Foto Penulis : Olivya Permata Agustina

Di Balik Layar Gawai: Bagaimana Tuturan Media Sosial Merajut dan Meregangkan Kohesi Sosial

 Oleh : Olivya Permata Agustina,

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogykarta

WARTA-NUSANTARA.COM—  Media sosial saat ini bukan lagi sekadar ruang hampa tempat kita membagikan dokumentasi aktivitas harian. Wadah digital ini telah bertransformasi menjadi panggung linguistik raksasa yang mempertemukan berbagai latar belakang individu. Setiap hari, miliaran status, takarir (caption), dan twit diproduksi secara masif. Di balik untaian karakter tersebut, terdapat kekuatan besar yang tidak kasat mata: bahasa mampu menjadi perekat yang menyatukan masyarakat, namun di sisi lain, ia juga bisa menjadi pisau tajam yang merenggangkan hubungan antarmanusia. Dalam kajian sosiolinguistik dan pragmatik, interaksi digital ini berkaitan erat dengan konsep kohesi sosial—sebuah kondisi ketika anggota masyarakat saling percaya, memiliki ikatan yang erat, dan hidup dalam harmoni. Jika kita mengamati realitas digital saat ini, sebuah pertanyaan penting muncul: bagaimana sebenarnya netizen kita menggunakan bahasa? Apakah kita sedang merajut kebersamaan atau justru memupuk keretakan? Untuk memahaminya, mari kita bedah anatomi bahasa media sosial melalui dua sudut pandang: tuturan yang membangun kohesi dan tuturan yang memicu jarak sosial.

Bagian 1: Bahasa sebagai Perekat Sosial (Convivial Speech Acts)

Ketika dunia digital dipenuhi oleh tekanan, beberapa unggahan hadir bagai oase yang menyejukkan. Dalam ilmu bahasa, tuturan yang menyenangkan, edukatif, atau menenangkan disebut sebagai tindak tutur yang berada di posisi netral atau convivial. Tuturan jenis ini memiliki potensi konflik yang sangat minimal dan justru efektif dalam mendekatkan partisipan komunikasi.

1. Menyuntikkan Optimisme Spiritual

Kita tentu sering menjumpai kalimat-kalimat reflektif di linimasa, seperti:

“Tuhan tidak menunda, tetapi menata.” Sumber: quoteryv dan woundrsyo (Feed Instagram).

Secara linguistik, kalimat singkat ini membawa pesan ketenangan spiritual. Berdasarkan tolok ukur komunikasi yang efektif, sebuah pesan dinilai berhasil mendukung kedekatan apabila mampu menimbulkan rasa senang atau damai bagi penerimanya. Unggahan yang membawa kedamaian batin seperti ini berkontribusi besar pada keserasian relasi antaranggota masyarakat digital.

2. Mengubah Perspektif Lewat Narasi Edukatif

Tidak melulu soal spiritualitas, kohesi sosial juga bisa dibangun melalui kesepahaman kognitif yang sehat di ruang publik. Perhatikan kutipan edukatif seputar kesehatan mental berikut: “Stres adalah sebuah privilege kalau dikelola dengan benar. Tanpa stres, kita juga sulit untuk berkembang.” Sumber: suaraberkelas dan ikhsanqthi (Feed Instagram).

Tuturan ini mengupas sebuah fenomena psikologis secara objektif tanpa ada unsur tendensius. Ketika penerima pesan memperoleh pemahaman yang cermat, ruang publik kita akan diisi oleh diskusi yang sehat. Karena bebas dari diksi yang merendahkan pihak lain, stabilitas relasi di ruang siber pun dapat tetap terjaga dengan harmonis.

3. Membangun Kerekatan Tanpa Dominasi Kekuasaan

Kohesi yang kuat lahir ketika komunikasi dilakukan secara santun, tanpa adanya hasrat untuk menghegemoni atau memaksa pihak lain. Unggahan bermuatan motivasi seperti contoh berikut menunjukkan hal tersebut: “Sesuatu yang baik selalu datang di waktu terbaiknya, itulah alasan mengapa rasa sabar harus disertai keyakinan.” Sumber: galeriberdakwah (Feed Instagram).

