RD Marianus Hali Wuwur PR Berpulang : Tentang Panggilan, Waktu, dan Kepenuhan Makna Filsafat Hidup
Oleh: Bedos Making
WARTA-NUSANTARA.COM– Manusia kerap merencanakan masa depan seolah waktu adalah miliknya. Namun realitas selalu mengingatkan bahwa hidup bukan terutama soal panjangnya perjalanan, melainkan kedalaman makna yang dihayati di setiap langkah. Di titik inilah kisah RD Marno Wuwur PR berbicara dengan suara yang hening namun menggugah.

Tahun 2025 menjadi penanda sejarah panggilan hidupnya. Ia ditahbiskan menjadi imam—sebuah momen di mana kehendak pribadi dan kehendak Ilahi bertemu dalam satu “ya” yang total. Tahbisan bukan sekadar peristiwa liturgis, melainkan keputusan eksistensial: menyerahkan diri sepenuhnya bagi Allah dan sesama. “Dirinya telah memilih cara berada (modus essendi) yang tidak berpusat pada diri, melainkan pada pengabdian.
Namun waktu, yang sering kita anggap linier dan dapat diprediksi, menunjukkan wajah misterinya. Pada Minggu, 25 Januari 2026, RD Marno Wuwur PR berpulang menghadap Allah. Secara manusiawi, jarak antara tahbisan dan wafat terasa terlalu singkat. Akan tetapi, filsafat mengajak kita melihat bahwa makna hidup tidak diukur oleh durasi, melainkan oleh intensitas kesetiaan pada panggilan.
Ia mengingatkan kita pada pemikiran bahwa hidup adalah “tugas” sebelum menjadi “kepemilikan”. Panggilan imamat yang ia terima dan jalani, meski dalam waktu yang singkat, telah mencapai kepenuhannya karena dijalani dengan totalitas. Dalam terang iman, hidupnya menyerupai lilin yang menyala terang—bukan karena lamanya terbakar, tetapi karena ia memberikan seluruh dirinya sebagai terang bagi sekitarnya.
Kepergian RD Marno Wuwur PR, dalam Usia 28 Tahun 24 Bulan dan 5 Hari juga menyingkap kebenaran filosofis yang mendalam: manusia tidak pernah benar-benar selesai “menjadi”. Dalam wafat, ia tidak berhenti, melainkan melampaui. Jika hidup di dunia adalah proses menuju makna, maka berpulang kepada Allah adalah kepenuhan makna itu sendiri—kembali kepada Sumber dari segala panggilan.
Maka, kisahnya bukanlah kisah tentang kehilangan semata, melainkan tentang pemenuhan. Ia telah menjalani apa yang dipercayakan kepadanya. Dalam diam dan singkatnya waktu, hidup RD Marno Wuwur PR menjadi sebuah kesaksian bahwa ketika seseorang hidup seturut kehendak Allah, maka tidak ada hidup yang terlalu singkat, dan tidak ada kematian yang sia-sia. (BM)
Suasana duka menyelimuti Gereja Katolik Keuskupan Larantuka setelah kabar kepergian RD Marianus Hali Wuwur, seorang pastor muda yang baru saja ditahbiskan kurang dari satu tahun yang lalu. Ia dipanggil Tuhan untuk mengakhiri pelayanannya di dunia, meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang pernah ia layani.
RD Marianus Hali Wuwur adalah salah satu dari empat imam yang menerima tahbisan imamat pada Oktober 2025 di kampungnya, Lewopenutung, Nagawutung, Dekenat Lembata Keuskupan Larantuka. Upacara tahbisan tersebut menjadi momen bersejarah penuh sukacita, ketika ia bersama tiga rekannya diutus melayani umat dengan semangat iman dan cinta kasih.
Komsos Keuskupan Larantuka
Sebagai imam muda, pengabdian RD Marianus dipandang sebagai simbol panggilan hidup yang penuh dedikasi. Meski masa imamatnya baru berjalan beberapa bulan, dedikasi dan semangatnya dalam pelayanan pastoral sudah menyentuh banyak hati umat. Kepergiannya menjadi pengingat akan misteri kehidupan dan panggilan rohani yang tak selalu berjalan sesuai harapan manusia.
Masyarakat dan umat Keuskupan Larantuka turut merasakan duka cita mendalam atas meninggalnya pastor muda ini. Banyak yang mengenang betapa beliau membawa semangat baru dalam perayaan liturgi, kunjungan pastoral, serta pendampingan umat, khususnya kaum muda dan keluarga.
Keuskupan Larantuka sendiri memiliki sejarah panjang dalam kehidupan Gereja Katolik di Indonesia, dengan tradisi iman kuat yang diwariskan sejak lama di wilayah Flores Timur dan sekitarnya. Tradisi perayaan liturgi yang khas, termasuk Semana Santa, mencerminkan kekayaan spiritual umat setempat.
Kini, di tengah rasa duka, umat Katolik di Larantuka bersatu dalam doa dan harapan. Mereka memohon agar Tuhan yang Maha Kasih menerima iman dan pelayanan RD Marianus Hali Wuwur, serta menguatkan keluarga dan komunitas yang ditinggalkan. Kepulangan beliau menjadi pengingat bagi semua untuk terus menjalankan panggilan hidup dengan setia, dalam suka maupun duka. Imam muda itu telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Bahagia di Rumah Bapa di surga. “Engkau Adalah Imam Untuk Selama-lamanya” (Ibrani : 5 : 6)
Bedos Making, adalah Jurnalis tinggal di Dekenat Lembata








