Kotbah Minggu Biasa XXXI : ”Engkau Tidak Jauh Dari Kerajaan Allah!”

Ul.6:2-6; Ibr. 7:23-28; Mrk. 12:28b-34

Oleh : Germanus S. Atawuwur

Alumnus STFK Ledalero

WARTA-NUSANTARA.COM-Bapa, ibu, saudara, saudari, hari ini kita berjumpa dengan orang-orang saduki dan seorang farisi yang tampil untuk mencobai Yesus:” Hukum manakah yang paling utama?” Terhadap pertanyaan itu, Yesus menjawab:” Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”


Jawaban Yesus terinspirasi dari kitab ulangan yang kita dengar dalam bacaan I tadi:” Dengarlah, hai orang Israel : TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa ! Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.”

Kutipan jawaban Yesus itu sebenarnya adalah Syahadat atau pengakuan iman orang Israel yang dikenal dengan nama Shema Yisrael dalam bahasa Ibrani adalah sebuah doa dari Taurat yang digunakan sebagai bagian utama dari Doa Yahudi. Doa ini didaraskan pada malam dan pagi hari. Karena itu Shema Yisrael dipandang sebagai doa yang paling penting di dalam agama Yahudi dan penyebutannya dua kali dalam sehari adalah sebuah mitzvah atau perintah rohani. Karena sebagai perintah maka patutlah untuk didengarkan. Dalam konteks itu, sehma Yisrael mengandung makna taat. Taat/ Ketaatan adalah sikap tunduk kepada wewenang, menjalankan apa yang diperintahkan, mematuhi apa yang dituntut, atau menjauhkan diri dari apa yang dilarang. Jadi Shema Yisrael atau disebut sebagai Syahadat (Credo) Israel berisi kewajiban yang harus ditaati dan dipatuhi.

Credo Israel mana yang harus dipatuhi? Tidak lain adalah TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa ! Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Credo ini wajib ditaati. Harus dipatuhi. Karena itu Musa dalam Pentateukh menulis:” Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.”

Inti dari shema Yisrael ini adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati dan dengan akal budi.” Artinya, mencintai Allah sebagai satu-satunya Allah yang Esa. Jangan diduai. Apalagi diingkari. Karena itulah maka mengapa syahadat itu diucapkan pada setiap pagi dan malam hari, teristimewa pada setiap hari Senin, Kamis, dan Sabtu (Sabat), di Sinagoga. Shema ini adalah suatu pengakuan iman yang diucapkan di mulut dan diperdengarkan kepada satu sama lainnya. Orang yang mengucapkan dan mendengarkan shema itu, wajib mematuhinya dan harus tunduk pada perintah. Perintah untuk selalu mengakui monoteisme Allah, sebagai satu-satunya Allah yang menyelenggarakan hidup manusia dan wajib taat pada hukum-hukum Tuhan yg termuat dalam 10 Perintah Allah. (Ulangan 6:4-9, 11:13-21, dan Bilangan 15:37-41).


Penggalan dalam ayat Ul 6:5-9; 11:13-21dan Bil 15:37-41 — mengajarkan monoteisme; doktrin ini menegaskan bahwa Allah adalah Allah yang esa dan benar, bukan sekelompok dewa, yang berbeda-beda, dan mahakuasa di antara semua dewa dan roh di dunia ini (Kel 15:11). Allah ini harus dijadikan satu-satunya sasaran kasih dan ketaatan Israel (ayat Ul 6:4-5). Aspek “keesaan” ini merupakan dasar dari larangan untuk menyembah dewa lainnya (Kel 20:3). Ayat ini tidak bertentangan dengan penyataan Allah Tritunggal dalam Perjanjian Baru yang sekalipun satu hakikat, dimanifestasikan sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dengan mengucapkan dan menaati syahadat iman Israel sebetulnya mau menyadarkan orang-orang Israel bahwa Allah mendambakan persekutuan dengan umat-Nya dan memberikan mereka satu perintah yang sangat perlu untuk mengikat mereka kepada-Nya.
Dambaan persekutuan dengan umat-Nya ini diharapkan agar orang-orang Yahudi harus berkenaan untuk menanggapi kasih-Nya dengan kasih, rasa bersyukur, dan kesetiaan mereka kepada-Nya. Karena itulah maka , mereka akan bergembira karena Allah yang Esa itu ada bersama dalam hubungan perjanjian. Ketaatan sejati kepada Allah dan perintah-perintah-Nya dimungkinkan hanya apabila itu bersumber pada iman dan kasih kepada Allah. Bila ketaatan sejati itu dimungkinkan oleh karena perintah Tuhan dalam syahadat Yisrael tadi, maka ketaatan dan kesetiaan itu harus diwujudnyatakan pada perintah yang kedua untuk mengasihi sesama manusia (bd. Im 19:18).

Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, berbicara tentang pengakuan mengasihi Allah yang Esa, harus terwujud dalam perintah utama berikutnya yakni:” Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Sampai di sinilah, bila kita jujur, kita malah lebih mudah mencintai Tuhan dengan segenap hati dan akal budi daripada mencintai sesama; apalagi sesama itu adalah musuh kita. Mencintai seseorang yang adalah “musuh” atau “lawan” dalam hidup kita adalah sesuatu yang berat. Walau berat harus tetap diperjuangkan dengan keras. Karena pada akhirnya kita dapat berdamai dengan diri sendiri untuk mencintai “musuh” kita adalah maksud terdalam dari rumusan perintah tadi:” mencintai dengan segenap hati, mengasihi dengan segenap jiwa, segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan.”


Apabila pada akhirnya kita berhasil mengasihi “musuh” sebagaimana kita mengasihi diri sendiri, maka perintah utama untuk mengasihi Tuhan sebagai Tuhan yang Esa dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi telah mencapai kepenuhannya. Perintah utama ini harus dilaksanakan seiring dan sejalan. Bila mencintai Tuhan tetapi memusuhi atau tidak mengampuni dan mengasihi sesama, maka cumalah kata-kata kosong, ibarat canang yang bergemirincing.

Dalam kehidupan kita, kita setiap minggu, bahkan ada yang setiap hari mengasihi Tuhan dengan mengikuti Perayaan Ekaristi. Ia menimbah kekuatan untuk selalu berada bersama Tuhan. Dengan itu menjadi gampang untuk mencintai Tuhan. Tetapi di lain pihak, kita berada dalam interaksi sosial dengan sesama. Dalam kebersamaan itu, kita menuai sukacita dan kebahagiaan karena merasa diterima oleh orang lain. Namun tak jarang, ada pula orang-orang yang tidak kita sukai, bahkan membenci mereka. Maka orang-orang ini adalah batu ujian bagi kita, apakah kita dapat mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi dan dengan segenap jiwa raga dan bersamaan dengan itu pula kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri? Bila kita berhasil mencintai mereka maka hari ini, kata-kata Yesus berlaku untuk kita juga:” Engkau Tidak Jauh Dari Kerajaan Allah!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *