Suara di Balik Kayuhan: Kisah Pak Slamet dan Sepeda Tuanya Oleh : Muhammad Haykall Mahasiswa Prodi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta (NIM : 241334011) WARTA-NUSANTARA.COM— Pukul empat pagi, ketika sebagian besar Yogyakarta masih terlelap, Slamet Riyadi sudah mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalanan Kotagede yang basah oleh embun. Di keranjang depan, tertumpuk puluhan bungkus nasi kucing hangat yang baru saja ia ambil dari dapur istrinya. Di keranjang belakang, sebuah termos besar berisi teh manis menunggu untuk dituang ke gelas-gelas pelanggan setianya. Sudah dua puluh tujuh tahun Slamet menjalani rutinitas ini. Sepedanya—yang catnya sudah mengelupas di sana-sini dan bunyi rantainya berderit setiap kali menanjak—telah menemaninya sejak awal ia merintis usaha angkringan keliling. “Sepeda ini lebih tua dari anak bungsu saya,” katanya sambil tertawa kecil, menepuk sadel yang sudah aus. Dari Kuli Bangunan ke Penjual Angkringan Kisah Slamet dimulai jauh sebelum sepeda itu ia beli. Pada awal 1990-an, ia merantau dari Wonogiri ke Yogyakarta sebagai kuli bangunan. Namun sebuah kecelakaan kerja membuat pergelangan tangan kanannya cedera permanen, memaksanya berhenti mengangkat material berat. “Waktu itu saya bingung sekali. Anak masih kecil-kecil, istri saya jualan gorengan kecil-kecilan di rumah,” kenangnya. Dari keputusasaan itulah muncul ide sederhana: menjual nasi kucing dan minuman hangat dengan sepeda, berkeliling ke titik-titik yang belum banyak angkringan menetap. Modal pertamanya hanya cukup untuk membeli sepeda bekas dan bahan-bahan seadanya. Kini, angkringan kelilingnya dikenal luas di kalangan warga sekitar, mahasiswa perantauan, hingga tukang becak yang mangkal di dekat pasar. Pelanggan yang Menjadi Keluarga Bagi banyak pelanggannya, Slamet bukan sekadar penjual makanan. Ia adalah pendengar setia, tempat berbagi cerita sebelum memulai hari. “Kalau nggak ketemu Pak Slamet pagi-pagi, rasanya ada yang kurang,” ujar Wulan, seorang mahasiswi yang hampir setiap pagi mampir untuk sarapan sebelum kuliah. “Dia selalu tanya kabar, kadang malah dia yang menyemangati saya kalau lagi banyak tugas.” Tak jarang, Slamet memberikan tambahan lauk gratis kepada pelanggan yang ia tahu sedang kesulitan, atau membiarkan mereka membayar belakangan. “Rezeki itu muter, Mas. Yang penting jangan pelit sama sesama,” katanya sederhana. Di tengah menjamurnya kedai kopi modern dan aplikasi pesan-antar makanan, angkringan sepeda seperti milik Slamet kian jarang ditemui. Banyak rekan seprofesinya beralih menjadi angkringan menetap dengan gerobak motor, atau berhenti total karena tak kuat bersaing. Namun Slamet bertahan. Ia mengaku pernah ditawari anaknya untuk membelikan motor roda tiga agar lebih ringan bekerja. Ia menolak halus. “Kalau pakai motor, saya nggak bisa lewat gang-gang sempit. Padahal di situ justru pelanggan saya yang paling setia—nenek-nenek yang jual jamu, tukang parkir yang jaga malam. Mereka butuh saya datang ke depan rumah mereka,” jelasnya. Baginya, sepeda bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol dari cara ia memaknai pekerjaan: pelan, dekat, dan penuh perhatian pada orang-orang di sekitarnya. Warisan yang Tak Ternilai Kini di usia 58 tahun, Slamet mulai memikirkan siapa yang akan meneruskan usahanya. Anak sulungnya bekerja di pabrik, sementara si bungsu masih kuliah. Meski begitu, ia tak memaksakan siapa pun untuk meneruskan jejaknya. “Yang penting bukan angkringannya yang diteruskan, tapi caranya memperlakukan orang. Itu yang saya harap menurun ke anak-anak saya,” ujarnya sambil menatap jalanan yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Ketika matahari mulai meninggi dan dagangannya nyaris habis, Slamet mengayuh pulang dengan keranjang yang jauh lebih ringan dari saat berangkat. Namun ada sesuatu yang lebih berat ia bawa pulang setiap harinya: rasa syukur, dan keyakinan bahwa pekerjaan sekecil apa pun bisa menjadi jembatan yang menghubungkan banyak hati. Bagi Slamet, setiap kayuhan sepeda bukan sekadar perjalanan mencari nafkah—melainkan perjalanan merawat kemanusiaan, satu bungkus nasi kucing dan satu percakapan hangat pada satu waktu. *** Muhammad Haykall, Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta (NIM : 241334011) Post Views: 17 Navigasi pos Menyulam Kasih Diatas Benang-benang Keriput