Prof.Dr.Drs.Thomas Tokan Preklolon, M.Si., M.M., M.Ph.

GURU BESAR DARI KAMPUNG KECIL PROF. DR. DRS. THOMAS TOKAN PUREKLOLON, M.Si., M.M., M.Ph.

(Sebuah Testimoni)

 Oleh: Thomas B.Ataladjar

Thomas B.Ataladjar

WARTA-NUSANTARA.COM—- “Et tu, Bethlehem Ephrata… ex te mihi egredietur qui sit dominator in Israel…”(Mikha 5:2). Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memimpin  Israel.Nubuat Nabi Mikha dari abad ke-8 Sebelum Masehi ini, kemudian ditegaskan kembali dalam Injil Matius. “Et tu Bethlehem terra Iuda, nequaquam minima es in principibus Iuda; ex te enim exiet dux, qui reget populum meum Israel.”(Matius 2:6)“ “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”

 

                                                                       ******

Pada malam yang penuh syukur ini, Nubuat Nabi Mikha di atas  terasa begitu dekat dengan pengalaman kita bersama. Sabda yang dahulu diarahkan kepada Betlehem—sebuah kota kecil yang nyaris tak diperhitungkan—malam ini seakan bergema kembali untuk sebuah kampung kecil di lereng Ile Ape Timur……….. Tokojaeng. Maka dengan penuh kebanggaan dan haru, kita dapat berkata: “Dan engkau, Tokojaeng, kampung kecil di kaki Ile Ape, engkau bukanlah yang paling kecil di antara kampung-kampung Lewotana. Sebab dari rahimmulah telah lahir seorang Guru Besar—seorang anak kampung yang menyalakan terang ilmu pengetahuan bagi banyak orang.”

Anak Kampung Di Panggung Ilmu Pengetahuan Nasional.

Malam ini kita hadir untuk mensyukuri perjalanan panjang kehidupan. Perjalanan seorang  anak kampung yang melangkah dari tanah gerong Tokojaeng,  menuju puncak pencapaian intelektual. Sebuah perjalanan yang tidak dibangun dalam sekejap, melainkan ditempa oleh ketekunan, disiplin, pengorbanan, doa, dan kesetiaan pada cita-cita.

Dalam tradisi akademik, gelar doktor merupakan jenjang tertinggi pendidikan formal. Namun perjalanan Dr.Thomas Tokan Pureklolon tidak berhenti di sana. Dengan kerja ilmiah yang tekun, integritas intelektual yang kuat, dan dedikasi panjang dalam dunia pendidikan tinggi, beliau kini mencapai jabatan akademik tertinggi  profesor seorang dosen perguruan tinggi,  Guru Besar di Universitas Pelita Harapan.

Pencapaian ini bukan hanya kemenangan pribadi. Ini adalah kemenangan keluarga, kemenangan masyarakat, kemenangan Lewotana, dan sekaligus tanda bahwa anak-anak dari kampung kecil pun dapat berdiri terhormat di panggung ilmu pengetahuan nasional.

Dari pinggiran  Tokojaeng yang sunyi, lahirlah pemikiran yang memberi arah. Dari kampung sederhana ini tumbuh seorang intelektual yang memperkaya percakapan tentang politik, demokrasi, dan kehidupan berbangsa. Wajarlah  pada malam penuh syukur ini, dengan hormat dan sukacita yang mendalam, kita menyampaikan: SELAMAT DAN SUKSES bagi Prof.Dr.Drs.Thomas Tokan Preklolon, M.Si., M.M., M.Ph.

Fondasi Pertama Lahirnya Seorang Guru Besar.

Mungkin yang paling berbahagia saat ini adalah pasangan sederhana dari Kampung Tokojaeng. Bapak Gabriel Botun Pureklolon dan Ibu Theresia Tuto Making. Dari tangan merekalah seorang anak bernama Thomas dihadirkan ke dunia, tepat pada tanggal 31 Mei 1967, di sebuah kampung kecil yang gersang dan tandus  dan jauh dari kemewahan peradaban modern.

Mereka bukan orang berada. Mereka hanyalah petani dan pekebun kampung,  yang hidup dari kemurahan tanah dan musim. Dengan berkebun dan  memelihara ternak, mereka berjuang mengalahkan kerasnya alam Tokojaeng  dengan musim yang terkadang kurang bersahabat. Mereka  bekerja keras dan berjuang agar anak-anaknya dapat bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih terang. Dalam kesederhanaan itulah sesungguhnya berdiri fondasi pertama lahirnya seorang Guru Besar.

Tokojaeng,  Sebuah Konteks Sejarah dan Budaya

Desa Tokojaeng hanyalah sebuah desa kecil di Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata,Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar masyarakatnya hidup sebagai petani dan nelayan tradisional. Tetapi sebagaimana banyak kampung tua di tanah Lamaholot, Tokojaeng bukanlah ruang kosong tanpa sejarah.  Masyarakat Tokojaeng  memiliki ingatan kolektif yang hidup dalam kisah tutur, legenda, dan tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Raya Laga Doni  dan ketiga adiknya Koke, Bome, dan Bido, serta Ina Peni Utan Lolon merupakan tokoh-tokoh awal yang dikenang dalam sejarah lokal masyarakat  Tokojaeng. Nama-nama ini bukan sekadar tokoh legenda, melainkan penanda identitas budaya dan akar genealogis masyarakat Tokojaeng.

Kisah tentang Tokojaeng dan Suku Pureklolon kemudian diangkat dan diabadikan dalam buku Lembata dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya, khususnya dalam bagian berjudul Ina Peni Utan Lolon, Toko Jaeng Tokan Lota Pito, Lawe Salang Lema, dan Manuk Seregokok.  Dengan demikian, Tokojaeng perlahan bergerak dari dunia mitos menuju ruang sejarah yang terdokumentasi. Dan menariknya, salah satu sumber referensi penting bagi penulisan sejarah itu adalah catatan dan refleksi dari  Dr. Thomas Tokan Pureklolon sendiri. Karena itu, Thomas Tokan Pureklolon bukan hanya lahir dari Tokojaeng. Thomas  juga turut mengangkat Tokojaeng masuk ke dalam percakapan sejarah dan intelektualitas yang lebih luas.

Dari kampung yang gersang dan dibakar matahari inilah, tumbuh benih unggul dalam diri Thomas Tokan Pureklolon. Ia bertumbuh di atas tanah gerong yang terik dalam kehidupan yang keras dan serba terbatas, dengan hanya mengandalkan kemurahan alam dan kerja keras kedua orang tuanya. Namun justru dari keterbatasan itu tumbuh daya juang, disiplin, dan ketekunan yang luar biasa.  Sejak Sekolah Dasar, Thomas sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan dan kepemimpinan. Dari kelas tiga hingga kelas enam SD, ia selalu dipercaya menjadi ketua kelas sekaligus ketua umum murid. Prestasi itu menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba ketika dewasa, melainkan telah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Setelah menamatkan SD pada tahun 1980, Thomas melanjutkan pendidikan ke SMP Ampera Waipukang dan berhasil lulus pada tahun 1983. Dari titik inilah perjalanan intelektualnya mulai menemukan arah yang lebih jelas.

Digodok di Seminari Dalam  Spirit Lima S, Scientia , Sapientia , Sanctitas, Sanitas dan Socialitas.

Dengan modal hasil penjualan seekor babi milik ayahnya—sebuah pengorbanan besar bagi keluarga kampung pada masa itu—Thomas akhirnya dapat melanjutkan pendidikan ke Seminari San Dominggo Hokeng pada tahun 1984. Ia meninggalkan Tokojaeng yang panas dan gersang menuju Lembah Hokeng yang hijau, sejuk, dan dingin. Perpindahan itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan juga perpindahan menuju dunia pembentukan intelektual dan spiritual yang baru.

(Di sini saya secara pribadi merasa memiliki kedekatan emosional tersendiri dengan Thomas Tokan Pureklolon. Sebab dua belas tahun setelah saya tamat dari Seminari Hokeng pada tahun 1972, Ama Thomas Tokan Pureklolon baru memulai perjalanannya di seminari yang sama.)

Di seminari, anak-anak kampung dari berbagai pelosok dipertemukan dengan sebuah tradisi pendidikan modern yang diwariskan para misionaris Eropa. Sistem pendidikan seminari sejak awal diarahkan secara jelas dan terstruktur pada lima pilar utama yang dikenal dengan “Lima S”: Scientia (ilmu pengetahuan), Sapientia (kebijaksanaan), Sanctitas (kesucian), Sanitas (kesehatan), dan Socialitas (kepedulian sosial). Kelima nilai ini bukan hanya slogan pendidikan, melainkan fondasi pembentukan manusia seutuhnya. Karena itulah banyak lulusan seminari memiliki daya tahan intelektual, disiplin hidup, keluasan wawasan, dan kepekaan sosial yang kuat.