Kata-kata ini secara implisit mengajak masyarakat digital untuk membangun sikap sabar dan optimis dalam menjalani kehidupan. Karena tidak menyudutkan kelompok tertentu, tuturan ini ampuh dalam mencegah terciptanya jarak sosial (social distance).

Bagian 2: Ketika Bahasa Merenggangkan Ikatan (Conflictive Speech Acts)

Sayangnya, media sosial juga kerap menjadi wadah katarsis emosi yang tidak terkontrol. Sesuai dengan teori kesantunan berbahasa, terdapat jenis tindak tutur yang bertentangan dengan tujuan sosial yang positif (conflictive). Jika terus diproduksi, tuturan ini lambat laun akan merusak sendi-sendi kohesi sosial.

1. Polusi Energi Negatif Melalui Umpatan

Meskipun diniatkan sebagai ekspresi personal atau sekadar buku harian digital, tulisan seperti contoh berikut tetap memberikan dampak buruk: “Dear diary, what the fuck.” Sumber: liminal_landscape._ (Feed Instagram).

Ketika dilempar ke ruang publik digital, penggunaan kata umpatan kasar secara pragmatik akan menyebarkan energi frustrasi yang mendalam. Bagi pengguna lain yang membacanya, polusi bahasa seperti ini memicu rasa tidak nyaman dan secara perlahan membangun dinding pembatas interaksi yang sehat.

2. Narasi Agresif yang Menutup Pintu Dialog

Bahasa yang didominasi oleh emosi destruktif sering kali melahirkan ungkapan yang menutup diri dari harmoni. Contoh nyata dapat dilihat pada tuturan ini: “Gua mau ngamuk kaya sapi qurban. Jangan nyuruh gua sabar.” Sumber: Pembuat konten asli (berupa tangkapan layar twit): K dengan nama pengguna @kanakpapap. Pengunggah ulang di Instagram: yuppieloveee.

Tuturan tersebut secara terang-terangan menunjukkan luapan emosi agresif sekaligus menolak anjuran untuk bersikap tenang. Ketika seseorang merilis pernyataan yang mematikan ruang dialog, ia sedang menciptakan jarak sosial. Pengguna lain akan merasa enggan, bahkan takut untuk berinteraksi, sehingga komunikasi yang inklusif pun terhambat.

3. Meruntuhkan Saling Percaya dan Memutus Harapan

Dampak paling fatal dari penurunan kualitas berbahasa adalah lahirnya pesan-pesan nihilisme sosial yang memicu keputusasaan. Kalimat seperti contoh ini menjadi buktinya: “Gak akan ada yang dateng nolong kamu.” Sumber: rday.journal (Feed Instagram) Meskipun terkadang diniatkan sebagai tamparan realita (wake-up call) agar seseorang menjadi mandiri, penyandian maksud yang justru berbahaya. Kalimat ini secara gamblang menegasikan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Ketika keyakinan akan adanya kepedulian sosial runtuh, yang tersisa di masyarakat hanyalah rasa terasing, ketakutan, dan ketidakpercayaan (distrust) terhadap lingkungan sekitar.

Kesimpulan: Pilihan Kata adalah Pilihan Sosial

Melalui gawai di genggaman, kita sebenarnya sedang memegang kemudi atas arah peradaban sosial kita. Apakah kita ingin menggunakan jempol kita untuk mengetik untaian kalimat yang menenangkan, mengedukasi, dan merekatkan hubungan? Ataukah kita memilih membiarkan emosi sesaat mendikte tulisan kita hingga melahirkan jarak dan kebisuan di ruang digital? Bahasa tidak hanya mencerminkan budaya, melainkan juga aktif membentuk realitas sosial. Mulai hari ini, mari kita lebih bijak dalam menyaring apa yang akan kita bagikan di media sosial. Sebab, sebaris kalimat yang kita unggah bisa jadi merupakan lem yang merekatkan kerukunan, atau justru martil yang meretakkan kebersamaan kita. ***

Olivya Permata Agustina, Penulis adalah Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogykarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *