Jangan Jadi Ikan Mati di Arus Zaman: Lamakera Harus Berenang Melawan Menuju Indonesia Emas 2045 Oleh : Basir Bukhari, S. PdI Ada sebuah pepatah lama yang sering kita dengar, namun jarang kita renungkan dalam-dalam: “Hanya ikan mati yang hanyut terbawa arus.” WARTA-NUSANTARA.COM— Kalimat ini terdengar sederhana, namun ia menyimpan diagnosa paling keras bagi kondisi sosial-budaya kita hari ini. Ikan yang hidup memiliki otot, memiliki arah, dan memiliki kemampuan untuk melawan derasnya aliran air. Sebaliknya, ikan yang mati tidak punya daya apa-apa; ia hanya mengikuti ke mana angin dan arus membawanya, tanpa tujuan, tanpa perlawanan, dan akhirnya membusuk di tepian yang tak ia pilih. Pertanyaannya sekarang: Di posisi manakah Lamakera berada? Menjelang Indonesia Emas 2045, Lamakera berdiri di persimpangan sejarah. Kita memiliki modal sosial yang luar biasa: jaringan diaspora yang luas, intelektual yang tersebar di berbagai penjuru negeri, dan semboyan “Adat Dijunjung, Agama Disanjung” yang menjadi identitas kebanggaan. Namun, jika kita jujur melihat ke dalam, ada gejala mengerikan bahwa sebagian dari kita mulai kehilangan “otot” untuk berenang. Kita mulai nyaman hanyut terbawa arus globalisasi yang hedonis, arus politik transaksional, dan arus kemalasan berpikir kritis. Arus Hedonisme dan Hilangnya “Otot” Moral Arus pertama yang paling berbahaya adalah arus hedonisme dan degradasi moral. Fenomena “Senyapnya Shaf-shaf Al-Ijtihad dan Baburrahmah” bukan sekadar masalah religiusitas individu, melainkan tanda bahwa “otot spiritual” kita melemah. Ketika generasi muda lebih memilih menghabiskan waktu di warung kopi gelap dengan miras dan judi online daripada mengisi shaf masjid atau berdiskusi tentang masa depan, itu artinya mereka sedang hanyut. Mereka tidak lagi mengendalikan arah hidup mereka, tetapi dikendalikan oleh kecanduan dan kesenangan sesaat. Ikan yang hidup akan berusaha melawan arus kotoran tersebut. Ia akan mencari air yang jernih. Tetapi jika kita diam saja, membiarkan miras dan judi merajalela dengan dalih “itu hak pribadi”, maka kita sama saja membiarkan peradaban Lamakera membusuk dari dalam. Kita menjadi ikan mati yang mengapung di atas permukaan air keruh, terlihat ada, namun sesungguhnya sudah tiada ruhnya. Arus Politisasi dan Hilangnya Arah Peradaban Arus kedua adalah politisasi identitas dan momen kebersamaan. Reuni akbar dan Musyawarah Nasional (Munas) YAMALI seharusnya menjadi momentum untuk merajut nilai-nilai humanis dan menetapkan arah strategis pembangunan peradaban. Namun, sering kali acara-acara besar ini terjebak dalam “akrobat politik” pamer kemewahan, konsolidasi kekuasaan, dan barter kepentingan elektoral. Ketika energi besar masyarakat dikerahkan hanya untuk menyambut tokoh politik atau menggelar pesta seremonial, sementara masalah substansial seperti pengangguran pemuda, kegagalan kontrol sosial, dan stagnasi ekonomi dibiarkan mengendap, maka kita sedang hanyut. Kita tidak menentukan arah; arah ditentukan oleh siapa yang paling lantang suaranya di panggung. Ini adalah ciri khas ikan mati: tidak punya kemudi, tidak punya tujuan, hanya ikut arus kekuasaan yang sedang kuat. Berenang Melawan Arus: Strategi Menuju Bukit Peradaban Kabir Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, Lamakera tidak bisa lagi bersikap pasif. Kita harus menjadi ikan yang hidup: berotot, berarah, dan berani melawan arus yang merusak. Konsep “Bukit Peradaban Kabir Lamakera” harus menjadi kompas kita. Bukit mengajarkan ketahanan, ketinggian visi, dan proses pendakian yang