• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • National
  • Internasional
  • Polkam
  • Hukrim
  • News
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Home
  • National
  • Internasional
  • Polkam
  • Hukrim
  • News
  • Pendidikan
  • Olahraga
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Agama

PANDANGAN YANG SAMA Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18/1/2026.

by WartaNusantara
Januari 14, 2026
in Agama, Opini
0
PANDANGAN YANG SAMA Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18/1/2026.
0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

PANDANGAN YANG SAMA
Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18/1/2026.

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM–  Berdoa untuk persatuan umat Kristen di daerah-daerah dengan komposisi Protestan dan Katolik yang hampir seimbang—seperti di NTT, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, atau Papua—selalu punya cerita sendiri. Di satu sisi, sama-sama Kristen itu seharusnya bikin suasana adem. Tapi di sisi lain, justru karena “sama”, gesekan bisa muncul kalau sedikit saja “digoreng”. Beda tata ibadah, beda tradisi, beda kebiasaan—semua bisa jadi bahan perbandingan.

Itulah sebabnya Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen (Minggu 18/1) bukan sekadar agenda tahunan, tapi kebutuhan nyata.

RelatedPosts

Bahasa Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)

Bahaya Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)

Tobby Ndiwa, Serfolus Tegu dan Kapolres Nagekeo Harus Diproses Hukum Terkait Kebocoran Data Intelijen dan Penyebaran Berita Bohong

Satu Demi Satu “Dosa” Serfolus Tegu Terkuak Catatan untuk Gerombolan Mafia Nagekeo (12)

Load More

Namun, pertanyaan pentingnya: persatuan yang kita doakan itu sebenarnya apa? Apakah yang dimaksud bahwa semua gereja harus sama dalam ritual, liturgi, atau cara berdoa? Haruskah kita seragam supaya bisa disebut bersatu?

Injil Yohanes 1:29–34 memberi jawaban yang jernih sekaligus menohok terhadap pertanyaan ini.
Dalam kisah itu, Yohanes Pembaptis sedang jadi pusat perhatian. Banyak orang datang kepadanya, terkesan dengan baptisan air yang ia lakukan.

Tapi di tengah sorotan itu, Yohanes justru mengalihkan perhatian mereka. Ketika Yesus berjalan mendekat, Yohanes berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Fokusnya bukan lagi pada dirinya, bukan pada metode baptisan, bukan pada ritual—melainkan pada Yesus.

Kalau kita tarik ke konteks Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen, jangan-jangan inilah yang sering terjadi di antara kita. Kita terlalu sibuk melihat ke dalam: ke doktrin sendiri, ke tradisi sendiri, ke keunggulan gereja sendiri. Akibatnya, tanpa sadar, kita lupa melihat Yesus yang sebenarnya sedang berjalan mendekat. Pertanyaannya jadi tajam: apakah kita sedang menunjuk kepada Kristus, atau justru sibuk menunjuk diri dan kelompok kita sendiri?

Tentu setiap gereja punya kekhasan dan keindahan masing-masing. Itu wajar dan bahkan perlu. Identitas membuat iman jadi kokoh. Tapi di situ juga ada garis tipis yang berbahaya: dari rasa syukur atas keunikan diri, bisa bergeser ke sikap “kami paling benar” dan “yang lain kurang tepat”. Di sinilah gesekan sering lahir.

Perbedaan lahiriah gampang sekali memicu perdebatan. Misalnya soal baptisan: ada yang dengan cara selam, tuang, atau percik. Semua terlihat berbeda. Tapi kalau berhenti di situ, kita baru bermain di permukaan. Yohanes Pembaptis sendiri menegaskan bahwa baptisannya dengan air hanyalah awal. Yesus datang membawa baptisan Roh, sesuatu yang jauh lebih dalam dan paripurna.

Artinya, yang utama bukan teknis ritualnya, melainkan karya Allah yang mengubah manusia dari dalam.

Yang menarik, Yohanes juga menunjukkan hal lain yang sangat menghentakkan kita di tengah godaan akan kesombongan diri menjadi sangat kuat. Yang dimaksud adalah Yohaens menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa.

Ia mengakui bahwa dirinya tidak mengenal Yesus sebelum Allah sendiri menyatakannya. Seorang nabi besar pun berani berkata, “Saya terbatas.”

Ini sikap rohani yang sangat penting dalam dialog ekumenis antargereja.

