

โ๐ ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ ๐๐ฒ๐ฐ๐ถ๐น ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฎ๐ธ ๐ฆ๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ง๐๐บ๐ฏ๐๐ตโ ๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐๐ธ๐ ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฎ๐ธ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐
WARTA-NUSANTARA.COM–ย Beberapa hari belakang ini kita semua pasti membaca ataupun mendengar berita tentang seorang anak Sekolah Dasar ( SD ) yang B*n*h D*r* karena tak mampu membeli Buku Tulis dan Penaโฆ. Di satu tempat, seorang anak kehilangan harapan karena tak mampu membeli buku dan pensil. Sementara di tempat lain, banyak anak dengan segala kepunyaannya masih merobek selembar buku tulis.



Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mengingatkan, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama. Seorang anak sampai merasa hidupnya buntu hanya karena tidak mampu membeli buku dan pensil. itu menyentuh luka yang sangat dalam tentang kemiskinan, pendidikan, dan rasa gagal yang dipikul anak-anak kecil.

Yang paling menyedihkan, sering kali bukan bukunya yang jadi masalah, tapi rasa malu, rasa takut dimarahi atau dipermalukan, dan perasaan bahwa tidak punya jalan keluar.
Anak seusia itu belum punya kemampuan mental untuk melihat bahwa masalah bisa ditunda, dibantu, atau dicarikan solusi. Saat dukungan tidak hadir, beban kecil bisa terasa tak tertahankan.
Kejadian ini jadi tamparan keras untuk kita semua bahwa sistem pendidikan yang masih belum ramah bagi anak miskin atau tidak mampu, kurangnya kepekaan lingkungan sekitar, dan pentingnya kehadiran orang dewasa yang mau mendengar tanpa menghakimi.
Tidak ada satu pun anak yang seharusnya kehilangan harapan hanya karena tidak mampu membeli buku dan pensil.
Pendidikan bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar setiap anak. Ketika seorang anak memilih mengakhiri hidupnya karena merasa tidak mampu, itu bukan kegagalan anak tersebut, itu adalah kegagalan kita bersama, orang dewasa, lingkungan, dan sistem yang belum cukup melindungi.
Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar sekolah.
Mereka membutuhkan rasa aman, penerimaan, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian saat mengalami kesulitan.
Karena bagi anak-anak, masalah kecil bagi orang dewasa bisa terasa seperti akhir dari segalanya.
Mari kita belajar lebih bersyukur, lebih peduli, dan lebih menjaga.
Karena bagi sebagian anak, buku bukan sekedar alat belajar melainkan harapan. ๐ค
Semoga tragedi ini tidak berlalu sebagai berita, tetapi menjadi pengingat dan panggilan Nurani agar tak ada lagi anak yang merasa hidupnya tidak berharga hanya karena kemiskinanโฆ..
Hans Rukep Keraf,ย
Jakarta, 04/02/2026











