Melampaui Batas Akal: Mengapa Modernitas Barat Gagal Menjawab Kerinduan Metafisika Manusia Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM WARTA-NUSANTARA.COM— Di tengah gemuruh kemajuan teknologi dan dominasi sains empiris, manusia modern seolah berada di persimpangan yang membingungkan. Kita hidup di era di mana informasi tersedia tanpa batas, namun makna kehidupan terasa semakin hampa. Sebagai aktivis “Penakar Literasi” yang mengamati dan ikut bergerak dalam arus pengembangan peradaban Islam, saya melihat bahwa akar kegelisahan ini terletak pada pemahaman yang keliru tentang batas-batas kebenaran mutlak. Proses pengembangan nyalanya peradaban Islam tidak pernah mengenal kata “selesai”. Sesungguhnya laksana sungai yang terus mengalir, dinamis, dan responsif terhadap zaman. Namun, ada satu kompas yang tetap: Al-Qur’an. Essensi kebenaran Al-Qur’an adalah wilayah yang tak berbatas (infinite), karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Mengetahui. Demikian sebaliknya, keterbatasan manusia muncul justru ketika akal kehilangan fungsinya sebagai alat verifikasi, atau ketika akal dipaksa bekerja di luar kapasitasnya. Jebakan Positivisme Empiris dan Krisis Makna Teori-teori modern Barat, yang lahir dari rahim Pencerahan (Enlightenment), membangun menara pengetahuannya di atas fondasi positivisme empiris. Dalam paradigma ini, sesuatu dianggap “benar” hanya jika dapat diamati, diukur, dan dibuktikan secara fisik. Filsuf sains seperti Thomas Kuhn dalam struktur revolusi ilmiahnya menunjukkan bahwa sains selalu beroperasi dalam “paradigma” tertentu yang memiliki batasan. Ketika paradigma positivism mencapai titik jenuh, di mana ia tidak bisa menjawab pertanyaan nilai, etika, dan tujuan, maka terjadi apa yang disebut Charles Taylor sebagai “Malaise of Modernity” (ketidaknyamanan modernitas). Metode ini memang telah melahirkan kemajuan material yang luar biasa. Namun, positivisme memiliki tembok besar yang tidak bisa ditembus: alam metafisika. Ketika akal berhenti pada dimensi empiris, ia lumpuh di hadapan pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Di sinilah keruntuhan kedigdayaan supremasi manusia terjadi. Sains bisa menjelaskan bagaimana otak bekerja, tapi tidak bisa menjelaskan siapa yang berpikir. Ahli filsafat Islam kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, dalam karyanya tentang Traditionalism, mengkritik keras reduksionisme sains modern yang membuang dimensi sakral dari pengetahuan. Menurut Nasr, krisis lingkungan dan spiritual saat ini adalah akibat langsung dari pemutusan hubungan antara ilmu pengetahuan dan wahyu. Titik Temu: Ketika Akal Berserah pada Wahyu Narasi bahwa “kebenaran Al-Qur’an berakhir ketika akal tidak berfungsi” perlu diluruskan maknanya. Bukan berarti Al-Qur’an anti-akal. Justru, Al-Qur’an memerintahkan penggunaan akal (ulul albab) untuk membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta. Namun, ada batas di mana akal harus mengakui keterbatasannya. Di titik itulah, wahyu datang bukan untuk mematikan akal, melainkan untuk melengkapinya. Jika sains Barat berhenti di pintu gerbang metafisika karena ketiadaan data empiris, Islam membuka pintu tersebut melalui wahyu yang valid secara transmisi (tawatur) dan masuk akal secara konsistensi internal. Pemikir Indonesia, Prof. Dr. M. Quraish Shihab (meski wafat, gagasannya masih sangat relevan dan dikembangkan oleh penerusnya seperti Komaruddin Hidayat), menekankan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yang menuntut keseimbangan antara dzikir (spiritual) dan fikr (intelektual). Dalam konteks modern, tokoh seperti Azyumardi Azra (alm.) sering menegaskan bahwa integrasi ilmu agama dan umum adalah kunci bagi kebangkitan peradaban Islam di Nusantara. Lebih jauh, filsuf Muslim kontemporer Naquib al-Attas memperkenalkan konsep Islamization of Knowledge, di mana akal tidak dibiarkan liar dalam sekularisme, tetapi diarahkan oleh etika wahyu untuk menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan, bukan sekadar eksploitatif. Menuju Peradaban yang Holistik: Integrasi Epistemologi Pengembangan peradaban Islam hari ini tidak boleh terjebak dalam dikotomi palsu. Kita membutuhkan epistemologi integratif. Kita butuh ilmuwan yang sadar bahwa hukum alam adalah sunnatullah yang tunduk pada kehendak Ilahi. Kita butuh teolog yang memahami bahasa sains untuk menjawab tantangan bioetika dan kecerdasan buatan. Penelitian terbaru dari Universitas Al-Azhar dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2023-2024) menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengintegrasikan pendekatan sains dengan nilai-nilai spiritual Al-Qur’an memiliki tingkat resiliensi mental dan etika kerja yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan pendekatan sekuler murni. Ini membuktikan bahwa “api peradaban” itu nyata dampaknya dalam psikologi dan sosiologi modern. Modernitas Barat mungkin unggul dalam mengelola “kulit” dunia, tetapi ia kerap gagal menyentuh “inti” kemanusiaan. Di sinilah peradaban Islam menawarkan tawaran alternatif: sebuah sistem pengetahuan yang menghargai rasio, tetapi tidak memperhambakan diri padanya; yang menghormati fakta empiris, tetapi tidak menutup mata terhadap realitas transenden. Api peradaban Islam akan terus menyala, bukan dengan membakar masa lalu, tetapi dengan menerangi masa depan dapat menerangi jalan di mana akal dan wahyu berjalan beriringan menuju kebenaran yang hakiki. Tentang Penulis: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM, ASN Kemenag Lembata dalam jabatan Pengawas Sekolah. Sebagai Penakar Literasi dan Perintis Taman Baca Savana Iqra Lembata. Penulis opini/esai/artikel pada media online. Buku “Mendidik dengan Cinta” Penerbit: Takaza Inovatix Laos 2025 Post Views: 18 Navigasi pos Antara Pemimpin Seremonial dan Konseptor (Menelisik Kepemimpinan Bupati Lembata)