Agama  

Tetaplah Bersyukur

Tetaplah Bersyukur

Oleh : Pater Steph Tupeng Witin, SVD
                                             
                                                Luk 17: 11-19
WARTA-NUSANTARA.COM–  “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” (Luk 17:17).

Orang Yahudi memandang kusta dan penyakit lain sebagai kutukan dari Tuhan. Mereka tersingkir bahkan disingkirkan dari keluarga dan komunitas sosial.

 

orang-orang yang lahir dalam kondisi sangat tidak diharapkan justru menerima hukuman sosial baru yang dibangun atas nama agama yang kiblatnya adalah keselamatan. Maka kita paham ketika orang-orang kusta itu hanya mampu berteriak meminta penyembuhan kepada Yesus dari jauh.

 

Kesepuluh orang kusta itu disembuhkan. Namun hanya hanya ada satu orang asing yang kembali kepada Tuhan yang telah menyembuhkannya. Ia memuliakan Allah dengan suara nyaring lalu tersungkur di depan kaki Yesus sambil mengucap syukur kepada-Nya (Luk 17:15-16).

Satu orang ini kembali sambil memuliakan Allah tanpa rasa malu sedikit pun. Ia menyadari bahwa kesembuhan yang ia terima merupakan kekuatan Ilahi. Fakta lebih menakjubkan adalah dia orang asing yang dianggap kafir dalam kamus agama Yahudi.

Di mata Tuhan, orang ini tidak sekadar sembuh secara fisik tapi ia telah mengalami kesembuhan yang lebih mendalam di dalam hatinya (Luk 17:19).

Satu orang ini menunjukkan satu sikap hakiki dari orang yang tahu bersyukur karena menerima dan mengalami keselamatan dari Allah. Orang ini memiliki kesadaran yang bersumber dari iman bersyukur atas kekuatan Ilahi yang berada di luar kuasa dirinya.

Kata-kata Yesus sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini merepresentasikan rasa syukur yang mestinya bersemi dalam hati setiap orang beriman. Iman mesti terungkap dalam rasa syukur. Bukti bahwa kita rendah hati dan mengakui keterbatasan kita di hadapan kemahakuasaan Allah.

Orang yang tahu bersyukur menyadari bahwa yang utama dalam hidup bukan apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan apa yang dilakukan Allah bagi kita. Kesadaran alamiah ini akan menjadikan kita orang yang hidup dalam alur kenikmatan sukacita dan rasa syukur utuh.

Tuhan sejujurnya tidak membutuhkan ucapan syukur dari sembilan orang kusta. Tuhan mungkin saja hanya ingatkan pendengar agar menjalani hidup ini dengan kesadaran setia bersyukur. Orang yang tidak tahu bersyukur adalah pecundang.

Mukjizat yang dialami tidak sekadar kesembuhan fisik tapi kesembuhan hati dari luka karena tidak tahu bersyukur atas rahmat yang diterima. Orang yang tidak tahu bersyukur tidak memperoleh tempat pantas dalam proses penyembuhan lebih besar dan mendalam yaitu kedamaian hati dan sukacita yang sejati.

long kita sadari karya Tuhan dalam hidup ini, entah baik maupun buruk. Kita mengucap syukur bukan hanya karena kita memiliki kehidupan yang selalu baik.

Tapi justru rasa syukurlah yang membuat hidup kita bahagia dan lebih baik, meski mengalami situasi yang tidak kita inginkan. Rasa syukur menambah kekuatan rohani yang menyanggupkan kita menjalani hidup lebih baik, meretas relasi lebih “sempurna” dengan Tuhan dan sesama, selalu berpikir positif dan bahagia.

Rasa syukur mungkin tidak instan mengubah keadaan yang sulit menjadi baik. Tapi rasa syukur akan menghadirkan damai sejahtera dalam hati.

Rasa syukur adalah tanda kita beriman kepada Tuhan. Maka “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tes 5:18). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *