Memprediksi Langkah Persebata
Oleh : Robert Bala
WARTA-NUSANTARA.COM– Selasa, 30 Desember 2025, Persebata kembali turun ke lapangan menghadapi PS Gresik. Laga ini bukan pertandingan biasa. Ini adalah pertandingan ke-9 dari total 15 laga Liga 3 Nusantara Grup D—sebuah kompetisi yang menggunakan sistem triple round robin, di mana setiap tim bertemu lawan yang sama sebanyak tiga kali dalam satu grup.




Dengan lebih dari separuh pertandingan telah dimainkan, muncul pertanyaan yang wajar: sudah bisakah posisi akhir Persebata diprediksi? Secara teknis, jawabannya tentu belum final. Masih ada enam pertandingan tersisa hingga laga pamungkas melawan Waanal Brothers dari Mimika, Papua, pada Minggu 25 Januari 2026.




Namun, dengan sekitar 53 persen pertandingan sudah dilalui dan posisi Persebata kini bertengger di urutan ketiga klasemen, membuat prediksi bukanlah tindakan gegabah. Setidaknya, ada dasar yang cukup kuat untuk membaca arah angin.
Konsistensi Mulai Terlihat
Perjalanan Persebata musim ini bukan cerita instan. Saat liga bergulir pada 30 November, tim berjuluk Sembur Ikan Paus justru terperosok di papan bawah. Kekalahan 0-2 dari Preseden Denpasar sempat memicu tanda tanya besar: ke mana arah tim ini?


Padahal, di balik angka itu, Persebata sebenarnya tidak sepenuhnya inferior. Babak pertama menunjukkan perlawanan. Namun sepak bola tetaplah soal skor. Angka di papan tak mengenal “nyaris”.
Titik balik mulai terasa saat Persebata menahan imbang PS Bantul 1-1 pada 4 Desember. Harapan kian tumbuh meski pada laga berikutnya, 8 Desember, mereka kalah tipis 0-1 dari Persikabpas Pasuruan—tim yang kala itu memuncaki klasemen. Bahkan ketika Pasuruan bermain dengan sepuluh pemain, Persebata masih menyimpan asa bahwa tim ini punya sesuatu yang sedang tumbuh.



Dua laga penutup fase pertama menjelma menjadi penegasan. Persebata menang 2-0 atas PS Gresik (12/12) dan kembali menang 1-0 atas Waanal Brothers (16/12). Modal psikologis pun terbentuk.
Memasuki fase kedua, grafik Persebata terus menanjak. Meski kembali kalah dari Preseden Denpasar (1-2), ada kemajuan nyata: gol balasan yang sebelumnya absen kini tercipta. Laga berikutnya, Persebata menang 2-1 atas PS Bantul—peningkatan signifikan dibanding hasil imbang di fase pertama.




Namun ujian sesungguhnya datang pada 26 Desember saat menghadapi Pasuruan, sang pemuncak klasemen. Di luar dugaan banyak pihak, Persebata tampil penuh determinasi dan menang meyakinkan 3-1. Kemenangan ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga pernyataan: Persebata kini layak diperhitungkan.
Secara matematis, dua laga berikutnya—melawan PS Gresik (30/12) dan Waanal Brothers (4/1)—di atas kertas cukup menguntungkan karena Persebata telah menang pada pertemuan sebelumnya. Namun justru di sinilah bahaya mengintai. Lawan yang pernah kalah tentu datang dengan persiapan baru. Apalagi, Persebata kini berada di posisi tiga besar—status yang membuat setiap lawan melakukan studi lebih serius.
Fakta lain menegaskan pentingnya kewaspadaan: PS Bantul sukses mengalahkan Preseden Denpasar 2-1 pada 29 Desember. Pesannya jelas, rekam jejak positif tidak pernah menjamin kemenangan berikutnya.
Jika fase kedua berakhir di laga ke-10, maka fase ketiga akan menjadi penentu nasib. Dan di titik inilah, laga melawan Preseden Denpasar menjadi kunci utama.
Tren menunjukkan adanya peningkatan setiap kali Persebata menghadapi Preseden. Dari kalah tanpa gol, menjadi kalah dengan perlawanan. Bila progres ini berlanjut, bukan mustahil pada pertemuan ketiga—laga ke-11 pada 9 Januari—Persebata bisa mencuri poin, bahkan menang.
Optimisme ini bukan tanpa dasar. PS Bantul, yang berada di bawah Persebata di klasemen, justru konsisten mengalahkan Preseden. Sementara dalam duel langsung, Persebata tampil lebih unggul atas Bantul: imbang 1-1 dan menang 2-1.
Artinya, jika Persebata mampu menaklukkan Preseden di fase ketiga, posisi dua klasemen sangat realistis. Soal puncak? Biarlah itu menjadi mimpi yang disimpan sambil terus bekerja dalam senyap.
Gol, Motivasi, dan Masa Depan
Pada fase ketiga, Persebata bukan hanya dituntut menang, tetapi juga mencetak selisih gol. Kemenangan 3-1 atas Pasuruan menunjukkan potensi itu. Ini penting untuk menghindari penentuan lewat head-to-head.
Di luar teknis lapangan, ada faktor lain yang tak kalah krusial: motivasi. Di Liga 3, keterbatasan finansial adalah kenyataan. Namun justru di situlah letak taruhannya. Lolos ke Liga 2 bukan sekadar prestasi tim, tetapi lompatan karier bagi para pemain. Nama-nama seperti Deni, Baghi, Toi, dan Samby berpeluang dilirik klub-klub lebih besar.
Harapan itu nyata. Dan selama harapan hidup, semangat akan terus menyala. Seperti paus yang menyembur megah di Laut Sawu, Persebata tengah mengukir semburan perjuangan—pelan, kuat, dan penuh makna. ***
Robert Bala. Penulis buku Rancang Diri Raih Karier. Penerbit Tanah Air Beta, Yogyakarta, Januari 2026