Persatuan tidak akan tumbuh dari klaim kebenaran sepihak, melainkan dari kerendahan hati untuk saling belajar, saling mendengar, dan memberi ruang bagi Allah bekerja melampaui batas-batas yang kita buat.

Pekan Doa Sedunia mengundang gereja-gereja untuk datang dengan hati terbuka, bukan dengan prasangka. Bukan dengan mental tanding, tetapi dengan sikap peziarah yang sama-sama sedang berjalan menuju Kristus.

Lebih dari itu, Yohanes menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Bukan dosa satu kelompok, satu denominasi, atau satu bangsa saja—melainkan dosa dunia.

Karya keselamatan Kristus itu universal. Ia melampaui sekat gereja, budaya, dan sejarah.

Kalau begitu, dosa dunia juga mencakup dosa perpecahan di antara orang Kristen sendiri: kecurigaan, luka lama, dan konflik yang diwariskan turun-temurun. Pertanyaannya jadi tidak nyaman: bagaimana kita mau ikut ambil bagian dalam keselamatan dunia, kalau di dalam tubuh Kristus sendiri kita mudah retak dan gampang memisahkan diri hanya karena perbedaan yang sebenarnya masih bisa dibicarakan?

Pekan Doa Sedunia bukan hanya ajakan untuk mendoakan persatuan, tetapi juga ajakan untuk jujur mengakui bahwa perpecahan itu nyata. Doa persatuan bukan cuma soal menyatukan yang sudah terpisah, tetapi juga supaya kita tidak gampang terpecah lagi ke depannya—terutama karena alasan-alasan yang lebih banyak didorong kepentingan manusia daripada kehendak Allah.

Dalam konteks ini, kata-kata Edmund Burke terasa sangat relevan: “Whatever disunites man from God, also disunites man from man.” Apa pun yang memisahkan manusia dari Tuhan, pada akhirnya juga memisahkan manusia dari sesamanya. Perpecahan antar umat Kristen bisa jadi tanda bahwa relasi dengan Tuhan sendiri sedang terganggu.

Maka Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen adalah panggilan untuk menyelaraskan kembali arah pandangan kita. Dari diri sendiri ke Kristus. Dari perbedaan lahiriah ke misi yang lebih dalam. Dari ego kelompok ke keselamatan dunia. “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Ketika pandangan kita sama-sama tertuju ke sana, persatuan bukan lagi sekadar slogan, melainkan jalan hidup. Amin. ***

Robert Bala, Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik Universidad Complutense de Madrid. Penulis buku MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN. Penerbit Kanisius Yogyakarta.

 

WartaNusantara

WartaNusantara

Related Posts

Bahasa Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)
Opini

Bahaya Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)

Bahaya Memotong Proses (Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan) Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM--  Ajang pencarian bakat di televisi—sebut saja Indonesian...

Read more
Tobby Ndiwa, Serfolus Tegu dan Kapolres Nagekeo Harus Diproses Hukum Terkait Kebocoran Data Intelijen dan Penyebaran Berita Bohong

Satu Demi Satu “Dosa” Serfolus Tegu Terkuak Catatan untuk Gerombolan Mafia Nagekeo (12)

Operasi 300 Menit : Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela

Operasi 300 Menit : Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela

Amerika Serikat Tangkap Presiden Maduro ” it is justified ?”

Amerika Serikat Tangkap Presiden Maduro ” it is justified ?”

Natal Dekenat Lembata, Rm Sinyo da Gomez : “Momentum Pembaruan Hidup” , Bupati Kanis : “Tingkatkan Kerjasama Gereja dan Pemerintah” 

Natal Dekenat Lembata, Rm Sinyo da Gomez : “Momentum Pembaruan Hidup” , Bupati Kanis : “Tingkatkan Kerjasama Gereja dan Pemerintah” 

Hari Kesaktian Pancasila 2025 : Momentum Untuk Berefleksi dan Menegakkan Nilai Luhur Bangsa Indonesia

Reba dan Uwi : Akar Ontologis Peradaban Ngada Terancam Tercerabut

Load More
Next Post
Isu Anak Dijadikan Senjata, Yanti Siubelan: Itu Manipulasi Moral di Balik Proses Banding Perkara Lucky

Isu Anak Dijadikan Senjata, Yanti Siubelan: Itu Manipulasi Moral di Balik Proses Banding Perkara Lucky

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ads

Tag

mostbet mostbet UZ Sastra
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak

Copyright @ 2020 Warta-nusantara.com, All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Polkam
  • Internasional
  • National

Copyright @ 2020 Warta-nusantara.com, All right reserved

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In