Usai Misa Perdana, Romo Gusti Wenger “Dipinang” Umat Paroki Noehaen

KUPANG : WARTA-NUSANTARA.COM— Perayaan misa perdana Romo Agustinus Recthsanyo Wenger berlangsung khidmat di Wilayah 3, Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui, Kupang, Selasa, 27 Januari 2026 sore hingga malam hari. Sebagaimana diketahui, Romo Gusti adalah “Anak Paroki Santo Arnoldus Janssen Waikomo”, Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka, dimana pada 6 Januari 2026 ditahbikan menjadi Imam oleh Mgr. Hironimus Pakaenoni di Gereja Katedral Kristus Raja kupang.

Usai perayaan misa, umat dari Paroki Santo Stefanus Noehaen, tempat Romo Gusti akan bertugas “meminangnya” untuk membawanya pulang ke paroki itu.
Dalam sebuah seremoni singkat seorang umat membawa selembar kain motif daerah Amarasi dengan warna dasar putih. Kain itu kemudian dibalutkan di badan Romo Gusti. Sebuah selendang dikalungkan di leher dan sebuah topi khas lokal yang disematkan di kepala sang yubilaris.
Setelah mengenakan “pakaian kebesaran” itu seorang tokoh umat menyampaikan bahwa kain yang dikenakan itu sebagai simbol “pinangan” umat untuk meminta romo segera pulang ke Paroki Noehaen.

Romo Gusti bersama para imam
Tak lama berselang, lagu daerah dari Amarasi diputar. Ratusan umat dari paroki itu spontan “menyerbu” tenda sembari menari. Mereka meliukkan tubuh mengikuti irama lagu itu. Saat menari, mereka membawa dan menyematkan uang di dester (topi) Romo Gusti. Karena spontanitas itu kepala romo yang dipenuhi dengan lembaran uang itu harus “diamankan” agar membolehkan umat lain memberi bagian kepada romo.
Sekitar sepuluh menit umat menari sembari membawa buah tangannya untuk sang gembala. Untuk diketahui, Romo Gusti menjalani TOP Diakonat (tahun orientasi pastoral) di paroki ini selama enam bulan. Setelah ditahbiskan sebagai imam projo pada tanggal 6 Januari 2026 di Gereja Katedral Kristus Raja, Kupang, ia ditempatkan kembali oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai pastor rekan di paroki ini.

Saat penerimaan secara tutur adat setelah perarakan dari pusat paroki
Perarakan dari Pusat Paroki
Misa perdana ini diawali dengan penjemputan di Pastoran Paroki Santu Yosef Pekerja Penfui pukul 14.30 Wita. Dilanjutkan dengan upacara penerimaan secara adat di gerbang pintu acara berupa natoni dari tokoh adat Desa Oeltua serta pengalungan selendang kepada romo dan para imam yang hadir.
Saat perarakan Romo Gusti menempati sebuah mobil terbuka didampingi om kandung, Kons Lalawutu bersama istri.
Misa itu dihadiri sekitar 25 imam, frater, suster dan sekitar 1.000 umat. Romo Yonas Kamlasi, pastor rekan yang membawakan khotbah mengatakan, panggilan menjadi imam sungguh menjadi jalan Tuhan. Karena itu patut dijaga hingga kekal.

Umat Paroki Noehaen menaruh “bingkisan” di kepala Romo Gusti
Romo Yonas juga menyentil pertemuannya dengan opa sang yubilaris, Thomas Lalawutu (almarhum)– di masa hidup yang terus mendoakan cucu ini menjadi seorang imam.
Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Kupang (KAK), RD. Kris Saku menyebut keluarga merupakan sumber panggilan hidup membiara. Karena itu Romo Kris menyapa satu per satu keluarga dari Romo Gusti. Ia menyebut bapa, mama dan adik-adik romo. Juga opa dari Romo Gusti, yakni almarhum Thomas Lalawutu dan Oma Sadipun. Selain keluarga batih, keluarga Thomas Lalawutu ikut menumbuhkan panggilan ini.
“Mama kecil dari Romo Gusti, Mama Esi — yang menelepon ke Lewoleba minta agar Gusti mendaftar ke SMA Seminari Santo Rafael, Oepoi, Kupang. Jika mama kecil tidak menelepon, maka Gusti akan didaftarkan pada salah satu SMA di Lewoleba. Bila itu terjadi, kita tak bertemu di sini dan kisah perjalanan hidup akan berbeda,” katanya.
Panitia misa perdana ini juga menyerahkan kado untuk sang yubilaris. Dirangkai dengan pemotongan kue ulang tahun ke-29 Romo Gusti pada tanggal 27 Januari 2026. Perayaan misa perdana itu dirangkai dengan HUT Romo Gusti.

Bersama keluarga dari Lembata
Romo Gusti menyampaikan terima kasih kepada orang tua, keluarga besar dan semua pihak yang telah memberinya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi seorang imam. Saat memberi berkat perdana kepada orangtua dan adik-adik kandung dan menyampaikan kata hati, suaranya sedikit bergetar menahan kesedihan.
Sejumlah sambutan baik dari panitia maupun keluarga punya nada yang sama, yakni akan terus mendoakan perjalanan imamatnya.
Paul Burin, mewakili keluarga besar, mengatakan bahwa hal yang paling ditakutkan dalam hidup adalah “Kita kehilangan kampung halaman dan kehilangan orang-orang terkasih.” Kutipan ini dipandang Paul masih kontekstual.
Sejujurnya kata Paul Burin, keluarga tidak mengalami kedua hal di atas. Keluarga besar mengalami atmosfer perjumpaan yang diliputi cinta, perhatian serta spirit yang besar dari semua pihak.
Sesuai agenda, pada tanggal 8 Februari 2026, umat dan keluarga akan mengantar Romo Gusti menuju Paroki St. Stefanus Noehaen. Paroki ini dulunya merupakan bagian dari Paroki Yohanes Pemandi Buraen. Romo Gusti merupakan putra dari pasangan Yohanes Don Bosko Wenger, S.H., dan Yuliana Kasing. Ia putra sulung dari empat bersaudara. Ini tiga Saudara Romo Gusti yakni, Gregorius Gabriel Gerardusi Wenger, Germana Alexa Valerine Wenger, dan Caroline Sophia Nini Wenger. ***
PROFIL ROMO GUSTI :
Nama : Agustinus Rechtsanyo Wenger, Pr
Tempat Tanggal Lahir : Maumere, 27 Januari 1997
Ayah : Yohanes Don Bosko
Ibu : Juliana Kasing
RIWAYAT PENDIDIKAN
2001-2023 : TKK St. Marieta Lewoleba
2003-2009 : SD INPRES 1 Lewoleba
2009-2012 : SMPK St. Don Bosko Lewoleba
2012-2016 : SMA Semonari Menengah St. Rafael OEpoi Kupang
2016-2017 : Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian
2017-2021 : Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
2021-2023 : Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di SMA Katolik Geovani Kupang
2023-2025 : Studi teologi di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang
31 Mei 2025 : Ditahbiskan menjadi Diakon oleh Mgr. Dominikus Saku, Pr
Juni-Desember 2025 : Tahun Orientasi Diakonat di Paroki St. Stephanus Noehaen
6 Januari 2026 Tahbisan Imam oleh Mgr. Hironimus Pakaenoni di Gereja Katedral Kristus Raja kupang.
*** (Paul Burin-Karolus Kia Burin)