Di Lembah Hokeng inilah bakat akademik Thomas Tokan Pureklolon sesungguhnya mulai ditempa secara serius. Di sana diletakkan “batu-batu pertama kehidupan intelektualnya.” Seminari pada masa itu melakukan berbagai pembaruan penting. Pertama, merevolusi pengajaran sastra dari sekadar memorizing the literature menuju experiencing literature—dari menghafal karya sastra menjadi mengalami dan menghidupi sastra melalui buku dan perpustakaan. Kedua, menghidupkan tradisi menulis dan berpikir kritis melalui penerbitan buletin Sorot Sesado. Dalam ruang-ruang kecil seperti itulah benih intelektualisme mulai tumbuh dan berkembang lewat  membaca, menulis, berdiskusi, dan belajar memandang dunia secara lebih luas dan reflektif. Mungkin pada masa itu belum ada yang menyangka, bahwa seorang anak kampung dari Tokojaeng yang berjalan menyusuri lorong-lorong Seminari Hokeng , kelak akan berdiri sebagai seorang Guru Besar Pemikiran Politik. Namun sejarah sering kali bertumbuh diam-diam, seperti benih kecil yang bekerja sunyi di dalam tanah.

Dosen, Dosen Penulis Produktif , dan Intelektual Publik

Catatan di bawah ini  rada  diperdalam, dengan nada yang lebih reflektif, elegan, argumentatif, dan bernilai historis-kultural. Gebrakan akademik yang dibangun di Seminari Hokeng pada masa itu sesungguhnya bertumpu pada pengembangan humaniora. Pendidikan seminari tidak semata-mata diarahkan untuk mencetak orang pandai secara teknis, melainkan membentuk manusia yang utuh. Manusia yang berpikir, manusia yang merasa, dan manusia yang memiliki kepekaan terhadap martabat sesamanya.

Karena itu, dasar pendidikan seminari bertumpu pada semangat Artes Liberales atau liberal arts—tradisi pendidikan klasik yang menempatkan bahasa, sastra, filsafat, dan ilmu-ilmu kemanusiaan sebagai jalan untuk membela humanitas dan kebudayaan. Dari rahim pendidikan seperti inilah lahir manusia-manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial. Berbekal fondasi pendidikan seminari, ditambah kecerdasan intelektual dan disiplin belajar yang kuat, Thomas Tokan Pureklolon menapaki seluruh jenjang pendidikan tingginya dengan sangat baik. Perjalanan panjang itu akhirnya mengantarnya meraih gelar akademik tertinggi sebagai Doktor dan mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai Profesor.

Namun sesungguhnya, yang paling penting bukan sederet gelar yang melekat di depan atau belakang namanya. Pendidikan formal dan “sekolah kehidupan” yang dijalaninya telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang terdidik akalnya, terlatih mentalnya, dan matang wataknya. Dalam keberhasilan itu, ia tetap menjaga kesederhanaan dan kerendahan hati—seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk.

Prof. Dr. Thomas Tokan Pureklolon bukan sekadar dosen biasa-biasa saja.. Ia  juga adalah seorang dosen-penulis produktif dan seorang intelektual publik yang menjadikan pena sebagai sarana pengabdian. Sebagai dosen penulis, ia tidak hanya mengajar di ruang kuliah.Tetapi juga membangun peradaban pengetahuan melalui tulisan-tulisannya. Ia menyusun modul pembelajaran, menulis jurnal dan artikel ilmiah, menerbitkan buku teks, hingga menghasilkan buku-buku populer yang menjangkau masyarakat luas. Puluhan buku bertema politik dan pemikiran kebangsaan telah lahir dari tangannya.

Dalam diri Thomas Tokan Pureklolon, pedagogi dan literasi berpadu. Ia berhasil menggabungkan kemampuan mengajar dengan tradisi menulis sebagai jalan untuk mencerdaskan, mencerahkan, dan membangun kesadaran publik. Di tengah budaya membaca dan menulis yang semakin menurun dewasa ini, kehadiran seorang akademisi dan penulis produktif seperti Prof.Dr Thomas  Tokan Pureklolon menjadi semakin penting dan relevan.

Guru-Guru Besar Lembata dan Buah-buah Intelektual bermutu dari Kampung-Kampung Kecil Lembata.

Dengan pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Pemikiran Politik di Universitas Pelita Harapan pada hari Senin, 20 April 2026, Prof. Dr. Thomas Tokan Pureklolon menorehkan sejarah baru sebagai putra Ile Ape pertama yang meraih gelar Profesor. Pencapaian ini bukan hanya prestasi personal, melainkan juga kebanggaan kolektif masyarakat Ile Ape dan Lembata. Sebab sejarah kembali membuktikan bahwa kampung-kampung kecil yang tampak sunyi di pinggiran Nusantara, ternyata mampu melahirkan manusia-manusia besar. Thomas Tokan Pureklolon kini berdiri sejajar dengan para Guru Besar asal Lembata lainnya yang juga lahir dari kampung-kampung sederhana,.

Antara lain  Prof. Dr. Gorys Keraf dari Lamalera; Prof. Dr. Aloysius Liliweri, M.S., dari Aliuroba, Kedang; Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., dari Ataili, Wulandoni; Prof. Dr. H. Abd. Rahman, S.H., M.H., M.Ag., dari Kalikur, yang juga pernah menjabat Rektor Universitas 45 Makassar dan dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Alauddin Makassar pada 12 September 2024;Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.Ph., M.M., M.Si. dari Tokojaeng.   Daftar ini memperlihatkan sebuah kenyataan yang menarik. Bahwa keterbatasan geografis, tidak pernah menjadi penghalang bagi lahirnya keunggulan intelektual. Justru dari kampung-kampung kecil yang jauh dari pusat kekuasaan dan kemewahan, sering lahir manusia-manusia yang memiliki daya juang dan ketekunan luar biasa.

           Selain para Guru Besar tersebut, Lembata juga telah melahirkan banyak putra terbaik yang berhasil meraih gelar doktor. Antara lain  dapat disebut Dr.Sonny Keraf,mantan Menteri Lingkungan Hidup, Mgr.Dr.Leo Laba Ladjar,OFM,uskup emeritus  Keuskupan Jayapura, Pater Dr.Bernardus Boli Udjan,SVD,mantan Sekretaris  Komisi Liturgi KWI,Dr. Justin Wejak, Dosen University of Melbourne, Australia, Dr. Yakobus Blikololong, Dr. Mance Dasion, Dr.Frans Sisu Atawuwur, Dr. Petrus Dori Ongen, Dr.Frans Kia Duan, Dr.John Kotan,SH. Dr. Rufus Wutun, dan Dr. Agustinus Gregorius Rajamuda Dasion. Yang berasal dari Ile Ape antara lain  Dr. Silverius Suke, Dr. Thomas Ola Langoday, Dr. Goris Lewoleba, Dr. Urbanus Ola Hurek dan Dr. Maximus Bisa Ladopurab.  Mereka semua adalah bukti bahwa tanah yang tampak tandus pun dapat melahirkan buah-buah intelektual yang bermutu.

Setelah Doktor dan Profesor, Lantas Apa?

Keluarga Bapak Gabriel Botun Pureklolon dan Ibu Thresia Tuto Making, Keluarga Besar Pureklolon, Keluarga Besar Ile Alen Gole, keluarga Besar Universitas Pelita Harapan, dan seluruh masyarakat Lembata tentu bersyukur dan bangga atas pencapaian Prof.Dr. Thomas Tokan Pureklolon. Seorang lagi putra Lembata telah mencapai kualifikasi akademik tertinggi. Melalui profesi, karya, dan pengabdiannya, beliau telah memberi kontribusi nyata bagi dunia pendidikan Indonesia. Ia berhasil mengukir prestasi di tanah rantau, di tengah kerasnya persaingan dunia akademik di ibu kota. Merantau baginya bukan untuk menjadi asing terhadap kampung halaman, melainkan untuk membawa terang kembali kepada tanah asalnya.

Di tengah sukacita  pesta syukur ini, sebuah pertanyaan kecil perlahan menggelitik  hati kita: Setelah menjadi Doktor dan Profesor, lantas apa yang dapat dibuat untuk Lewotana, untuk Lembata? Pertanyaan ini terasa penting, sebab ilmu pengetahuan pada akhirnya bukan hanya untuk kemuliaan pribadi, tetapi juga untuk pengabdian sosial. Gelar akademik menemukan maknanya yang terdalam ketika ia kembali menyentuh kehidupan masyarakat yang melahirkannya.

