Dewan Paroki Santu Arnoldus Janssen Waikomo Siap Terima 57 Frater Ledalero

LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM–Pastor Paroki Santu Arnoldus Janssen Waikomo, Pater Rein Kleden, SVD mengungkapkan, sebanyak 57 orang frater dari Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Keuskupan Maumere, Kabupaten Sikka akan mengunjungi Paroki SVD yakni Paroki SAJ Waikomo, Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka pada Hari Senin, 21 April 2025.

Pastor Paroki SAJW, Pater Rein Kleden, selaku Ketua Umum DPP SAJW SVD menjelaskan hal itu dalam rapat DPP SAJW pada Hari Sabtu, 12 April 2025. Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua Pelaksana DPP SAJW, Lorens Laba Ofong didamping Ketua Seksi Usaha Dana, Yohanes Tifaona. Hadir para Ketua Stasi dan Ketua Lingkungan dalam wilayah Paroku SAJ Waikomo.

Mengawali sambutannya, Pater Rein mengatakan, selama ini kita senua sudah bekerja maksimal menyiapkan perayaan Pekan Suci diatur sesuai pembagian. Kita sudah pula melakukan Katakese Orang Dewasa (Katorde), namun lembaran evaluasi Katorde hendaknya segera masuk. Selanjutnya kami bawa ke Larantuka untuk hadir misa Kamis Putih bersama Uskup Larantuka sekaligus mengucapkan janji pembaruan imamat.

Pertemuan kita ini, lanjut Pater Rein Kleden, ada hal penting yang perlu disampaikan yakni kita semua tahu adanya karya misi svd di Lembata. Sehingga untuk merayakam 125 tahun berdurinya SVD di Lembata dan tahun Yubelium, maka frater-frater dari Ledaloro akan mengunjungi seluruh paroki yang menjadi tempat berkarya misi SVD. Yakni, Paroki Ritaebang, Paroki Lewolere, Paroki Hokeng dan Paroki SAJ Waikomo. Tercatat ada 96 Frater dari IKTN Ledalero, namun frater yang bertugas ke Lembata sebanyak 57 orang.

“Sebanyak 57 frater akan mengunjungi paroki kita. Para Frater ini melakukan “Live in”, tinggal dirumah kita sejak tanggal 21 April sampai tanggal 27 April 2025. Mari Kita bersama bicara tentang penyambutan dan pelepasan”, ungkap Pater Rein.

Pater Rein Kleden juga mengerangkan, selain penerimaan frater Ledalero, tanggal 1 Mei 2025 ada kegiatan seminar/Talkshow dari Yayasan Niko Beekker dengan tema “Deteksi dan PencegahanBunuh Diri Remajadan Strategi Membangun Generasi-Z yang Tangguh”. Peserta diharapkan hadir orangtua dan para siswa atau generasi muda. Ini momentum bagus sebagai refleksi atas kasus bunuh diri bunuh diri di Lembata dengan peserta sebanyak 200 orang.

Ketua Pelaksana DPP SAJ Waikomo, Lorens Laba Ofong selaku pemimpin rapat lebih lanjut menerangkan, meski ditengah kesibukan tugas kita semua menyambut Hari Raya Paskah dan Pekan Suci dimana semua Lingungan dan Stasi terlibat sesuai peran dan tugas masing-masing, namun masih ada sebuah agenda lagi yakni kita semua harus siap menerima kehadiran para frater dari IFTK Ledalero sebanyak 57 orang.

Rencana semula, jelas Lorens, ada sebanyak 59 frater. Namun ada dua frater berhalangan sehingga kita hanya terima 57 frater. Para frater tersebut tiba di Lewoleba pada hari Senin, 21 April 2025 siang hari di Pelabuhan Laut Lewoleba, Lembata.

“Para frater kita sambt di Pelabuhan Lewoleba melibatkan Lingkungan dan Stasi dengan kendaraan yang sudah disiapkan selanjutnya pawai dalam kota. Hal ini dilakukan juga sekaligus memaknai promosi panggilan hidup membeiara”, ujar Lorens Ofong.

Sebagaimana disepakati dalam rapat, terang Lorens, setelah pawai akan disambut/diterima di Gerbang Paroki SAJ Waikomo. Diawali dengan Sapaan Adat dalam bahasa daerah oleh Tokoh Adat Mikhael Bala dari Stasi Lite. Kemudian dilakukan pengalungan selendang oleh Pastor Paroki SAJW, Pater Rein Kleden, Pastor Rekan, Pater Eman Wero, SVD, Ketua Pelaksana DPP SAJW, Lores Ofong dan Wakil Ketua DPP SAJ Waikomo.

Menurut Lorens, setelah penerimaan para frater dilanjutkan makan bersama yang telah disiapkan oleh Paroki dan lingkungan yang sudah ditentukan. Kemudian, dilanjutkan dengan pembangian frater untuk menginap di Lingkungan dan stasi untuk melakukan berbagai kegiatan sebagaimana telah dirancang.

Sedangkan Pastor Rekan, Pater Eman Wero, SVD pada kesempatan rapat tersebut menjelaskan makna dan urgensi kurjungan para frater di Paroki SVD Waikomo. Pada Prinsipnya, para frater itu melakukan “Live In”. Artinya, mereka harus tinggal bersama kita. Para frater tidak masalah karena mereka datang sudah menyiapkan diri baik kegiatan semasa Live In maupun tanggungan misa dan koor.

“Mereka tidak latihan lagi. Tinggal saja kita sepakat mereka dibagi tinggal di lingkungan dan stasi. Stasi, Lingkungan dan Paroki mengatusnya secara baik. Sedangkan kegiatannya dilapangan sesuai kebutuhan umat bisa dikomunikasikan”, ujar Pater Eman. *** (WN-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *