TIDAK CUKUP BERANI
(Ide Inspiratif Homili Jumat Agung 3 April 2026, Injil Yohanes Yoh 18:1–19:42)
Oleh : Robert Bala
WARTA-NUSANTARA.COM– Setiap kali nama Pilatus kita dengar, bayangan kita selalu mengarah kepada penguasa yang pandai mencuci tangan. Cuci tangan demi membebaskan diri dari tanggungjawab.



Tetapi mestinya kita lebih sabar dan teliti melihatnya. Pilatus bukan orang bodoh. Ia tahu banyak hal. Ia melihat. Ia mendengar. Ia bahkan berkata, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.” Semua kemampuan intelektual digunakan dan ia sampai pada kesimpulan yang tegas bahwa tidak ditemu i kesalahan apapun padaNya.
Tetapi pengetahuan tidak selalu melahirkan keberanian. Ia tahu yang benar—tetapi tidak cukup berani untuk berdiri di pihak kebenaran itu.


Ia memilih aman. Pilatus seperti banyak dari kita. Kita tidak selalu jahat. Kita hanya… tidak cukup berani.
Kita hidup di dunia yang sering kali tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang berani. Kita tahu mana yang benar dalam keluarga, dalam komunitas, dalam masyarakat. Kita tahu ketika seseorang diperlakukan tidak adil. Kita tahu ketika kebohongan diputar menjadi kebenaran. Kita tahu ketika yang lemah diinjak, yang kecil disingkirkan.



Tetapi sering kali kita diam. Kita menonton. Kita berkata dalam hati, “Ini bukan urusanku.” Dan perlahan, tanpa sadar, kita mulai seperti Pilatus—mencuci tangan, bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak cukup berani.
Ada ironi lain yang terjadi dalam diri orang pintar. Di depan sebuah fakta mereka masih mau berargumentasi seperti yang dilakukan PIlatus. Ia bertanya, “Apakah kebenaran itu?” Padahal Kebenaran sedang berdiri tepat di depannya. Yesus Kristus tidak berteriak, tidak memaksa, tidak membela diri dengan kekerasan. Ia hanya hadir—tenang, diam, tetapi penuh wibawa.
Kebenaran sering kali memang tidak berisik. Ia tidak selalu menang dalam sorak-sorai. Ia bahkan bisa tampak kalah. Disalibkan. Dihina. Dibuang. Tetapi Injil hari ini mengingatkan kita pada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: kebenaran bisa disalibkan, tetapi tidak pernah mati.



Salib bukan tanda kekalahan. Salib adalah bukti bahwa kasih dan kebenaran bisa berjalan sampai titik paling jauh—bahkan ketika dunia menolaknya.
Pertanyaannya bukan lagi tentang Pilatus. Pertanyaannya tentang kita. Di mana posisi kita ketika kebenaran sedang disalibkan? Apakah kita berdiri bersama kebenaran, walau harus kehilangan kenyamanan? Ataukah kita memilih aman, menjaga citra, dan berkata, “Saya tidak tahu apa-apa”?

Jumat Agung bukan hanya tentang penderitaan Kristus. Ini juga tentang keberanian yang hilang dalam diri manusia. Tentang momen-momen ketika kita tahu yang benar, tetapi tidak melakukannya.
Dan mungkin yang paling menyakitkan: dosa kita bukan selalu karena kita melakukan yang jahat, tetapi karena kita tidak melakukan yang benar. Namun kisah ini tidak berhenti pada kegagalan manusia. Di tengah ketidakberanian Pilatus, di tengah pengkhianatan, penyangkalan, dan teriakan massa, Yesus Kristus tetap setia. Ia tidak mundur. Ia tidak memilih jalan aman. Ia tidak mencuci tangan-Nya.
Ia memilih salib. Ia memilih kasih. Ia memilih kebenaran sampai akhir. Dan dari salib itu, Ia seakan berkata kepada kita: “Beranikah engkau?”
Ada sebuah kisah sederhana. Seorang anak sekolah melihat temannya dibully setiap hari. Diejek, didorong, dipermalukan di depan kelas. Banyak yang melihat. Banyak yang tahu. Tapi tidak ada yang berbuat apa-apa. Semua memilih diam.
Suatu hari, ketika ejekan itu kembali terjadi, anak ini berdiri. Tangannya gemetar. Suaranya tidak keras. Ia hanya berkata, “Sudah. Hentikan. Itu tidak benar.” Semua terdiam. Anak-anak yang biasanya berisik tiba-tiba sunyi. Tidak ada perlawanan besar. Tidak ada tepuk tangan. Tetapi sejak hari itu, ejekan itu berhenti.
Ketika ditanya mengapa ia berani, anak itu menjawab sederhana, “Saya juga takut. Tapi kalau saya diam, berarti saya ikut salah.” Kadang, keberanian bukan soal tidak takut. Keberanian adalah memilih untuk tetap melakukan yang benar—meskipun kita takut. Jumat Agung mengajak kita belajar satu hal yang sederhana namun sulit: jangan hanya tahu kebenaran. Beranilah berpihak.
Robert Bala. Penulis buku BERBUAH DI USIA SENJA Penerbit Kanisius Jogyakarta Cetakan ke-3.












