Forum Jurnalis Lembata Rayakan HPN 26 : Teguhkan Pers Mitra Strategis Daerah, Kritik Bermartabat


LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM– Forum Jurnalis Lembata (FJL) merayakan Hari Pers Nasional 9 Pebruari 2026 di Lapangan Harnus Lewoleba. Srcara Nasional, memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke 80 yang mengangkat tema, “Pers sehat, ekonomi berdaulat, Bangsa kuat”, dirayakan dalam hikmah oleh Forum Jurnalis Lembata (FJL) Provinsi Nusa tenggara timur. Perayaan itu sungguh bermakna meneguhkan kemitraan strategis dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata. Kritik boleh, namun tetap bermartabat.


Hadir dalam acara Hari Pers Nasional tersebut antara lain, Bupati Lembata, Kanis Tuaq, Wakil Ketua ll DPRD Lembata, Gewura Fransiskus, Anggota DPRD, Petrus Gero, FX Atawolo dan Ramdan Kalang. Asisten lll, Berchmas Dai Wutun, Kadis Pariwisata Adnreas Yakobus Wuwur, Kadis Lingkungan Hidup, Chris Rimba Raya, Kepala Bapenda, Lukman Suksin, dan Ketua Bawaslu, Bayo Febry.


Ketua FJL Alexander Paulus Taum diawal sambutan menegaskan, di negara demokrasi, informasi ibarat oksigen yang menjadi barang publik. Tantangannya kini, informasi di internet justru dimanipulasi oleh opini-opini publik yang sebenarnya tidak ada, akhirnya dianggap ada.
Disrupsi teknologi dan kebebasan pers menjadi dua pukulan terberat pers dalam menghadirkan jurnalisme yang berkualitas. Padahal, kualitas demokrasi salah satunya dipengaruhi oleh kualitas jurnalisme dalam menghadirkan informasi sebagai barang publik.


Di negara demokrasi, informasi ibarat oksigen yang menjadi barang publik. Jika kualitas informasi yang disuplai untuk publik tidak berkualitas, bisa berdampak pada kualitas demokrasi. Pers punya peran menyediakan ‘oksigen’ yang sehat untuk publik.
Di era disrupsi teknologi,
Uber, Gojek, Grab → mendisrupsi taksi konvensional.
Netflix, YouTube → mendisrupsi industri TV dan bioskop.
E-commerce (Tokopedia, Shopee) → mendisrupsi toko fisik.
AI dan otomasi → mendisrupsi kerja administratif dan industri manufaktur.
Fintech → mendisrupsi bank tradisional.
Media mungkin tidak berhasil membuat publik memercayai sesuatu, tetapi selalu berhasil membuat publik memikirkan suatu isu. Ketika narasi yang dimanipulasi oleh media-media arus utama itu masuk dalam percakapan publik, maka akan menjadi wacana yang dianggap benar oleh masyarakat. Pada titik ini, kredibilitas, integritas, dan independensi media, dan juga jurnalis, menentukan ke mana arah demokrasi kita, ke arah mana publik dituntun.
Oleh karena itu, tugas pers ke depan adalah menyajikan berita yang lebih jernih dan bisa menjelaskan informasi melebihi opini-opini warga yang banyak beredar di media sosial. Hal itu sangat bisa dilakukan karena pers terikat pada kode etik, dan juga undang-undang.
Jurnalisme berkualitas menjadi elemen penting untuk menyebarkan informasi menjadi jernih dengan merekam fakta sebaik-baiknya. Namun, di era sekarang, hal tersebut jelas tidak mudah dilakukan oleh jurnalis karena melimpahnya informasi di media sosial.
Peranan cross-check dan filter berita dalam newsroom memegang peranan penting untuk meningkatkan kualitas berita.
Media juga harus melihat pembaca sebagai bagian integral dalam proses pembuatan berita. Media harus peka terhadap permintaan pembaca, bahkan menjadikan pembaca sebagai bagian dari ekosistem informasi. Media dan jurnalisme, dalam hal ini, bertanggung jawab memastikan bahwa teknologi hanya alat yang membantu meningkatkan kualitas jurnalisme, bukan sebaliknya.
Alexander salah satu dari lima awak media penerima piagam penghargaan atas dedikasi selama kurang lebih 20 tahun setia sebagai jurnalis mengatakan, Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap 9 Februari bertepatan peringatan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946 di Surakarta.
Penetapan ini didasarkan pada Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1985 yang ditandatangani Presiden Soeharto, guna menegaskan peran pers sebagai pilar demokrasi dan perjuangan nasional.
Bagaimana Forum Jurnalis Lembata memaknai HPN 2026?
Melalui sejumlah kegiatan sosial dan edukatif, FJL berupaya memperkuat literasi, membangun kedekatan sosial, dan mendorong terciptanya ekosistem pers yang sehat di Kabupaten Lembata.
Membangun Literasi Digital di Kalangan Pelajar
Rangkaian kegiatan FJL diawali dengan penyuluhan mengenai penggunaan media sosial dan media mainstream (arusutama) kepada para siswa SMKN 1 Nubatukan pada 24 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam membekali generasi muda dengan pengetahuan tentang cara menyaring informasi, memerangi hoaks, serta memanfaatkan media digital secara positif.
Dalam sesi tersebut, para jurnalis berbagi pengalaman nyata di lapangan, memperkenalkan proses kerja jurnalistik, serta menekankan pentingnya etika bermedia.
Inisiatif ini mendapat sambutan antusias dari para pelajar yang selama ini hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi dan informasi.
Merajut Silaturahmi dan Kebersamaan
Pada 31 Februari 2026, FJL melanjutkan kegiatannya dengan melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Al Fatha di Desa Waowala, Kecamatan Ile Ape. Kunjungan ini tidak sekadar seremoni, melainkan wujud keterhubungan antara insan pers dengan lembaga pendidikan nonformal yang selama ini menjadi bagian penting dalam pembinaan karakter generasi muda.
Para jurnalis berdialog dengan para pengurus dan santri mengenai peran media dalam masyarakat serta pentingnya membangun komunikasi yang sehat, terbuka, dan saling menghormati.
Berbagi Sembako bagi Warga yang Membutuhkan
FJL juga menggelar aksi sosial melalui pembagian paket sembako kepada warga yang membutuhkan di wilayah Rayuan dan Lewoba Tengah pada 2 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi simbol kepedulian insan pers terhadap kondisi sosial masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan uluran bantuan. Warga menyambut kegiatan ini dengan penuh syukur.
Kami juga mengunjungi Orang dengan HiV (Odhiv), Yustina Hekur, Ketua Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Kabupaten Lembata, Terdiagnosis sejak 2005, Yustina kini sudah mencapai kondisi undetectable setelah menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV) secara rutin, dan telah dinyatakan tidak berpotensi menularkan HIV. Saat itu pula kami beritakan bahwa HIV bukan akhir dari segalanya.
Bagi FJL, aksi tersebut bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan cerminan bahwa pers dapat hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial.
Pencerahan Literasi Bermedia bagi Pelajar SMKS Santucs Lewoleba
Rangkaian kegiatan FJL ditutup dengan edukasi literasi digital bagi siswa SMKS Santucs Lewoleba pada 7 Februari 2026.
Para siswa diajak untuk memahami tata cara bermedia sosial yang baik dan benar, termasuk cara menyikapi informasi yang sensitif, membangun komunikasi yang beretika, serta menggunakan media digital secara produktif.
Puncak Perayaan HPN 2026: Membangun Pers Bermartabat
Sebagai puncak peringatan Hari Pers Nasional, FJL akan menggelar kegiatan bertema “Kritik Membangun Pers Lembata yang Bermartabat”
Tema ini menjadi refleksi mendalam mengenai pentingnya kritik konstruktif dalam perkembangan dunia pers, sekaligus ajakan untuk terus membangun praktik jurnalistik yang profesional dan bertanggung jawab.
Meneguhkan Peran Pers sebagai Mitra Strategis Daerah
Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Forum Jurnalis Lembata menegaskan kembali perannya sebagai pilar penting dalam pembangunan daerah.
Pers tidak hanya mencatat dan memberitakan, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis yang mendorong perubahan.
Dengan semangat kolaborasi dan integritas, FJL berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, sekaligus menjaga martabat profesi jurnalis di tengah dinamika perkembangan informasi yang semakin cepat.
Akhir kata, kami menyampaikan Terimakasih kepada seluruh pihak yang sudah membantu memperlancar seluruh rangkaian Kegiatan FJL, terimakasih sudah hadir pada kesempatan ini. Kami bukan malaikat, kami butuh dukungan untuk menjadi Pers yang lebih bermartabat. ***(WN-01)








