Sasana Tinju Pertama di Lembata : Menyalurkan Energi Jalanan Menuju Ring Prestasi

Sasana Tinju Pertama di Lembata : Menyalurkan Energi Jalanan Menuju Ring Prestasi

LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM—   Darah petarung dan bakat bertarung seolah telah mengalir alami dalam urat nadi masyarakat Lembata. Dalam panggung olahraga adu jotos nasional, pulau yang terkenal dengan tradisi berburu paus ini tak pernah kehabisan nama besar. Publik tentu belum lupa pada deretan nama garang seperti Tope Hurek hingga Elias Pical Namang yang pernah menggetarkan ring tinju nasional.

Bahkan di tengah riuk-pikuk Ibu Kota Jakarta, nama Wilem Lodjor sangat disegani. Pria kelahiran Waiwejak, Atadei, ini bukan orang baru di dunia sarung tangan kulit. Lewat tangan dinginnya, ia sukses menggembleng petinju-petinju berbakat hingga menembus peta persaingan elite nasional. Rekam jejaknya tak main-main: Lodjor tercatat telah 21 kali bertindak sebagai promotor pertandingan tinju tingkat nasional.

Namun, di balik kebanggaan melihat anak-anak tanah Lembata berjaya di rantau, terselip keprihatinan yang terus mengusik benak Lodjor. Apakah di tanah kelahiran para calon petinju berbakat ini sudah tersedia fasilitas latihan yang memadai? Jawaban mirisnya: belum ada sama sekali.

Gelisah oleh kenyataan tersebut, Wilem Lodjor tidak tinggal diam. Didorong niat tulus membangun kampung halaman, pria yang juga pendiri Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) San Bernardino Lembata ini bertekad mendirikan sasana tinju pertama di bumi Lepan Bata. Sasana tersebut resmi diresmikan pada Sabtu (12/9/2026).

Dari Tawuran ke Ring Tinju

Kehadiran sasana tinju ini tidak sekadar berfokus pada perburuan medali atau melahirkan atlet berprestasi di tingkat nasional. Untuk urusan tersebut, Lodjor telah menyiapkan ruang khusus melalui SMA SKO San Bernardino. Namun bagi Lodjor—yang pernah mengabdi sebagai guru olahraga di SMP Tanjung Kelapa Lerek (kini SMPN 2 Atadei)—sasana ini membawa misi sosial yang jauh lebih krusial: merangkul dan membina generasi muda Lembata.

Fenomena kenakalan remaja, seperti keterlibatan anak muda dalam aksi adu jotos jalanan alias tawuran, menjadi perhatian serius baginya. Menurut Lodjor, gejolak emosi dan potensi fisik remaja tidak boleh terbuang sia-sia dalam aksi anarki jalanan yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat: “Energi agresif dan potensi bertarung para remaja ini tidak boleh dibiarkan liar di jalanan. Melalui sasana tinju, emosi dan keberanian mereka kita salurkan ke wadah yang tepat—terukur, berdisiplin tinggi, serta menjunjung sportivitas,” ujar suami dari Bertha Lureng ini.

Melalui olah fisik dan mental yang terstruktur di sasana, dorongan tawuran diubah menjadi energi berprestasi. Dari tempat inilah nilai-nilai disiplin, rasa hormat kepada lawan, dan ketahanan mental ditanamkan sejak dini.

Inisiatif ini pun mendapat sambutan hangat dari para pemangku kebijakan setempat. Ketua KONI Lembata, Jimmy Sunur, bersama Wakil Ketua DPRD Lembata, Ciku Namang, sepakat bahwa langkah ini membutuhkan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah. Pada Perubahan APBD Oktober 2026 mendatang, Pemda diharapkan dapat mengalokasikan anggaran guna mendukung operasional dan pengembangan sarana sasana agar berfungsi optimal.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Wilem Lodjor atas dedikasi dan kepedulian yang tak pernah padam untuk Bumi Lembata. Kehadiran sasana ini dinilai sebagai langkah nyata dalam menyediakan wadah positif bagi generasi muda untuk mengukir prestasi.

Menatap Masa Depan Ring Tinju Lembata

Peresmian sasana tinju pertama di Lewoleba ini menandai babak baru dalam sejarah olahraga Lembata. Di atas matras dan di bawah naungan sasana baru ini, dentuman sarung tangan tinju kini terdengar bukan lagi sebagai gema kekerasan, melainkan irama perjuangan menuju cita-cita.

Kini, para remaja Lewoleba dan sekitarnya tak perlu lagi menyalurkan energi mereka di jalanan. Mereka telah memiliki wadah resmi untuk menempa fisik, memoles teknik, dan menggembleng mental juara. Dari Lewoleba, asa itu kini membumbung tinggi: menanti lahirnya legenda-legenda baru tinju Indonesia dari Bumi Lembata.

Di penghujung acara peresmian, Lodjor berpesan kepada para guru SKO San Bernardino agar turut merasa memiliki sasana ini. Anak-anak didik SKO diharapkan dapat mengatur jadwal latihan secara berkala guna merawat proses pembibitan calon juara baru yang siap berkiprah di kancah nasional. ***(Robert Bala/WN-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *