Rilis dari Satrio Pedo,ST.MT yang diterima Warta Nusantara
NAGEKEO : WARTA-NUSANTARA.COm-Desa Udiworowatu di Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo memiliki potensi daerah yang tergolong limpah. Desa yang terletak di tepi pantai Maunori, menyebabkan desa ini memiliki potensi yang mencakup wilayah darat maupun laut. Di darat terdapat banyak tanaman niaga seperti kelapa, kakao, cengkeh, pisang dan berbagai tanaman lainnya. Banyaknya sumber berdaya yang dimiliki oleh desa ini, berpotensi menjadi unggulan untuk pengembangan BUMDES Udiworowatu.
Penjabat Kepala Desa Undiworowatu, Ludgerdus Sale Dando,S.Hut mengemukakan bahwa BUMDES yang berjalan di desanya,belummenaruh perhatian padapengolahanpotensisumberdaya yang ada. Aktfitas hanyapadaurusan simpanpinjamdanpenyewaansarana (tenda dan kursi). “Aktifitas BUMDES masih pada urusan simpan pinjam dan sewa tenda-kursi, dan belum menangani potensisumberdayaalamyang ada di desa, seperti kelapa dan tanaman lain serta hasil laut” Demikian pengakuan Kepala Desa, Ludgerdus, yang lebih akrab disapa Us.
Penjabat Kades Udiworowatu, Ludgerdus menjelaskan pula bahwa pengolahanpotensikelapamenjadi kopra olehwargaDesaUdiworowatu, telah berlangsung sejak lama. Selain menjadi kopra, buah kelapa juga diolah untuk memproduksi minyakmurniatau VCO (Virgin Coconut Oil). Namun aktifitas pengolahan buah kelapa untuk hasilkan kedua jenis produk tersebut merupakan usahamilik pribadi. Untuk mendorong dan menghimpun usaha-usaha parsial milik keluarga ini ke dalam wadah BUMDES, menurutnya merupakan masalah yang kini dihadapi di desanya. “Permasalahan yang munculialahdisaatadanyawacanadanrencanauntuk produksi VCO ditangani oleh BUMDES terjadi keengganan di kalangan warga. Warga telah menjalankan industri rumahan ini dan melakukan penjualan produk melalui jalur-jalur pemasaran yang telah mereka miliki. Masyarakat telah melakukanproses penjualan secara mandiri, meskipun sehingga kontrol terhadap harga pasar terkait penjualan hasil produksi ini tidak menentu. Memang harga yang tidak menentu tersebut berpotensi merugikanwargadesa, namun warga telah mempunyai pola pemasaran produk VCO. Jadi, kalau kita ajak gabung ke BUMDES, itu butuh proses penyadaran”. Ungkap Penjabat Kades, Us.
Dikemukakan pula oleh Us bahwa forum yang telah digelar oleh kecamatan Keo Tengah pada tanggal 7 Februari 2022, yang dihadiri pula oleh mahasiswa UNWIRA peserta KKNT-PPM di kecamatan Keo Tengah untuk berupaya merangkul BUMDES-BUMDES menjadi BUMDES bersama, merupakan satu upaya untuk membantu menata tatakelolah pengolahan dan pemasaran potensi desa. Ini satu terobosan yang baik, namun akan butuh cara pendekatan yang intensif dan sistematis pada masyarakat.
Di pihak lain, mahasiswaUNWIRA peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik-Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KNT-PPM) UNWIRA di Desa Udiwirowatu terlibat mengolah potensi lain dari buah kelapa, yakni bahan buangan (limbah), untuk produksi asap cair. Kelompok mahasiswa yang beranggotakan 10 orang ini membuat tanur pembakaran untuk produksi asap cair sesuai arahan dari Gerardus D Tukan,S.Pd.M.Si, dosen Kimia FMIPA Unwira, yang juga salah satu pendamping tim KKNT-PPM UNWIRA ke kecamatan Keo Tengah. Kelompok mahasiswa peserta KKNT-PPM di desa Udiworowatu pun melakukan pelatihan produksi pada warga. Diharapkan, sarana yang telah disiapkan oleh mahasiswa peserta KKNT-PPM dapat digunakan untuk memproduksi asap cair, sebagai upaya untuk optimalisasi limbah olahan buah kelapa di Desa Udiworowatu, dan terutama menjadi satu pemicu untuk pengembangan BUMDES dalam hal olahan potensi kelapa di desa tersebut***.(*/WN-01)