering jatuh tanpa saksi. Lelahnya sering dipendam tanpa keluhan.

Allah pun sering bekerja seperti itu. Kita baru sadar pertolongan-Nya setelah badai lewat. Waktu semuanya baik-baik saja, kita pikir itu kebetulan. Padahal ada tangan Tuhan yang menjaga. Ibu mencerminkan kasih yang bekerja di balik layar. Diam-diam. Tapi menyelamatkan. Ada momen dalam hidup seorang ibu ketika ia bisa berkata dengan tenang, โ€œSelesailah sudah.โ€ Bukan menyerah. Tapi lega. Karena tugas sudah dijalankan. Anak-anak sudah dilepas. Tanggung jawab sudah diwariskan.Itu bukan akhir. Itu penyerahan.

๐‘ฒ๐’†๐’•๐’Š๐’ˆ๐’‚, ๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’†๐’๐’‚๐’ ๐‘จ๐’๐’๐’‚๐’‰ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘ด๐’†๐’๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’“. ๐‘ฏ๐’‚๐’ ๐’Š๐’•๐’– ๐’•๐’†๐’“๐’๐’Š๐’‰๐’‚๐’• ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐‘ซ๐’๐’‚ ๐‘ฐ๐’ƒ๐’–. Nggak banyak bicara soal teologi. Tapi coba tanya: siapa yang paling setia menyebut nama kita dalam doa? Ibu. Malam hari, waktu semua orang tidur, mungkin ia masih terjaga. Bukan scroll media sosial, tapi menyebut satu per satu nama anaknya di hadapan Tuhan. Kita nggak dengar doanya. Tapi kita hidup dalam dampaknya.

Ada cerita tentang seorang dokter sukses yang ditanya, โ€œSiapa yang paling berjasa dalam hidup Anda?โ€ Ia nggak menyebut profesor, nggak menyebut universitas. Ia cuma bilang, โ€œIbu saya.โ€
Setelah ibunya meninggal, ia menemukan buku doa kecil. Di setiap halaman tertulis namanya, dengan doa yang sama: โ€œTuhan, jadikan anakku orang yang takut akan Engkau dan berguna bagi sesama.โ€ Ia menangis. Ia sadar, keberhasilannya bukan cuma hasil kerja kerasnya. Tapi hasil doa yang tak pernah ia dengar. Bukankah Allah juga begitu? Mendengar bahkan sebelum kita berseru.

๐‘บ๐™š๐’Œ๐™–๐’“๐™–๐’๐™œ ๐™‚๐’Š๐™ก๐’Š๐™ง๐’‚๐™ฃ ๐™†๐’Š๐™ฉ๐’‚. Kepergian Ibu Christina tidak saja menjadi momen anak dan cucu berterima kasih kepadanya karena telah menghadirkan kasih Allah, tetapi juga kita terajak untuk mendoakan semua ibu di dunia. Hari ini mungkin ibu kita masih ada. Mungkin juga sudah tiada. Tapi kesetiaannya masih hidup dalam nilai yang ia tanamkan. Pengorbanannya masih terasa dalam cara kita menjalani hidup. Doanya masih menguatkan saat kita hampir menyerah.

Lewat seorang ibu, kita belajar: Allah sering hadir bukan lewat hal besar dan spektakuler. Tapi lewat tangan yang memasak. Pelukan yang menguatkan. Doa yang tidak terdengar siapa-siapa.
Dan sekarang pertanyaannya sederhana: Kalau orang melihat hidup kitaโ€ฆ apakah mereka bisa melihat sedikit bayangan kasih Allah? Karena mungkin, seperti Yesus menghadirkan Bapa, dan seperti ibu menghadirkan kasih Tuhan bagi kitaโ€ฆ kini giliran kita menghadirkan kasih itu bagi dunia. Amin.

๐—ฅ๐—ผ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ฎ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—น๐—ถ๐˜€ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜‚ ๐— ๐—˜๐—ก๐—š๐—œ๐—ฅ๐—œ๐—ก๐—š๐—œ ๐—ž๐—˜๐— ๐—”๐—ง๐—œ๐—”๐—ก, ๐Ÿณ๐Ÿฏ ๐—ฅ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐˜ ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ถ๐˜ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ, ๐—ข๐—ธ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฐ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *