Pondasi Utama Peradaban Bangsa: Peringatan Bulan Bahasa Oktober 2026 Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM PENDAHULUAN WARTA-NUSANTARA.COM— Literasi bukan sekadar kemampuan mengenal huruf dan menyusun kata, melainkan kemampuan membaca dunia, memahami realitas, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab. Di tengah arus informasi yang deras saat ini, literasi menjadi pertahanan paling kuat bagi sebuah bangsa. Namun, data terkait kondisi literasi di Indonesia menunjukkan angka yang masih memprihatinkan. Berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dirilis Perpustakaan Nasional RI pada Maret 2026, skor nasional baru mencapai 40,6, yang masih tergolong dalam kategori rendah . Rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca 129 jam per tahun, jauh tertinggal dibandingkan India (352 jam) dan Amerika Serikat (357 jam) . Hasil PISA 2025 yang dirilis OECD menunjukkan skor literasi membaca siswa Indonesia berada di posisi ke-74 dari 90 negara, dengan 72,89% siswa belum mencapai kompetensi dasar membaca. Sementara itu, indeks literasi digital nasional masih stagnan di angka 44,53 . Fenomena ini terjadi di tengah derasnya arus informasi yang kadang sulit dibedakan antara fakta dan kebohongan. Oleh karena itu, peringatan Bulan Bahasa Oktober 2026 ini menjadi momen penting untuk kembali menegaskan: literasi adalah fondasi peradaban yang tidak bisa ditawar. MASALAH Generasi yang tidak terbiasa membaca dan menulis menghadapi tantangan serius. Tanpa literasi yang memadai, seseorang cenderung menerima segala informasi tanpa kemampuan mempertanyakan kebenarannya. Masalah ini terwujud dalam beberapa aspek: Pertama, lemahnya daya kritis masyarakat. Masyarakat dengan budaya membaca yang lemah mudah mempercayai kabar yang belum tentu akurat, mudah terbawa arus opini, dan mudah diarahkan oleh kepentingan pihak lain . Ketika pengetahuan tidak dihargai, keputusan sering kali diambil berdasarkan emosi dan suara yang paling keras, bukan berdasarkan pemahaman yang benar. Kedua, kesenjangan yang melebar. Kemampuan pemahaman tekstual siswa Indonesia baru mencapai 49,21%, sedangkan kemampuan pemahaman inferensial hanya 43,21% . Ini berarti banyak anak bangsa belum mampu menarik kesimpulan, memprediksi, atau menginterpretasikan makna secara mendalam. Kondisi ini memperlebar jarak antara mereka yang memiliki akses pengetahuan dan mereka yang tidak. Ketiga, bangsa yang rendah literasinya kehilangan daya saing. Di era pengetahuan, kemampuan menyerap informasi baru adalah kunci kemajuan. Tanpa budaya membaca dan menulis yang kuat, sebuah bangsa akan tertatih-tatih dalam menghadapi perubahan zaman . PEMBAHASAN Hakikat Membaca dan Menulis Membaca bukan sekadar mengenal huruf, dan menulis bukan sekadar menyusun kata. Keduanya adalah sarana melatih akal budi untuk berpikir secara mendalam, memahami makna, dan menyampaikan gagasan dengan penuh tanggung jawab. Frank McCourt, pendidik dan penulis, menyatakan: “Literasi bukan sekadar kemampuan mengerti tulisan di atas kertas, melainkan kemampuan membaca dunia; memahami konteks, mempertanyakan narasi, dan menemukan kebenaran untuk diri sendiri.” Literasi membekali seseorang kemampuan membedakan fakta dan kebohongan, informasi dan propaganda, nasihat dan manipulasi . Orang yang gemar membaca memiliki sudut pandang yang lebih luas, karena ia belajar dari pengalaman, pemikiran, dan pengetahuan yang melampaui kehidupannya sendiri. Sementara itu, Budi Widianarko, ahli filsafat bahasa, menjelaskan: “Menulis adalah berpikir yang tertata. Jika kita tidak terbiasa menulis, pikiran kita akan selalu berantakan, mudah diombang-ambing, dan mudah dipengaruhi oleh gagasan siapa pun yang terdengar paling meyakinkan.” Menulis mengajarkan seseorang untuk merapikan pikiran, menyusun alasan yang logis, dan berani mempertanggungjawabkan apa yang disampaikannya . Dampak Literasi bagi Bangsa Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, menegaskan: “Anak-anak bangsa harus dididik sedemikian rupa sehingga tidak hanya pandai membaca dan menulis, tetapi mampu berpikir secara merdeka. Kemerdekaan berpikir adalah dasar dari kemerdekaan sejati suatu bangsa.” Masyarakat yang tidak memiliki budaya membaca akan mudah dipenuhi prasangka, berita bohong, dan perdebatan yang tidak berdasar . Sebaliknya, ketika literasi tumbuh, tumbuh pula kemampuan untuk menilai informasi, membedakan yang benar dan yang salah, serta mengambil keputusan yang bijaksana. Najwa Shihab, jurnalis dan pegiat literasi, menyampaikan: “Literasi adalah pertahanan paling kuat bagi sebuah bangsa. Ketika seseorang berhenti membaca, ia mulai mempercayai apa pun yang didengarnya.” Di tengah derasnya arus informasi saat ini, kemampuan literasi menjadi tameng yang melindungi kita dari penyesatan . Namun, perlu dipahami bahwa akses teknologi saja tidak cukup tanpa dibarengi peningkatan kemampuan literasi . Membangun peradaban tidak cukup hanya dengan membangun gedung-gedung, memperlebar jalan raya, atau menciptakan teknologi canggih. Peradaban yang kuat harus dimulai dari manusia yang mampu membaca dunia, berpikir dengan jernih, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab . KESIMPULAN Bangsa yang gemar membaca akan lebih sulit dibodohi; bangsa yang terbiasa berpikir akan lebih sulit dikendalikan; dan bangsa yang memiliki budaya literasi yang kuat akan memegang kendali atas masa depannya sendiri. Rendahnya tingkat literasi bukan sekadar masalah pendidikan, tetapi masalah keperadaban yang berdampak pada kualitas berpikir, kesejahteraan masyarakat, dan daya saing bangsa . Oleh karena itu, memperkuat budaya membaca dan menulis adalah tugas bersama keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Sebagaimana tercantum dalam tujuan pembangunan berkelanjutan UNESCO, literasi adalah kunci untuk melepaskan seseorang dari belenggu kebodohan dan ketertinggalan . Semoga peringatan Bulan Bahasa Oktober 2026 ini menjadi awal langkah nyata kita menumbuhkan budaya literasi di mana pun kita berada. Data Penulis: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd.CPIM, Lahir di Ende, 27 April 1970. Adalah ASN di Kantor Kementerian Agam Kabupaten Lembata, NTT. Sedang merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif sebagai “Penakar Literasi” dalam komunitas penulis Lembata. Aktif menulis opini/headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@Rifaiaprian) dan Istagram (@Rifai_mukin) Post Views: 20 Navigasi pos Hakim MK Dapat diproses Hukum Jika Mengabulkan Gugatan Deny Indrayana Membaca Putusan MK dari Aspek hukum Murni ( critical thinking untuk Deni Indrayana Cs)