Analisis Puisi “Lelaki Yang” Melihat Laut : Eulogi Untuk F.X. Siswadi” Dalam Perspektif Formalisme Rusia Oleh : Chrisna Ditya Danuarta Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma WARTA-NUSANTARA.COM— Puisi sebagai karya sastra tidak hanya menyampaikan makna melalui isi, tetapi juga melalui cara bahasa dibentuk dan diolah secara estetik. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang memiliki fungsi estetik paling baik dan dominan. Hal ini terbukti bahwa puisi memiliki arti dan makna yang begitu indah. Keindahan puisi dapat diperoleh dari aktivitas pemadatan, yakni mengemukakan sesuatu secara garis besarnya saja, sehingga puisi memiliki esensi dan menjadi ekspresi esensi. Ekspresi yang disampaikan melalui kiasan merupakan ekspresi tidak langsung. Ketaklangsungan ekspresi dalam puisi disebabkan oleh penggantian arti, penyimpanan arti, dan penciptaan arti (Pradopo, 2009: 315–318). Dalam kajian sastra modern, pendekatan Formalisme Rusia menempatkan unsur kebahasaan, teknik pengungkapan, serta bentuk teks sebagai pusat analisis. Salah satu konsep penting dalam teori ini adalah defamiliarisasi, yaitu teknik membuat sesuatu yang biasa menjadi tampak asing sehingga pembaca terdorong untuk melihat pengalaman secara lebih mendalam. Defamiliarisasi mampu mengubah pandangan yang tak lazim menjadi lazim, bahkan dapat mengubah pandangan lama menjadi hal baru sehingga pembaca membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami kata-kata tersebut. Defamiliarisasi dapat menggunakan beberapa teknik, yaitu dengan menunda, menyisipi, memperlambat, memperpanjang, ataupun mengulur-ulur cerita sehingga dapat meningkatkan ketertarikan pembaca (Emsir, 2017). Beberapa penelitian sebelumnya mengenai puisi dalam perspektif Formalisme Rusia umumnya menitikberatkan pada analisis gaya bahasa, simbol, dan struktur bunyi sebagai pembangun efek estetik. Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk menunjukkan bagaimana makna puisi tidak hanya berasal dari tema, tetapi juga dari teknik penyampaiannya. Namun, sebagian penelitian masih lebih banyak membahas unsur bentuk secara umum dan belum secara mendalam mengaitkan teknik defamiliarisasi dengan proses pengungkapan makna kematian, perjalanan hidup, dan kerinduan dalam puisi eulogi. Oleh karena itu, analisis terhadap puisi “Lelaki yang Melihat Laut” menjadi penting karena puisi ini memanfaatkan simbol-simbol pelayaran, laut, dan kepulangan secara kompleks sehingga menghadirkan pengalaman estetik yang khas bagi pembaca. Selain itu, puisi ini juga memperlihatkan bagaimana pengolahan diksi, pengulangan, pertanyaan retoris, dan metafora dapat membangun suasana kontemplatif mengenai kehidupan dan kematian. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis puisi “Lelaki yang Melihat Laut” dalam perspektif Formalisme Rusia dengan menitikberatkan pada teknik defamiliarisasi, fungsi puitik, serta efek estetik yang membangun keseluruhan makna puisi. Formalisme Rusia muncul sebagai reaksi terhadap pendekatan sastra yang terlalu menekankan biografi pengarang dan konteks historis-sosial. Para formalis berpendapat bahwa tugas kritik sastra adalah mengidentifikasi ciri-ciri yang membuat sebuah teks bersifat sastra—atau yang mereka sebut sebagai literaturnost. Taum (1997) menegaskan bahwa Formalisme Rusia merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan teori sastra modern yang meletakkan dasar bagi analisis struktural teks sastra secara sistematis dan ilmiah. Menurut Manshur (2019), Formalisme Rusia memandang karya sastra sebagai struktur otonom yang dibangun melalui teknik-teknik bahasa tertentu. Karya sastra bukan cermin realitas sosial, melainkan sebuah konstruksi artistik yang memiliki hukum-hukumnya sendiri. Pandangan ini kemudian berkembang dan memengaruhi berbagai aliran teori sastra berikutnya, termasuk Strukturalisme Perancis dan Semiotika. Analisis Formalisme Rusia terhadap puisi “Lelaki yang Melihat Laut: Eulogi untuk F.X. Siswadi” menghasilkan beberapa temuan penting yang saling berkaitan. Pertama, puisi ini secara sistematis mengoperasikan defamiliarisasi terhadap tema kematian melalui sistem metafora bahari yang konsisten dan penggunaan frasa-frasa yang memaksa pembaca untuk memperlambat dan memperbarui persepsinya. Kematian tidak pernah disebut secara langsung; ia selalu hadir melalui kiasan kepulangan pelaut ke rumah—sebuah pilihan yang secara formal berhasil menghindari klise genre eulogi. Kedua, struktur sjuzet puisi ini bersifat sirkuler: dibingkai oleh dua bait yang saling bermiror namun mengalami pergeseran leksikal yang signifikan, sementara bait-bait tengah membangun narasi eksistensial tentang kehidupan yang aktif dan kerinduan yang manusiawi. Pengolahan waktu melalui bentuk verba yang tidak bermarkah menciptakan efek universalisasi yang mengangkat peristiwa individual ke tataran arketipe. Ketiga, motif-motif dalam puisi ini tersusun dalam tiga klaster bahari, atmosferik, dan domestik yang berinteraksi secara koheren dan membentuk gerakan semantik yang paralel dengan struktur sjuzet. Distribusi motif ini bukan bersifat acak, melainkan terstruktur secara formal untuk menciptakan koherensi tematik dan estetik. Keempat, dominasi fungsi puitik terwujud melalui paralelisme sintetik, imajeri multisensori, dan ambiguitas produktif khususnya pada frasa “rumah bundar” yang menjadi pusat gravitasi semantik seluruh teks. Keseluruhan piranti formal ini bekerja bersama untuk menghadirkan eulogi yang alih-alih menginspirasi dukacita, mengajak pembaca merayakan kepulangan sebagai bagian dari eksistensi manusia yang bermakna. *** Chrisna Ditya Danuarta, Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Post Views: 23 Navigasi pos Menjadi Asing di Tanah Sendiri : Interseksionalitas terhadap Tokoh Nyai Dasima Defamiliarisasi Perjuangan: Analisis Formalisme Rusia pada Puisi ‘Sang Pencari Lobster’ Karya Yoseph Yapi Taum