Dalam konteks inilah saya teringat pesan penuh kasih dari almarhum Pater Alex Beding, SVD, beberapa waktu sebelum beliau dipanggil Tuhan. Pesan itu ditulis dengan tangan beliau sendiri—singkat, tetapi sangat dalam maknanya. Dan rasanya pesan itu layak kita renungkan bersama.Begini tulis Pater Alex Beding: “Thomas, ajak dan rangkullah sebanyak mungkin orang Lembata yang pintar dan hebat untuk ikut memikirkan pendidikan di Lembata. Jangan lupa, Thomas, keluarga-keluarga kita semuanya petani dan nelayan, tetapi mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya. Itu terjadi karena dedikasi para guru.” Pesan ini tampak sederhana, tetapi mengandung panggilan moral yang sangat kuat, bahwa kaum intelektual tidak boleh tercerabut dari akar sosialnya.

Pater Alex Beding juga mengingatkan kita  semua agar Jangan Lupa Jasa Para Perintis Pendidikan di Tanah Lomblen,doeloe. Tentang jasa besar para misionaris, guru agama,guru sekolah desa awal,   dan tukang-tukang kampung yang dahulu membangun fondasi pendidikan di Lembata dengan segala keterbatasan. Sekolah-sekolah awal dibangun dengan sangat sederhana. Tiang dari batang koli atau lontar, dinding bambu, atap alang-alang atau daun kelapa, lantai tanah, bangku bambu, dan perlengkapan seadanya.Cuma papan tulis dan kapur serta batu tulis dan kalam. Namun justru dari ruang-ruang sederhana itulah lahir manusia-manusia terdidik yang kemudian mampu berdiri sejajar dengan dunia luar. Anak-anak dibujuk untuk bersekolah, bahkan kadang harus dipaksa demi masa depan yang lebih baik. Pendidikan dijalankan bukan dengan kemewahan fasilitas, tetapi dengan semangat pengabdian dan keyakinan akan pentingnya ilmu pengetahuan. Pater Alex Beding SVD  berpesan. “Ingat Thomas, para misionaris dahulu tunggang-langgang mengurus persekolahan. Pater Hoeberechts, SJ dan Pater Bode ,SVD, melibatkan tukang-tukang kampung, guru-guru agama dan guru Sekolah Rakyat yang bekerja secara sukarela. Dan Mereka berhasil.”

Lembata Sakit Berat

Dalam pesan terakhirnya, Pater Alex  Beding juga mengungkapkan kegelisahan yang sangat mendalam tentang keadaan Lembata hari ini. Beliau menulis:“Ingat Thomas. Sekarang keadaan Lembata sakit berat.” Kalimat itu terasa keras, tetapi lahir dari cinta yang mendalam terhadap Lewotana. Sebab hanya orang yang sungguh mencintai tanah kelahirannya yang berani mengatakan kebenaran dengan jujur.

Karena itu beliau mengajak semua putra-putri Lembata untuk tidak tinggal diam. Kita dipanggil untuk ikut menghadirkan harapan. Membangun masyarakat yang  sesuai cita-cita pejuang Lomblen dulu. Masyarakat Lembata yang  aman, sejahtera, mandiri dan bermartabat.Masyarakat yang  sehat, cerdas, rajin bekerja, cinta damai, cinta sesama, cinta tanah air dan Lewotana serta cinta Tuhan.   Lembata telah melahirkan banyak orang hebat dan pintar. Kini Lembata membutuhkan pemimpin-pemimpin sejati—bukan sekadar pejabat yang lahir hanya atas dasar Surat Keputusan atau SK, tetapi pemimpin yang lahir dari hati yang mencintai rakyatnya. Sebab hakikat seorang pemimpin sejati adalah menghadirkan kebaikan bagi sesama. Dan itulah sesungguhnya makna terdalam dari ilmu pengetahuan.Bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memperluas manfaat bagi orang lain.

Kepada Ama Prof. Dr. Thomas Tokan Pureklolon, kami mengucapkan Selamat dan Sukses. Semoga tetap setia menjadi terang bagi sesama, tetap rendah hati dalam setiap pencapaian, dan terus menebarkan kebaikan bagi banyak orang.     ***

*) Penulis adalah Anak Kampung Lembata,tinggal di Bogor.

Catatan

:Testimoni ini disampaikan dalam Acara Perayaan Syukur atas Pengukuhan Guru Besar Prof.Dr.Thomas Tokan Pureklolon yang diselenggarakan oleh Keluarga Ile Ape se Jabodetabek,Sabtu 30 Mei 2026,di Aula SD st,Antonius,Jl,Matraman Raya,Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *