Panen Perdana BUMDes  Maju Makmur Waiara: Dari 6.000 Pohon Cabai, Desa Menata Arah Ekonomi*

Panen Perdana BUMDes  Maju Makmur Waiara: Dari 6.000 Pohon Cabai, Desa Menata Arah Ekonomi*

MAUMERE : WARTA-NUSANTARA.COM–  Lahan di samping Kantor Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, yang selama ini sunyi, pagi itu berubah menjadi pusat aktivitas. Barisan tanaman cabai rawit tampak dipetik satu per satu. Panen perdana dimulai menandai fase baru bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Makmur.

Di atas lahan sekitar 5.500 meter persegi, BUMDes menanam sedikitnya 6.000 pohon cabai rawit jenis bara. Di sela-selanya, tumbuh pula sekitar 700 pohon pepaya California dan 4.000 tanaman tomat. Kombinasi ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari desain usaha yang diarahkan pada ketahanan pangan sekaligus sumber pendapatan desa.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WITA itu dihadiri sejumlah pejabat daerah dan unsur keamanan. Tampak perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Camat Kewapante, tenaga ahli program pembangunan desa, unsur Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta Tentara Nasional Indonesia, bersama tokoh masyarakat setempat.

Oplus_16908288

Kepala Desa Waiara menyebut panen ini sebagai hasil dari kerja kolektif antara pemerintah desa dan pengurus BUMDes. Ia menilai keberhasilan awal ini penting, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi sebagai bukti bahwa pengelolaan usaha desa mulai menunjukkan arah.

“Ini kerja bersama. Kami bangga karena desa punya badan usaha sendiri dan hasilnya mulai terlihat,” ujarnya.

Pemerintah desa mencatat telah mengalokasikan anggaran Rp174,17 juta untuk program ketahanan pangan, serta Rp20,2 juta untuk operasional pengurus dan pengawas BUMDes. Investasi itu kini mulai diuji di lapangan.

Namun panen cabai baru tahap awal. Pemerintah desa berharap produksi pepaya dan tomat dapat mengikuti, sehingga usaha ini tidak berhenti pada satu komoditas. Diversifikasi dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan dan stabilitas pendapatan.

Di balik upaya ini, terdapat tekanan fiskal yang tidak ringan. Pemotongan dana desa dari pemerintah pusat, yang disebut mencapai sekitar 70 persen, mendorong desa mencari sumber pendapatan alternatif. BUMDes kemudian ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk menopang Pendapatan Asli Desa (PADes).

Langkah ini juga diselaraskan dengan agenda yang lebih luas, mulai dari swasembada pangan hingga dukungan terhadap program makan bergizi gratis. Desa, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar pelaksana kebijakan, tetapi ikut menjadi produsen dalam rantai pasok pangan.

Panen perdana di Waiara mungkin belum besar dalam skala ekonomi. Namun ia menyimpan makna yang lebih dalam: sebuah desa mulai menguji kemampuannya sendiri mengelola, memproduksi, dan berharap bertahan di tengah perubahan kebijakan dan keterbatasan anggaran. ***(ICHA-WN SIKKA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *