Membuka Jalan, Meninggalkan Jejak Pengabdian Ekstrem Joakim Deke Kokomaking di Tanah Lembata Oleh : Yoseph Yapi Taum “Don’t go where the path may lead. Go instead where there is no path and leave a trail.” — Ralph Waldo Emerson WARTA-NUSANTARA.COM— Di balik kepopuleran frasa “the road less traveled”—yang tidak jarang keliru terucap sebagai the road last traveled—tersimpan kedalaman filosofis yang membelah cara orang memandang hidup. Ungkapan yang dipetik dari perenungan filsuf dan sastrawan Amerika Serikat, Ralph Waldo Emerson, ini sering kali dimaknai sebagai seruan kebebasan: sebuah ajakan untuk menjadi sosok independen yang berani keluar dari arus utama. Namun, esensi sejatinya melampaui sekadar retorika kebebasan. Memilih alur yang jarang dijamah orang berarti bersedia menempuh keputusan tidak populer, menolak kenyamanan konformitas, serta siap menanggung risiko menyusuri medan asing. Semua itu dilakukan demi meraih satu tujuan: melahirkan perubahan substantif yang betul-betul membekas. Bagi kalangan terpelajar, kalimat Emerson kerap berhenti sebagai kutipan inspiratif di lembar buletin atau media sosial. Akan tetapi, bagi Joakim Deke Kokomaking—pria yang akrab disapa Kim—falsafah tersebut diwujudkan secara nyata dalam bentuk tindakan. Eksodus dari Zona Nyaman Ibu Kota Tahun 2017 menjadi titik balik radikal dalam hidup Joakim. Tanpa keraguan, ia memutuskan untuk mengundurkan diri secara dini dari jabatannya yang mapan sebagai akademisi di President University, Cikarang. Sebuah karier perguruan tinggi di kawasan industri megapolitan yang menjanjikan stabilitas dan penghormatan sosial, ia tinggalkan begitu saja. Bagi seorang kepala keluarga dengan satu anak, memutus laju karier di titik mapan demi ketidakpastian adalah tindakan yang tergolong nekat, penuh risiko, bahkan dinilai irasional oleh sudut pandang awam. Namun, Joakim mendengar panggilan yang lebih mendesak dari tanah kelahirannya. Ia memutuskan untuk berbalik arah, pulang menyusuri ribuan kilometer menuju Desa Muruona, sebuah wilayah marginal di pinggiran Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Menembus Prahara di Tanah Lembata Kepulangan Joakim bukan sekadar romantisme mudik, melainkan sebuah aksi pengabdian yang ekstrem. Di tempat asalnya, ia mendapati realitas agraris yang sangat krisial. Tanah pertanaman warga telah lama sekarat akibat ketergantungan berlebihan pada pupuk kimia dan pestisida anorganik. Praktik bercocok tanam destruktif ini tidak hanya merusak struktur tanah, tetapi juga membelenggu kesejahteraan para petani setempat. Melihat krisis ekologis yang mengancam masa depan kampung halamannya, Joakim memilih untuk bertindak sebagai peretas jalan. Ia merancang dan mendirikan pergerakan berbasis usaha rakyat bernama Nugu Terpadu (NT). Bagi Joakim, Nugu Terpadu diposisikan sebagai wadah kolaboratif (meeting point) yang menjembatani tiga poros utama daerah yang selama ini bergerak secara terpisah: Pemerintah Daerah sebagai regulator kebijakan, Institusi Gereja sebagai pilar nilai moral dan penggerak komunitas, serta Masyarakat Petani sebagai pelaku lapangan. Lewat simpul interaksi ini, Joakim menggerakkan misi besar: mentransformasi pola pikir pertanian lokal secara bertahap dari ketergantungan anorganik menuju sistem pertanian organik yang memulihkan kehidupan tanah. Mengukir Jejak, Mengubah Masa Depan Mengubah tradisi pertanian yang sudah mematu puluhan tahun bukanlah pekerjaan ringan. Diperlukan argumentasi rasional, kesabaran tanpa batas, serta bukti konkret di lapangan untuk meyakinkan warga bahwa tanah Lembata yang gersang masih menyimpan daya hidup jika dirawat secara benar. Pengabdian ekstrem Joakim Deke Kokomaking mempertegas makna hakiki dari pencerahan Emerson. Keberanian memilih jalan yang sepi bukan soal gaya hidup, melainkan tentang kesiapan memikul tanggung jawab besar demi menghidupkan harapan bagi sesama. Kini, dari balik tanah Muruona yang perlahan memulih, sang mantan dosen telah membuktikan bahwa pengabdian tertinggi tidak selalu lahir dari balik meja kerja yang nyaman, melainkan dari keberanian membuka jalan di tanah yang paling gersang sekalipun. *** Post Views: 29 Navigasi pos “Jangan Kau Campakkan Lamakera”: Sumpah Gadis Hukum di Tengah Terik Pelabuhan yang Sunyi