Bahaya Memotong Proses
(Bahaya Viralitas, Identitas, dan Kejatuhan)
Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM– Ajang pencarian bakat di televisi—sebut saja Indonesian Idol, The Voice Indonesia, Liga Dangdut Indonesia (LIDA), hingga Stand Up Comedy Indonesia—telah menjadi panggung mimpi bagi banyak anak muda Indonesia. Termasuk dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak sedikit remaja dari Timur yang lolos seleksi, tampil memukau, lalu… boom! Nama mereka mendadak ada di mana-mana.
Dalam hitungan hari, orang yang tadinya “biasa saja” berubah menjadi figur publik. Followers naik gila-gilaan, undangan wawancara datang bertubi-tubi, kontrak mulai disodorkan. Hidup seperti di-fast forward. Semua tampak indah, glamor, dan menjanjikan. Siapa yang tak mau?
Tapi di balik sorotan lampu dan tepuk tangan, ada satu risiko besar yang sering luput disadari: viral tanpa kesiapan diri bisa jadi pintu masuk ke kejatuhan karier. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya terjadi ketika ketenaran datang terlalu cepat?
Psikolog Erik Erikson, jauh sebelum era media sosial, sudah mengingatkan hal ini. Dalam Identity and the Life Cycle (1959), ia menjelaskan bahwa masa remaja dan dewasa muda adalah fase krusial pembentukan identitas. Di usia ini, seseorang seharusnya mengeksplorasi nilai, tujuan hidup, dan peran sosialnya. Identitas bukan hasil sulap instan. Ia dibangun lewat proses—panjang, pelan, dan sering kali penuh jatuh-bangun.
Masalahnya, dunia viral bekerja sebaliknya. Ajang pencarian bakat kerap “memotong proses”. Seseorang yang belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri, tiba-tiba dipoles, dikemas, dan disodorkan ke publik sebagai “bintang”. Jalan panjang diringkas. Proses refleksi dilewati. Yang penting tampil dulu, urusan matang belakangan.
Di sinilah rapuhnya mulai terasa. Identitas yang dibentuk secara instan biasanya tidak tahan banting. Begitu kritik datang, tekanan meningkat, atau sorotan mulai bergeser, mental goyah. Erikson menyebut kondisi ini sebagai kebingungan identitas—ketika seseorang terkenal, tapi belum benar-benar tahu siapa dirinya.
Persoalan makin rumit ketika ketahanan psikologis juga belum terbentuk. Tedeschi dan Calhoun (1995) menyebut ketahanan mental (psychological resilience) sebagai hasil dari pengalaman hidup yang terstruktur dan reflektif. Ketahanan itu tidak bisa dibangun secara kilat. Ia tumbuh lewat kegagalan kecil, luka yang diproses, dan pengalaman yang dihayati.
Sayangnya, artis dadakan sering tidak punya ruang itu. Mereka langsung “dilempar” ke dunia yang keras, kompetitif, dan penuh tuntutan. Ketahanan dibangun seadanya—bahkan sering kali sambil jalan. Akibatnya, rongga psikologis menganga, tapi ditutup dengan senyum dan pencitraan.
Media sosial lalu datang sebagai “penolong palsu”. Katanya, dengan likes, comments, dan share, popularitas bisa dijaga. Padahal, di sinilah jebakan serius mengintai. Harga diri mulai naik-turun mengikuti algoritma. Hari ini dipuja, besok dilupakan. Kritik profesional terasa seperti serangan personal. Validasi eksternal menjadi candu.
Yang lebih berbahaya, sorotan publik yang intens membuat hidup serba salah. Setiap gerak-gerik jadi bahan konsumsi. Bercanda sedikit bisa disalahartikan. Nongkrong di tempat umum bisa digoreng jadi gosip. Privasi terkikis pelan-pelan. Padahal, banyak artis dadakan masih hidup dengan ritme lama—spontan, polos, apa adanya.
Masalah muncul ketika keaslian itu bertabrakan dengan kamera dan ekspektasi publik. Kesalahan kecil bisa meledak jadi skandal besar. Apalagi jika dilakukan tanpa kesadaran bahwa dirinya kini selalu diawasi. Di titik ini, ketidakmatangan diri bisa berujung fatal.
Karena itu, kejatuhan sejumlah artis di tanah air seharusnya dibaca sebagai alarm. Dan ini bukan tidak mungkin juga menimpa para talenta dari NTT yang sedang atau akan melejit. Di satu sisi, tentu kita patut bangga. Orang Timur punya modal kuat: postur tubuh yang ramping dan atletis, daya tarik kultural, tubuh yang terbiasa bekerja dan menari. Dengan sedikit polesan, tampil sudah kelihatan “jadi”.
Namun, tampang luar tanpa kematangan dalam adalah kombinasi berbahaya. Karier yang sehat butuh jeda dan refleksi—dua hal yang hampir tidak pernah diberikan oleh dunia viral. Semua serba cepat: cepat naik, cepat dituntut, cepat dihakimi. Padahal, kepribadian matang justru lahir dari waktu, kegagalan kecil, dan proses mengenali batas diri.
Di titik inilah peran mentor dan pendamping karier menjadi krusial. Bukan hanya untuk urusan teknis, tapi untuk menjaga kewarasan. Mentor membantu mengelola kritik, meredam konflik, menata jarak antara kehidupan pribadi dan publik, serta—yang paling penting—membantu mengambil keputusan jangka panjang. Karena karier bukan sprint, tapi maraton.
Perlu ditegaskan: viralitas tidak selalu buruk. Popularitas bisa menjadi pintu peluang luar biasa jika dibarengi kesiapan mental dan karakter. Mereka yang bertahan biasanya punya satu kesamaan: kesadaran diri. Mereka tahu sorotan publik bukan identitas, melainkan konsekuensi. Nilai diri tidak ditentukan oleh tepuk tangan, tapi oleh pijakan batin.
Dunia hiburan dan media sosial seharusnya tidak hanya mencetak bintang, tetapi juga manusia utuh: yang mampu mengelola ego, menerima kritik, dan tetap membumi saat dipuja.
Pada akhirnya, viral hanyalah momen. Karier adalah perjalanan. Di dunia yang cepat lupa, yang bertahan bukan yang paling viral, melainkan mereka yang paling siap menjadi diri sendiri—baik saat kamera menyala, maupun ketika lampu panggung padam. ***
Robert Bala. Penulis buku Rancang Diri, Raih Karier. (Penerbit Tanah Air Beta, Januari 2026)








