HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
Ide Inspiratif Homili Minggu ke-4 Prapaskah 15 Maret 2026. Bacaan Injil Yohanes 9:1-41
Oleh : Robert Bala
WARTA-NUSANTARA.COM– Bayangkan saya sebagai orang buta itu. Seumur hidup saya hanya mendengar dunia, tetapi tidak pernah melihatnya. Saya tahu suara burung, tetapi tidak tahu warnanya. Saya tahu orang berjalan lewat, tetapi tidak tahu wajah mereka. Saya tahu matahari terasa hangat di kulit, tetapi saya tidak pernah melihat cahayanya.


Dunia bagi saya hanyalah suara, bayangan, dan dugaan. Lalu suatu hari seseorang datang. Orang-orang bilang Dia bernama Yesus Kristus. Dia tidak banyak bicara. Ia hanya membuat lumpur dari tanah, lalu mengoleskannya ke mata saya.


Jujur saja, itu terasa aneh. Siapa juga yang menyembuhkan orang dengan lumpur? Lalu Dia berkata singkat: “Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam.”
Saya bahkan tidak tahu pasti siapa Dia. Tetapi entah mengapa saya percaya saja. Saya berjalan tertatih-tatih menuju kolam itu. Air menyentuh wajah saya. Lumpur terbasuh. Dan tiba-tiba… Cahaya! Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihat dunia. Langit ternyata begitu luas. Air ternyata berkilau. Wajah manusia ternyata penuh warna dan ekspresi.Saya tertawa, saya menangis, saya hampir tidak percaya.



Bayangkan seseorang yang hidup puluhan tahun dalam gelap, lalu tiba-tiba dunia meledak dalam warna. Itulah sukacita yang luar biasa. Sukacita yang tidak bisa ditahan. Sukacita yang membuat hati melonjak. Tidak heran Gereja menyebut Minggu ini Minggu Sukacita—hari Minggu Laetare.
Di tengah perjalanan Prapaskah yang serius dan penuh refleksi, tiba-tiba Tuhan memberi secercah terang. Sukacita orang buta itu bukan sekadar karena matanya sembuh.Ia bersukacita karena hidupnya disentuh Tuhan.



Bukankah itu juga pengalaman kita? Ada orang yang dulu hidupnya penuh kemarahan, lalu Tuhan menyentuh hatinya. Ada orang yang dulu putus asa, lalu Tuhan memberi harapan. Ada orang yang dulu tersesat, lalu Tuhan menunjukkan jalan.
Ketika Tuhan menjamah hidup seseorang, reaksinya hampir selalu sama:
hati yang penuh syukur dan sukacita.
Tetapi kisah ini punya kejutan. Ironisnya, setelah saya bisa melihat, justru banyak orang yang tidak mau melihat kebenaran. Orang-orang bertanya macam-macam. Para ahli agama bahkan menyelidiki saya seperti detektif. Yang paling aneh adalah para orang Farisi.
Mereka melihat mukjizat itu, tetapi tetap tidak percaya. Mereka melihat orang buta bisa melihat, tetapi malah sibuk mencari kesalahan. Lalu muncul pertanyaan penting: Siapa sebenarnya yang buta? Saya yang dulu tidak bisa melihat tetapi sekarang percaya? Atau mereka yang matanya sehat tetapi hatinya tertutup?
Kadang-kadang kebutaan yang paling parah bukanlah kebutaan mata, tetapi kebutaan hati. Orang yang rendah hati akan berkata, “Tuhan, aku mau belajar melihat.”Tetapi orang yang sombong akan berkata, “Aku sudah tahu semuanya.”
Yang pertama akan mengalami sukacita. Yang kedua akan tetap hidup dalam gelap.
Ada sebuah cerita sederhana. Seorang anak kecil berjalan bersama ayahnya pada malam hari. Jalan sangat gelap. Anak itu takut. “Ayah, aku tidak bisa melihat jalan,” katanya.
Ayahnya lalu memberikan sebuah senter kecil. Cahayanya tidak besar, hanya cukup menerangi beberapa langkah di depan.
Anak itu berkata, “Tapi Ayah, lampu ini tidak menerangi seluruh jalan.” Ayahnya tersenyum dan berkata, “Tidak perlu melihat seluruh jalan. Cukup lihat langkah berikutnya.”Anak itu mulai berjalan. Langkah demi langkah. Dan akhirnya mereka sampai di rumah.
Sering kali hidup kita juga seperti itu. Kita tidak selalu melihat seluruh rencana Tuhan. Kadang kita hanya melihat sedikit terang di depan kita. Tetapi ketika kita percaya kepada Yesus Kristus, terang kecil itu cukup untuk membawa kita keluar dari gelap. Karena bersama Tuhan, selalu ada harapan. Dan seperti kata pepatah lama yang indah:
Habis gelap, terbitlah terang.
Robert Bala. Penulis Buku Memaknai Badai Kehidupan. Penerbit Kanisius, Cetakan ke-3.









