Khotbah Minggu Palma/C (2025) : MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

Oleh : Germanus S. Atawuwur, Alunmus STFK Ledalero

Yesus Masuk Yerusalam Dengan Penuh Kemenangan
Yes. 50:4-7; Flp. 2:6-11. Luk. 22:14-23:56

WARTA-NUSANTARA.COM–Bapa, ibu, saudara, saudari yang terkasih, setelah kita melewati lima minggu masa prapaskah, hari ini kita mengenangkan Sengsara Tuhan. Kita menyebutnya dengan Minggu Palma atau Minggu Palem, atau Hari Raya Pondok Daun.

Dalam bacaan injil Lukas, Yesus memasuki Yerusalem mulai dari Bukit Zaitun. Dari Bukit Zaitun. Oleh Nicholas Thomas Wright, seorang sarjana Perjanjian Baru terkemuka dan pensiunan uskup Gereja Anglikan asal Inggris. mengatakan bahwa Yesus masuk Yerusalem melalui Gerbang Emas.Gerbang itu terletak di bagian utara tembok timur Bait Suci . Dalam kepercayaan Yahudi, gerbang ini disebut ‘Gerbang Belas Kasih’ ( Sha’ar HaRakhamim ), dan dianggap sebagai tempat dari mana Mesias akan masuk pada akhir zaman. Menurut tradisi Yahudi , Shekhinah (Kehadiran Ilahi) biasa muncul melalui Gerbang timur, dan akan muncul lagi ketika Yang Diurapi (Mesias) datang. Jadi, Gerbang ini diyakini sebagai tempat dari mana Kristus memasuki Yerusalem pada Minggu Palem, sehingga menyiratkan status mesianisnya sendiri.

Dia datang dengan menunggangi seekor keledai muda. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus datang sebagai Juruselamat yang damai, lemah-lembut dan “rendah hati”, bukan sebagai seorang penakluk di atas kuda perang (Zak. 9:9–10).

Yesus tidak menunggang kuda. Karena Kuda adalah simbol dari kekuatan dan keperkasaan dan memiliki asosiasi yang kuat dengan peperangan (bdk. Yes. 31:1–3; 1Raj. 4:26).
Orang-orang Israel menyambut Yesus masuk kota Yerusalem dengan menggunakan daun-daun palem. Hal ini biasa mereka gunakan di Bait Allah dalam perayaan Pondok Daun. Daun Palma ini mereka sudah menyiapkan dari rumah. Ketika mereka bertemu dengan Yesus mereka melambai-lambaikan daun-daun palem tersebut. Selain daun palma mereka juga membentangkan pakaiannya di jalan, sambil menyanyikan Hosana Putra Daud.

Seruan hosanna (disebutkan oleh tiga penginjil kecuali Lukas). Kata itu berasal dari bahasa Ibrani hosia-na , yang berarti “selamatkan kami” atau “selamatkan sekarang”. Seruan hosanna kemudian dilanjutkan dengan seruan ‘Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan, yang dinyatakan oleh keempat penginjil, kecuali Lukas mengganti ‘Dia’ dengan ‘Raja’, yang merupakan kutipan dari Mazmur 118:25-26. Kutipan Mazmur ini merupakan bagian dari Hallel perayaan tradisional yang dinyanyikan setiap pagi oleh paduan suara bait suci selama Hari Raya Pondok Daun.

Teriakan hosanna yang diserukan oleh orang-orang Yahudi, adalah teriakan kemendesakan kepada Yesus agar Yesus segera menyelamatkan bangsa Yahudi dari penjajahan Romawi. Bahwa teriakan hosanna untuk mengelu-elukan Yesus masuk kota Yerusalem itu adalah harapan besar kepada Yesus, Raja Agung:”Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan,” Raja Agung yang Diberkati yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan itu adalah Raja Damai sebagaimana disimbolkan dengan daun palma.

Kutipan dari Zakharia 9:9 sebagaimana sudah disebutkan di atas, menyebutkan bahwa raja yang datang dengan seekor keledai muda adalah symbol raja damai yang lemah lembut. Sehingga hal ini semakin menegaskan bahwa wajah Mesias yang datang tidaklah sesuai dengan keinginan orang-orang Yahudi. Keinginan orang Yahudi adalah menjadikan Yesus sebagai raja politis, panglima perang yang berperang untuk mengusir orang Romawi yang sedang menjajah bangsa Yahudi. Dan, ketika ternyata harapan mereka sirna, pada akhirnya mereka berteriak:” Salibkan! Salibkan Dia,” sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pasio, – Kisah Sengsara Tuhan – hari ini.

Jadi, Yesus Sang Raja yang disambut dengan sorak sorai dan gegap gempita bukanlah pemimpin politis – raja orang Yahudi – yang berperang melawan musuh-musuh Israel melainkan pemimpin spiritual, raja damai yang berperang melawan dosa untuk menyelamatkan umat manusia. Maka sambutan Yesus di gerbang Yerusalem dengan sukacita juga bermakna eskatologis, menunjuk pada penghormatan kepada Yesus sebagai seorang pemenang yang telah mengalahkan dosa manusia.

Lukas menggunakan perjalananYesus ke Yerusalem untuk mengajarkan kita tentang jalan kekristenan. Perjalananan itu adalah sebuah rute yang berliku, dari penderitaan menuju kemuliaan, dari Getzemani menuju Golgotha. Dari Kalvari menuju kebangkitan. Rute ini bagi Yesus adalah jalan yang dilewati-Nya sebelum dijemput oleh Bapa-Nya dan bagi gereja yang mengikuti jejak-Nya.

Hal ini dimaksudkan Allah sejak semula agar para pengikut Kristus berpartisipasi dalam kehidupan-Nya sendiri dan dalam kemuliaan surgawi (bdk. Ibr. 2:10; Yoh. 17:22-23).
Bapa, ibu, saudara, saudari, hari ini kita merayakan Hari Minggu Palma. Kita menyambut Yesus masuk Kota Yerusalem dengan nyanyian meriah:

“Di kala Yesus disambut di gerbang Yerusalem,
Umat bagai lautan dengan palma di tangan
Yerusalem-Yerusalem, lihatlah rajamu,
Hosanna terpujilah Kristus raja Maha Jaya!”
Hari ini, sadar atau tidak sadar kita berkidung penuh semangat mengulangi ucapan orang-orang Yahudi:” Hosana terpujilah Kristus Raja Maha Jaya,” 2025 tahun silam. Bila kita mengulangi kata itu, artinya kita juga berteriak kepada Yesus:” Yesus Raja Damai yang lemah lembut, selamatkanlah kami. Selamatkanlah kami sekarang ini.”

Pertanyaannya adalah Tuhan menyelamatkan kita dari apa? Tentu dari segala noda dosa yang masih terus ada di dalam diri kita. Dosa keangkuhan, iri hati, dendam kesumat. Kita teriak minta tolong agar Tuhan bebaskan kita dari kerkah bathin, dari kesulitan-kesulitan yang menghimpit dan dari alienasi sosial. Kita minta hari ini dan seterusnya, Tuhan jadi kita sebagai pemenang kehidupan. Sebagaimana Yesus masuk Yerusalem penuh kemenangan, demikian pun kita. Karena itu, mari kita berziarah penuh kemenangan menuju sukacita Tri Hari Suci. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *