Makan Bergizi Gratis: Antara Cita-Cita Luhur dan Realitas yang Menantang
Oleh : Domitius Pau, S.Sos., M.A
Dosen Program Studi Pembangunan Sosial/Sosiatri Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Santa Ursula, Pemerhati Masalah Sosial, Peneliti Masyarakat Adat

WARTA-NUSANTARA.COM– Setiap pemerintahan baru biasanya selalu membawa sebuah “program mercusuar” yang menjadi pembeda bagi visi kepemimpinannya. Di bawah nakhoda Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang semula sekadar janji kampanye telah bertransformasi menjadi kebijakan nasional yang masif. Secara filosofis, MBG adalah langkah berani pemerintah rezim ini untuk memutus rantai kemiskinan dan stunting. Langkah ini patut diapresiasi sebagai investasi cukup progresif dalam menyiapkan generasi muda sehat dan siap untuk memasuki Indonesia Emas 2045. Namun, seiring berjalannya waktu, implementasi MBG di lapangan pun mulai menuai berbagai persoalan yang memerlukan refleksi mendalam serta evaluasi yang jujur dan komprehensif.


Setitik Harapan bagi Petani dan Penyerapan Tenaga Kerja
Tak dapat dipungkiri, di beberapa wilayah, kehadiran dapur-dapur MBG memberikan harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Petani sayur, peternak telur, hingga nelayan kini mulai merasakan kemudahan dalam mengakses pasar untuk memasarkan hasil produksi mereka dengan harga yang relatif stabil. Dalam konteks ini, program MBG menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan keluarga, bahkan beberapa pengamat membenarkan program MBG sebagai salah satu kebijakan pusat yang selaras dengan kebutuhan masyarakat di akar rumput. Di atas kertas, MBG memang telah menciptakan efek ganda (multiplier effect) bagi masyarakat petani dan nelayan.


Selain itu, MBG telah menyerap ribuan tenaga kerja, mulai dari juru masak hingga kurir pengantar makanan yang semula sulit untuk mendapatkan pekerjaan layak mulai terserap dalam ekosistem program ini. Oleh karena itu, dalam beberapa pidatonya, Presiden Prabowo sangat optimis dengan MBG karena janji kampanye untuk menyiapkan lapangan kerja bagi masyarakat sudah tertunaikan dengan program ini. Selain itu, rasa bangga juga muncul di kalangan para pendukung Prabowo-Gibran. Kelompok ini bahkan dengan bangga mengglorifikasi program MBG sebagai bukti nyata keberhasilan pemerintah pilihan mereka dalam menggerakkan roda ekonomi dari pinggiran sebagai kemenangan strategi ekonomi yang langsung menyentuh perut rakyat bawah.


Pergeseran Prioritas: Dilema Anggaran Pendidikan
Di balik narasi kesuksesan tersebut, muncul pula kekhawatiran yang cukup fundamental di dalam masyarakat yang kritis, terutama terkait ketahanan fiskal bangsa ini. Salah satu titik paling krusial adalah sumber pendanaan. Beberapa pihak bahkan menduga adanya indikasi “pergeseran” fokus penggunaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN sebagaimana dimanatkan konstitusi dan UU Sisdiknas demi menopang biaya masif MBG. Dalam konteks ini, anggaran pendidikan yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki gedung sekolah yang nyaris roboh, memfasilitasi laboratorium yang usang, atau meningkatkan kesejahteraan guru honorer menjadi semakin terbatas dan tidak mampu untuk membiayai kebutuhan di bidang pendidikan.
Selain itu, pengalihan anggaran pendidikan untuk pengadaan pangan bagi siswa seperti ini merupakan ancaman nyata bagi dunia pendidikan, yang menyeret bangsa ini ke dalam dilema prioritas. Dikatakan demikian karena guru dan tenaga kependidikan adalah tulang punggung literasi bangsa. Sementara secara fakta di lapangan, kesejahteraan mereka jauh dari kata layak, terlebih lagi bila alokasi dana terfragmentasi untuk MBG. Dengan demikian, kualitas pengajaran pun berada dalam kondisi yang problematis. Di pihak lain, infrastruktur pendidikan yang terabaikan hari ini tidak dapat diperbaiki secara instan di masa yang akan datang, sehingga pembiayaan yang konsisten sangat dibutuhkan dan tidak boleh terputus.
Keamanan Pangan: Alarm dari Realitas Lapangan
Ekspektasi publik terhadap makanan yang sehat dan bergizi sering kali terbentur pada realitas teknis yang pahit di lapangan. Kasus keracunan MBG yang terjadi di Kecamatan Inerie beberapa waktu lalu ataupun di beberapa wilayah di Indonesia, mestinya menjadi alarm keras bagi sistem pengawasan kualitas pangan MBG ini. Mirisnya, kejadian keracunan terus berulang dan bahkan di wilayah yang sama. Fenomena ini menunjukkan adanya celah besar bagi standar operasional prosedur (SOP) dalam penyediaan makanan bagi siswa. Padahal anak usia dini merupakan kelompok rentan terhadap racun makanan, yang menuntut keseriusan dalam menjamin kualitas agar higienis dan layak konsumsi.
Dalam konteks ini, masalah higienitas bukan sekadar perkara “mencuci bahan baku dengan air”. Namun, hal ini melibatkan seluruh rantai pasok makanan hingga sampai ke tangan para siswa. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan di dapur secara kompeten, hingga durasi distribusi yang tepat waktu perlu menjadi perhatian dalam kerangka ini. Semua itu dapat menjadi pemicu bagi menurunnya kualitas makanan, sehingga rentan terkontaminasi jamur atau rusak dan tidak layak untuk diberikan kepada siswa. Semua itu membutuhkan pengawasan yang ketat dan jujur. Ketika niat mulia memberi makanan bergizi berujung pada ancaman kesehatan bagi anak-anak, maka program ini secara otomatis kehilangan legitimasinya di mata orang tua dan masyarakat Indonesia seluruhnya.
Transparansi dan Risiko Akuntabilitas Tata Kelola
Di berbagai media sosial sangat riuh dengan komentar kritis mengenai pengelolaan dapur MBG. Dari sekian banyak tuntutan itu, isu sensitif yang mulai mengemuka adalah tentang siapa yang sebenarnya mengelola dapur-dapur MBG. Ada kekhawatiran publik bahwa pengelolaan unit pelayanan MBG ini berpotensi didominasi oleh pihak-pihak yang memiliki kedekatan politik dengan jaringan kekuasaan di daerah. Jika demikian adanya, MBG justru menjadi preseden buruk bagi pemerintah karena berisiko dipandang sebagai “proyek kuota” para elite. Dengan demikian, tujuan ekonomi kerakyatan dari program MBG yang digaungkan dengan lantang selama ini terancam kehilangan daya tarik dan legitimasi.
Secara empiris di lapangan, ekosistem program MBG yang cenderung tertutup membuatnya sangat rentan terhadap praktik penggelembungan dana (mark-up) belanja bahan baku, bahkan berpotensi menjadi pintu masuk bagi penyelewengan. Praktik seperti ini akan memicu kritik dari masyarakat untuk menolak program tersebut karena pajak yang dibebankan pada mereka hari ini semakin berat justru berisiko “tercecer” dalam rantai birokrasi yang tidak transparan. Paradoks ini sangat menyakitkan, di mana masyarakat membiayai program yang secara teknis mereka ragukan, sementara risiko tata kelola yang buruk justru membayangi setiap suapan MBG yang diberikan kepada para siswa.
Dampak jangka panjang yang jarang dibahas secara populer adalah beban fiskal negara sebagai implikasi dari MBG. Program semasif MBG tentu membutuhkan dana triliunan setiap tahun. Jika pendanaan ini bersumber dari pinjaman atau dialihkan dari anggaran sektor strategis lainnya, maka anak-anak yang merasakan manfaat MBG sekarang ini adalah orang-orang yang harus membayar konsekuensi ekonomi lebih tinggi di kemudian hari untuk melunasi pembelanjaan hari ini. Oleh karena itu, kekhawatiran masyarakat bukan sekadar masalah keamanan pangan, tetapi juga beban ekonomi dan politik di masa mendatang.
Tanpa audit yang ketat dan transparan, program MBG berpotensi menjadi warisan fiskal tanpa jaminan bahwa kualitas SDM kita benar-benar meningkat secara signifikan. Pemerintah perlu menyadari bahwa riak suara skeptis yang muncul belakangan ini bukanlah bentuk resistensi tanpa dasar, melainkan kritik yang lahir dari rasa cinta yang besar terhadap bangsa ini dan keinginan agar kebijakan pemerintah benar-benar tepat sasaran.
Jalan Keluar: Transformasi dari Narasi ke Aksi Perbaikan
Agar program Makan Bergizi Gratis tidak berakhir sebagai kegagalan administratif yang mahal dan membebani sejarah, beberapa langkah evaluasi strategis harus segera diambil tanpa penundaan. Langkah pertama yang mendesak adalah pelaksanaan audit independen dan menyeluruh. Pemerintah, melalui Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau lembaga audit eksternal perlu membedah efektivitas anggaran MBG secara transparan. Hal ini sangat krusial untuk mengklarifikasi apakah terdapat alokasi yang berbenturan dengan dana pendidikan yang seharusnya bersifat sakral untuk pengembangan kualitas SDM non-fisik.
Selanjutnya, aspek teknis berupa standarisasi dan sertifikasi dapur menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Pengelolaan dapur MBG tidak boleh terjebak dalam praktik nepotisme atau penunjukan berdasarkan kedekatan politik. Kompetensi di bidang sanitasi dan gizi harus menjadi kriteria tunggal. Sertifikasi dari BPOM atau otoritas kesehatan terkait harus menjadi syarat wajib bagi setiap pengelola dapur demi memutus rantai kasus keracunan makanan yang sangat membahayakan keselamatan generasi penerus bangsa.
Untuk menutup celah penyelewengan, pemerintah juga perlu membangun sistem transparansi rantai pasok digital. Dengan teknologi ini, publik dapat memantau secara terbuka dari mana bahan baku dibeli, siapa pemasoknya, hingga berapa harga riil satu porsi makanan secara real-time. Digitalisasi ini akan menjadi benteng bagi praktik korupsi dan penggelembungan dana yang selama ini dikhawatirkan oleh masyarakat luas.
Hal yang tidak kalah penting adalah melakukan penyesuaian kembali prioritas dalam implementasi program MBG. Pemerintah harus berani melakukan kajian ulang mengenai cakupan wilayah program ini. Alih-alih dipaksakan berjalan serentak secara masif di seluruh penjuru negeri yang berisiko menguras pundi-pundi anggaran, program ini mungkin lebih efektif jika difokuskan terlebih dahulu pada daerah dengan tingkat kemiskinan dan angka stunting ekstrem. Dengan pendekatan yang lebih selektif dan strategis, anggaran pendidikan lainnya tetap dapat terjaga untuk membiayai kebutuhan yang tak kalah urgen, seperti perbaikan infrastruktur sekolah dan peningkatan kesejahteraan guru.
Penutup
Makan Bergizi Gratis adalah cita-cita yang indah, namun keindahan sebuah kebijakan tidak diukur dari seberapa keras ia diglorifikasi, melainkan dari seberapa bersih dan jujur ia dijalankan serta seberapa aman ia bagi rakyatnya. Pemerintah memiliki kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pendengar yang baik. Melakukan evaluasi dan audit bukan berarti mengakui kegagalan, melainkan menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab dalam bernegara. Jangan sampai program yang dimaksudkan untuk menyehatkan generasi bangsa, justru menjadi beban yang melumpuhkan masa depan bangsa melalui kerusakan sistem pendidikan dan tumpukan beban fiskal yang tidak perlu. Sudah saatnya beralih dari narasi kemenangan menuju aksi perbaikan yang nyata. Terima kasih…