butuh usaha keras. Tidak ada pendakian yang bisa dilakukan dengan cara hanyut. Berikut adalah tiga “dayungan” kuat yang harus kita gerakkan bersama: 1. Dayungan Kontrol Sosial: Menghidupkan Kembali “Anak Kampung Adalah Anak Semua Orang” Kita harus melawan arus individualisme dengan mengaktifkan kembali filosofi lama. Ini membutuhkan keberanian untuk menegur, keberanian untuk diingatkan, dan keberanian untuk menerima teguran. Pemerintah Desa Watobuku dan Motonwutun harus didukung menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) yang kompleks dan tegas tentang sanksi sosial bagi pelanggar norma (miras, judi, kenakalan remaja). Bukan untuk menghukum, tapi untuk menyelamatkan. Ini adalah bentuk “berenang melawan arus” degradasi moral. Tanpa aturan yang jelas dan penegakan yang adil, kita hanya akan terus hanyut. 2. Dayungan Pendidikan Karakter: Dari Moral Knowing ke Moral Action Sistem pendidikan kita sering kali hanya memproduksi “generasi mekanis” yang pintar secara akademis namun hampa secara spiritual. Kita harus melawan arus ini dengan memperkuat pendidikan karakter berbasis adat dan agama. Generasi Z (GZet) Lamakera harus dilibatkan bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek perubahan. Mereka perlu dibimbing oleh para senior (diaspora, profesor, tokoh adat) melalui program mentorship yang nyata, bukan sekadar seremonial. Senior harus siap menjadi “pelatih renang” yang mengajarkan cara melawan arus disrupsi digital dengan literasi dan integritas. 3. Dayungan Ekonomi Produktif: Kemandirian di Atas Bukit Ketergantungan pada bantuan eksternal adalah bentuk lain dari kehanyutan. Lamakera harus membangun kemandirian ekonomi melalui koperasi yang produktif, pengembangan wisata berbasis ekologi (seperti Gerakan Tanam 1000 Pohon), dan pemberdayaan UMKM pemuda. Dengan ekonomi yang mandiri, kita tidak akan mudah dibeli oleh janji-janji politik sesaat. Kita akan memiliki “otot” finansial untuk menentukan arah pembangunan sendiri. Penutup: Pilihlah untuk Hidup, atau Hanyut Selamanya Indonesia Emas 2045 bukan hadiah yang akan jatuh dari langit ke pangkuan Lamakera. Ia adalah target yang harus direbut dengan keringat, pikiran, dan perjuangan kolektif. Jika kita memilih untuk diam, membiarkan miras meracuni pemuda, membiarkan politik menggerogoti kebersamaan, dan membiarkan masjid-masjid kita sepi dari ruh, maka kita telah memilih untuk menjadi ikan mati. Kita akan hanyut, terlupakan, dan akhirnya hanya menjadi catatan sejarah tentang komunitas yang pernah bermimpi besar namun gagal bertindak. Tetapi, jika kita memilih untuk berenang dengan segala kesulitan, kelelahan, dan tantangan yang ada, maka kita akan sampai. Kita akan mencapai Bukit Peradaban Kabir yang sejati: tempat di mana adat dan agama hidup dalam tindakan, di mana generasi muda berdaya dan bermartabat, dan di mana Lamakera menjadi inspirasi bagi Nusantara. Arus zaman sangat deras. Pertanyaannya bukan apakah arusnya kuat, tetapi seberapa kuat nyali kita untuk melawannya. Lamakera, jangan hanyut. Mulailah berenang. Sekarang. Wallahu a’lam bi-sawab. Tentang Penulis Basir Bukhari, S,Pd,I. Lahir di Lamakera, 24 Januari 1977. adalah ASN Kementerian Agama Kabupaten Lembata, saat ini guru pada Satuan Unit Kerja MTs Negeri 2 Lembata, sebagai Pimpinan 13 Persyarikatan Muhammadiyah Kabupaten Lembata sejak 2020 hingga sekarang. Aktif sebagai guru ngaji di Lingkungan Kampung Nyamuk Lewoleba. (Taman Baca Iqra Bahari-Tabib) Post Views: 37 Navigasi pos Menilik “Gerakan Melampaui Pengalaman” untuk Kinerja yang Berkualitas