Menilik “Gerakan Melampaui Pengalaman” untuk Kinerja yang Berkualitas Oleh : Apolonius Ado Atawuwur, S. Fil. M. Th WARTA-NUSANTTARA.COM— Di tengah hiruk-pikuk rutinitas administrasi dan tuntutan pelayanan publik, sebuah langkah reflektif patut diapresiasi. Seksi Urusan Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Lembata baru-baru ini menggelar kegiatan evaluasi kinerja yang tak hanya berfokus pada angka dan target, tetapi juga pada pembinaan rohani dan refleksi bersama. Kegiatan yang dipimpin Kepala Seksi Urakat, Damianus Masan Sabon, S.Pd, ini berlangsung di Waikomo dan dihadiri oleh para penyuluh agama Katolik serta pelaksana di seksi tersebut. Forum ini menjadi ruang untuk menilai capaian kinerja, mengidentifikasi masalah administratif, serta tantangan di lapangan. Semangat yang terpancar adalah keberanian untuk “melihat diri dan berbicara apa adanya.” Hal ini sejalan dengan konsep penilaian diri (self-appraisal), yang dalam manajemen sumber daya manusia modern dipandang sebagai alat efektif untuk mendorong karyawan merefleksikan kemampuan, mengidentifikasi kelemahan, dan menetapkan tujuan yang selaras dengan visi organisasi . Evaluasi: Cermin Diri dan Pilar Pertumbuhan Dalam dunia psikologi dan manajemen, evaluasi diri adalah fondasi bagi pertumbuhan profesional. Seorang pegawai yang berani mengakui kekurangannya menunjukkan kedewasaan intelektual. “Kejujuran terhadap diri sendiri membuka ruang bagi pembaruan yang sejati,” demikian salah satu poin refleksi dalam kegiatan tersebut. Tanpa proses merenung, manusia hanya akan mengulangi pengalaman yang sama. Dengan refleksi, pengalaman diolah menjadi kebijaksanaan. Pendekatan ini sangat relevan dengan semangat reformasi birokrasi yang digaungkan Kementerian Agama, yang menekankan pada profesionalisme, akuntabilitas, dan pelayanan berdampak. Seperti yang tertuang dalam materi PINTAR Kemenag, penilaian kinerja tak hanya tentang capaian organisasi periodik atau tahunan, tetapi juga tentang bagaimana seorang ASN (Aparatur Sipil Negara) mampu melakukan evaluasi mandiri secara objektif dan terukur. Pandangan Ahli: Refleksi Menuju Akuntabilitas Para pakar manajemen menekankan bahwa kinerja organisasi publik diukur tidak hanya dari produktivitas, tetapi juga responsivitas dan akuntabilitas. Seorang birokrat yang baik adalah mereka yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial dan menghindari penyalahgunaan kekuasaan. Evaluasi diri menjadi jembatan untuk mencapai hal tersebut. Lebih jauh, tokoh seperti M. Russell Ballard, seorang pemimpin rohani, menyoroti pentingnya evaluasi diri sebagai “wawancara pribadi” untuk melihat kemajuan diri secara jujur . Mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri seperti, “Bagaimana keadaan saya?” adalah langkah konkret untuk tetap fokus pada tujuan dan perbaikan berkelanjutan. Landasan Kitab Suci: Jalan Menuju Pembaruan Diri Dalam tradisi Gereja Katolik, refleksi diri atau examen memiliki akar yang dalam. Katekismus Gereja Katolik bahkan menyebutkan pentingnya “pemeriksaan batin” (self-examination) berdasarkan Sabda Allah sebagai bagian dari pertobatan dan persiapan menerima sakramen Rekonsiliasi (KGK1454). Ini bukan sekadar ritual, melainkan proses untuk menyadari dosa dan kelemahan agar dapat bertobat dan bertumbuh dalam kasih. Ajaran Kitab Suci agama-agama besar pun sarat dengan seruan untuk introspeksi diri. Dalam Islam, Nabi Alma dalam Kitab Mormon mengajukan serangkaian pertanyaan tajam kepada umatnya, seperti yang tertulis dalam Alma 5:14, “Apakah kamu telah mengalami perubahan hati ini?” . Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong umat untuk tidak berpuas diri, tetapi terus menerus mengukur kedalaman iman dan komitmen mereka. Dalam kekristenan, St. Fransiskus Assisi adalah teladan sempurna dari penghayatan Kitab Suci. Ia tidak hanya membaca sabda, tetapi merenungkannya dan mengamalkannya dalam tindakan nyata, meneladani Yesus Sang Gurunya. Menuju Pelayanan yang Bermakna Kegiatan Seksi Urusan Agama Katolik Lembata ini adalah contoh kecil namun penting. Ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan publik tidak hanya dicapai melalui perubahan struktur, tetapi juga melalui pembangunan karakter dan budaya kerja yang reflektif. Dengan keberanian untuk mengevaluasi diri, para penyuluh dan pelaksana agama Katolik telah mengambil langkah strategis untuk melampaui sekadar menjalankan pengalaman, menuju kinerja yang lebih profesional, berintegritas, dan berkualitas. Tujuan akhir dari evaluasi, seperti yang tertuang dalam refleksi penutup kegiatan, bukanlah sekadar menjadi lebih hebat, tetapi menjadi lebih bermanfaat bagi sesama. Pertumbuhan sejati tercapai ketika perubahan diri menghadirkan kebaikan bagi lingkungan. Ini adalah esensi dari pelayanan yang sejati. ** Tentang Penulis: Apolonius Ado Atawuwur, S.Fil., M.Th. lahir di Flores Timur pada 19 April 1975. Saat ini, ia bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata dengan jabatan fungsional Penyuluh Agama Katolik. Wilayah binaannya mencakup Kecamatan Nubatukan dan Atadei. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) di STFK Ledalero pada tahun 2005 dan meraih gelar Magister (S2) dari institusi yang sama pada tahun 2009. Post Views: 34 Navigasi pos Menunggu 100 Hari Kerja Nyata YAMALI: Dari Retorika Episentrum Menuju Bukit Peradaban Lamakera