Agama  

Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka

Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka

Yoh 4:5-42

WARTA-NUSANTARA.COM–  Yesus dan para murid-Nya sedang dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea. Yesus berhenti dan duduk di dekat sumur Yakub di tengah padang gurun Yudea. Yesus tidak bisa menimba air dari dalam sumur. Sumur Yakub yang berada luar kota Sikhar, dimana peristiwa ini terjadi, berada di kawasan Samaria, pertengahan jalan antara Galilea di utara dan Yerusalem di selatan Israel. Sumur itu terletak sekitar 50 kilometer dari Yerusalem.

Pada tahun 722 SM, tentara Asyur menyerang Kerajaan Utara Israel dan mendeportasi banyak orang dari Samaria. Mereka membawa orang kafir dari berbagai negara ke Samaria.

Pada waktu itu, sebagian besar orang Yahudi yang menetap di sana, menikah dengan orang-orang dari negara-negara asing itu. Perkawinan dengan orang-orang asing ini membuat mereka kehilangan kemurnian ras.

Orang-orang Yahudi lain menganggap ini sebagai dosa, sehingga mereka memperlakukan orang Samaria sebagai orang buangan atau orang asing.

Pada tahun 596 SM Kerajaan Selatan diserang. Bait Allah hancur dan orang-orang Yahudi dideportasi ke Babylon. Ketika diperbolehkan kembali ke Yerusalem, mereka mulai membangun kembali Bait Suci.

Beberapa orang Yahudi Samaria yang setia menawarkan diri untuk membantu pembangunan kembali Bait Suci, namun ditolak. Akibat penolakan ini, orang Samaria Yahudi mendirikan Kuil atau Bait Allah mereka sendiri di Gunung Gerizim, menghadap ke Sikhar dan sumur Yakub.

Hampir empat ratus tahun kemudian, pada tahun 129 SM, kuil di Gunung Gerizim dihancurkan oleh tentara Yahudi sehingga hubungan antara orang-orang Yahudi jauh dari baik (Rosis, 2017).
Di mata orang Yahudi, orang-orang Samaria adalah orang-orang kafir. Orang-orang Samaria mengangkat Yahweh sebagai Allah negara (2 Raj 17:25-28), tetapi mereka juga menghormati para dewa Asyur (2 Raj 17:29-34).

Ketika orang-orang Samaria ditolak oleh Nehemia (Ezr 4:2-3) dan dengan langkah-langkah kebijaksanaan politik keagamaan oleh Ezra, maka orang Yahudi dan orang Samaria semakin terasing satu sama lain.

Akhirnya orang Samaria dan orang Yahudi saling bermusuhan.
Orang-orang Samaria sangat anti-Yahudi. Akan tetapi mereka tetap mempertahankan lima kitab pertama dari Kitab Suci Perjanjian Lama (Taurat).

Maka orang Samaria dan orang Yahudi sama-sama mengharapkan dan menantikan kedatangan Mesias. Perempuan yang dijumpai oleh Yesus di dekat sumur Yakub itu juga mempunyai ekspektasi tinggi akan kedatangan Mesias.

Bagi orang Yahudi, wanita yang datang ke sumur pada siang hari tidak lazim. Biasanya perempuan datang menimba air ketika hari masih dingin: pagi atau sore. Boleh jadi perempuan tadi merasa malu bertemu para perempuan lain.

Memang kehidupan pribadinya tidak bisa dibanggakan secara sosial. Tapi bagi Yesus, kedatangan wanita itu sangat membantu, karena kedalaman sumur itu sekitar tiga puluh meter dan ia tidak memiliki tali atau ember. Ketika meminta minum, wanita itu sangat terkejut bahwa seorang Yahudi meminta minum dari seorang Samaria. Keterkejutan ini tidak hanya karena ia berasal dari kelompok buangan tetapi juga tabu bagi seorang Yahudi untuk berbicara dengan seorang wanita di depan umum dan meminta berbagi air dari ember yang sama.
Kadang kita berpikir bahwa hal yang paling penting adalah setia kepada semua aturan agar kita menjalani kehidupan iman kita dengan selamat dan pasti.

Yesus yang kita ikuti tidak seperti yang kita pikirkan. Cerita ini buktikan kepada kita: Yesus menerobos tembok prasangka, permusuhan dan tradisi untuk membawa kabar baik tentang perdamaian dan rekonsiliasi kepada orang-orang Yahudi, Samaria dan bukan Yahudi, termasuk kita.

Dia menunjukkan universalitas Injil dalam kata, tindakan konkret dan kabar baik keselamatan. Hanya ada satu hal yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan dan kasih penebusan-Nya yakni keangkuhan (spiritual?).

Dialog membuka tabir hidup Wanita Samaria itu bahwa ia telah menikah lima kali dan saat ini hidup bersama dengan seorang pria yang bukan suaminya. Orang-orang yang angkuh pasti menarik Yesus agar segera menghentikan percakapan itu.

Tidak hanya karena ia seorang wanita dari kelompok buangan tetapi karena wanita itu diragukan secara moral dan reputasi sosial. Tapi apakah kita tahu betul dan menilai benar latar belakang hidup perempuan Samaria itu?

Berapa banyak orang yang telah kita singkirkan hanya karena prasangka? Berapa banyak orang dalam Gereja yang diasingkan hanya karena curiga? Berapa banyak keluarga Katolik yang mengalami polemik dalam hidup berumah tangga, orang-orang muda yang telah hidup bersama dengan pasangannya sebelum menikah atau para imam, biarawan dan biarawati yang bermasalah dalam panggilan, telah kita hukum, abaikan dan singkirkan hanya karena kita menganggap mereka kotor dan diri kita bersih?

Yesus tidak tertarik untuk melihat wanita itu sebagai orang berdosa dan tidak mengatakan pada wanita itu untuk “pergi dan jangan berbuat dosa lagi” seperti yang Ia lakukan kepada seorang wanita yang tertangkap basah karena berzinah (Yoh 8:11).

Keadaan hidup pribadi yang tidak ideal bukan halangan untuk bertemu dengan Dia yang sedang “berjalan lewat” dan menerima kekayaan batin darinya. Yesus bukan tokoh yang mengadili. Ia datang untuk memperkaya kehidupan batin manusia di tengah dunia.
Tuhan melihat wanita Samaria itu adalah seorang pencari iman.

Meski Ia tahu, wanita itu dipandang “sebelah mata” di tengah realitas hidup sosial. Justru kepada wanita inilah untuk pertama kali Yesus mengungkapkan bahwa Ia adalah Mesias. Wanita itu terbuka hatinya ketika berbicara dengan Yesus.

Meskipun ia tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan “air hidup” yang Yesus tawarkan, wanita itu dapat melihat dan menemukan apa yang dia cari dalam diri Yesus.

Bagian yang paling menakjubkan dari cerita ini adalah bahwa perempuan itu meninggalkan embernya di sumur dan pergi ke kota memanggil orang-orang untuk datang dan mendengarkan Yesus.

Ia telah meninggalkan “masa lalu” dan telah dikuasai Tuhan untuk menjadi utusan-Nya. Orang-orang itu datang dan meminta Yesus tinggal bersama mereka.

Kita menerima pencerahan baru: orang yang dipandang asing karena (mungkin) dia wanita, bertambah asing karena identitas Samaria, lebih terasing lagi karena memiliki lima suami dan tinggal dengan pria lain, telah diubah Tuhan secara ajaib menjadi misionaris.

Ia memperkenalkan Yesus kepada semua warga kota Samaria dan membawa warga kota kepada Yesus. Wanita ini membuka hati kita bahwa pandangan Yesus menembus unsur-unsur eksternal, meruntuhkan tembok primordial lalu menerobos masuk ke dalam hati.

Kita mesti jadi misionaris-Nya dalam minggu ini, selama masa prapaska, sepanjang hidup, hingga Kalvari hidup kita. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *